The Importance of Paper for Sustainable Development

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Apakah ilmu hanya akan di simpan di dalam otak tanpa menyimpannya di suatu kertas ? apakah pensil dan tinta harus di lenyapkan keberadaannya jika kertas sudah tidak lagi di butuhkan ? dan apakah tinta dan printer harus di lupakan karena tidak bergunanya kertas ?

Kertas
Apalah arti suatu ilmu tanpa secuil kertas, apalah arti sebatang pensil tanpa secorek kertas, apalah arti sebotol tinta tanpa selembar kertas dan apalah arti printer tanpa adanya kertas. Kertas, mungkin tidak terlalu berarti bagi manusia penggila gadget, internet dan segala bentuk dunia social media. Kenapa ?
Informasi sudah bisa tersebar melalui media sosial, kita bisa mengupdate informasi melalui internet, twitter, instagram atau bahkan facebook.

Mark zuckeberg memudahkan kita bertukar informasi dan menyampakan informasi bahkan suatu ilmu melalui facebook, dan itu tanpa menggunakan kertas serta lebih mudah di akses. Siswa atau bahkan mahasiswa tidak perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya untuk membeli buku atau menggandakan buku untuk keperluan sekolah karena sudah ada E-book di Internet, jadi bisa lebih hemat kertas.

Berita-berita tentang pemerintah, selebriti, tindakan kriminal dan yang lain lebih mudah tersebar melalui televisi, internet dan segala macam bentuk sosial media, jadi untuk apa boros kertas hanya untuk mencetak berita-berita di koran ? toh tidak banyak yang berlangganan koran. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam hal hemat pengeluaran dan biaya kertas kan ? toh kalau sudah tidaak terpakai kertasnya bisa langsung di buang menjadi sampah.

Apa semua uraian di atas itu benar ?

Hai kawan, sadarlah, ingatlah sebelum kalian mengenal yang namanya gadget, sebelum kalian mengenal apa itu instagram, twitter, line, whatsapp dan facebook… apa yang kalian baca sebelumnya ? media apa yang kalian gunakan untuk menulis ? ketika kalian hendak merancang sesuatu apa bisa kalian langsung tulis dan share dengan gadget ? atau mungkin kalian membuat kerangka acuan apapun di tembok ?

E-book, Google, Journal electric, Google Schoolar dan masih banyak yang lain. Alat tersebut memang sangat sangat penting sekali dalam era sekarang, dimana kids jaman now yang kebanyakan makan micin selalu membutuhkannya. Mengerjakan tugas sekolah, PR, informasi mengenai kesehatan, selebritis, bahkan ketika sedih putus dengan pacar yang di cari pertama kali malah gadget. Browsing tentang materi sekolah atau perkuliahan dari internet, informasi kesehatan, kecantikan, selebritis dari berbagai macam sosial media yang ada. Bahkan ujian akhir di tingkat SMP dan SMA saja sekarang sudah tidak menggunakan kertas, yang di butuhkan hanya personal computer, raport saja sekarang sudah online tanpa susah-susah menggunakan kertas untuk mencantumkan nilai hasil belajar siswa. Lalu ?

Apa peranan kertas pada era sekarang ini ? apakah kids jaman now menyadari atau bahkan mengetahui fungsi kertas pada zaman dulu bahkan sampai sekarang ?

Ku rasa Mereka haya mengerti sedikit. Menurutku tidak hanya kids jaman now saja yang melupakan peranan penting kertas pada zaman ssekarang. Banyak para orang tua, birokrat – birokrat yang juga terlena dengan adanya gadget ini sampai mereka berhenti langganan koran karena sudah bisa mengakses berita atau informasi melalui internet. Lalu apakah perusahaan media cetak harus di tutup hanya karena keberadaan kertas disini kurang di butuhkan ? apakah perusahaan penghasil kertas juga harus di tutup karena tidak banyak yang membutuhkan kertas saat ini ?

Oh Tidak,

Apa jadinya kalau perusahaan kertas sampai tidak produksi kertas lagi, apa jadinya kalau perusahaan media cetak harus di tutup. Bagaimana nasib pekerja atau karyawan di perusahaan media cetak dan kertas apabila perusahaannya di tutup ? haruskah mereka beralih profesi menjadi seller gadget ? atau bahkan mereka harus beralih menjadi penjual micin ? dan apakah benar menghemat pengeluaran kertas untuk mencegah global warming ?
Tahukah kalian semua wahai penghianat kertas ?

Kami disini para mahasiswa, para siswa, dosen, guru, atau bahkan semua yang masih ingat atas jasa kertas sebelum adanya gadget ini sangat sangat amat membutuhkan adanya kertas. Bagaimana nasib kita para siswa, murid SD atau bahkan TK yang tidak mengenal gadget atau bahkan tidak akan mampu mengenal gadget bisa belajar dengan baik kalau keberadaan kertas di hapuskan, bagaimana mereka akan membaca materi sekolah apabila materi sekolah hanya ada di dunia maya ? bagaimana nasiib mahasiswa mencetak laporan praktikumnya apabila kertas di binasakan ? bagaimana nasib mahasiswa tingkat akhir mengabadikan tugas akhirnya apabila kertas di musnahkan ? bagaimana nasib penjual nasi uduk di pinggir jalan. Bagaimana nasib tukang gorengan, bagaimana nasib tukang fotokopi ? bagaimana ??

Mungkin kalian tidak tahu betapa berharganya kertas dalam kehidupan sehari-hari kami, kami sangat membutuhkan kertas untuk alat pendidikan kami mencapai tittle sarjana. Para pekerja di perusahaan media cetak,perusahaan kertas , hanya ingin membantu kami para penghuni bumi ini agar apabila keadaan gadget kalian sudah tidak mampu memenuhi apa yang kalian butuhkan akan informasi, kalian masih bisa memanfaatkan kertas untuk memenuhi kebutuhanmu itu. Teruslah berjalan wahai kertas di bumi yang penuh dengan manusia kejam ini yang seolah-olah tidak menganggap keberadaanmu.

Mereka juga akan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya melihat gadget dan pada akhirnya juga mereka akan membutuhkanmu. Tetaplah berda di belakang manusia dan tunjukkan bahwa kertas takkan tergantikan.

Lantas ?
Apakah Martin Cooper menciptakan gadget, Kevin Systrom menciptakan instagram, Mark Zuckerberg menciptakan facebook , Jan Koum menciptakan aplikasi whatsapp, Lee Hae Jin menciptakan applikasi line sengaja menentang seorang Cai Lun yaitu tokoh berkebangsaan Tionghoa yang menciptakan kertas untuk pertama kali ?

Apakah mereka tokoh-tokoh pencipta applikasi media sosial sengaja ingin melenyapkan nama Conrad Gessner pencipta pensil dan Laszlo Biro penemu bollpoint karena pensil sudah tidak akan berguna lagi karena tidak adanya kertas ? atau juga mereka sengaja melupakan Johannes Gutenberg penemu mesin cetak pertama kali agar tidak perlu mencetak kertas karena hanya membuat pemanasan global ?

Tentu saja jawabannya tidak.!

Apakah Martin Cooper, Kevin Systrom, Mark Zuckerberg, Jan Koum dan Lee hae Jin adalah tokoh-tokoh yang lebih baik dari Cai Lun, Conrad Gessner, Laszlo Biro dan Johannes Gutenberg atau mereka tokoh-tokoh muda pencipta media sosial adalah penyelamat dunia karena dapat mempermudah manusia mengakses informasi dan yang lain tanpa adanya kertas yang katanya semakin banyak kertas yang di gunakkan maka bumi ini akan terjadi pemanasan global ?

Mungkin saja mereka (pencipta sosial media) lebih cerdas dari pada penemu-penemu terdahulu, mereka mencipatakn semua itu hanya karena mereka mengeksplore kemampuan mereka dalam bidangnya. Saya yakin juga mereka tidak melupakan sejatinya fungsi kertas bagi kehidupan mereka, karena kertas sangat di butuhkan untuk kehidupan yang berkelanjutan ini.

Rethink guys.. how important the paper from the past until now …

Penulis : Siti Rahmawati / PSP’15 / FPIK-UB

Editor : HFR / PSP’14 / FPIK-UB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *