APA KABAR DEMOKRASI KAMPUS KITA?

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Perguruan Tinggi sebagai sebuah institusi independen yang merupakan tempat bagi pendidikan para kaum intelektual. Sesuai dengan isi tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Kiranya bisa juga dikatakan sebagai sebuah miniatur negara. Tapi bagaimana dengan demokrasi di dalam kampus tersebut saat ini sudah tepatkah. Jikalau kampus adalah miniatur Negara maka bisa di simpulkan bahwa kampus tersebut adalah bentuk dari gambaran Negara tersebut dan apa yang ada di negara maka kampus adalah tempatnya.

Saat ini adalah momen-momen dimana mahasiswa salah satu kampus terbesar di Kota Malang melangsungkan ritual suci. Ya, pesta demokrasi (katanya) untuk menentukan siapa pejabat kampus yang akan berkuasa selama setahun kedepan. Di dalam negara atau miniatur negara, penyelenggara demokrasi sering kali diperankan oleh aktor-aktor pesanan rezim yang berkuasa sehingga tidak jarang hasil demokrasi tersebut menjadi pro-penguasa atau demokrasi yang melanggengkan kekuasaan sebelumnya. Al-hasil demokrasi telah menyimpang dari konsep awalnya, dan hak-hak rakyatlah yang sering dipertaruhkan.

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Pada perkembangannya banyak demokrasi yang bermunculan. Namun, yang umumnya dipakai adalah demokrasi kotak suara (one man one vote). Dalam sistem yang seperti ini setiap satu orang bisa memiliki satu hak suara. Kelemahan dari sistem ini adalah kualitas karena kuantitas yang akan menjadi acuannya. Analoginya suara profsor yang memilih sama dengan suara pedagang sayuran di pasar. Jadi siapa yang memiliki masa yang banyak bisa dipastikan dialah yang menang.

Di Fakultas tercinta yakni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pun menggunakan sistem seperti ini. Namun konsekuensinya seperti diatas pada akhirnya hasil dari demokrasi sendiri tidak representatif. Kurangnya partisipasi mahasiswa dalam pesta demokrasi membuat suasana perpolitikan kampus tampak kurang hidup. Padahal sebelum pemilihan terlebih dahulu diadakan debat kandidat calon pemimpin mereka secara terbuka. Namun, hal itu ternyata belum cukup signifikan untuk dijadikan tolak ukur demokratisasi kampus.

Sudah tepatkah demokrasi seperti ini diterapkan? Dari pengamatan penulis pemilih tahun ke tahun mahasiswa tingkat pertama dan kedua menjadi penyumbang suara terbanyak dalam ajang pesta demokrasi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Karena mereka lebih mudah diarahkan untuk menyatukan suara yang dilakukan oleh senior. Yang tampak terlihat bukan lagi memilih sesuai dengan hati nuraninya sendiri melainkan memilih karena adanya arahan dari kelompok-kelompok tertentu. Terkadang juga terjadi kasus seperti culik menculik untuk mendapatkan suara terbanyak. Hal ini pula yang sering kali menyebabkan sikut-sikutan antar elemen mahasiswa. Akibatnya, mayoritas pemilih akan menggunakan parameter kedekatan emosional kepada salah satu calon atau tim sukses (iya kalau sukses :D).

Bagaimanapun juga sebagai mahasiswa kita berhak memilih calon sesuai dengan hati nurani. Nantinya juga setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin akan berdampak kepada kita sebagai mahasiswa.

Penulis : YR (FPIK-UB / IK/ 2015)

PEMUDA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PERUBAHAN NEGARA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG –  Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah,dengan beragam hasil yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, potensi sumberdaya alam yang melimpah ini masih belum bisa dimanfaatkan dan dikelola secara baik. Karena kualitas sumber daya manusia yang belum mencukupi disetiap bidang.

Diantara bidang tersebut,terdapat bidang yang sangat mempengaruhi terhadap bidang lainnya,yakni bidang politik karena bidang politik menjadi landasan dalam menentukan suatu kebijakan pada bidang ekonomi, sosial, hukum, budaya dan keamanan. Politik di Indonesia ini saya amati sudah tidak sesuai dengan tujuan yang benar, apalagi pada bidang hukum. Hukum di Indonesia ini sudah pudar, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan yang sengsara semakin sengsara,hukum di Indonesia dapat dikatakan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Andaikan hukum di Indonesia ini seperti anak yang mecintai ibunya, mungkin hukum Indonesia lebih baik.

Sekarang Indonesia kehilangan sosok dan semangat kaum muda untuk masuk ke dunia politik. Padahal kaum muda memiliki peran strategis untuk melakukan suatu perubahan. Saya mengatakan seperti itu,karena kaum muda ini memiliki energi dan pemikiran sosialis yang tinggi serta semangat juang yang lebih membara untuk merealisasikan tujuannya.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak bangsa selain hanya mengejar kekuasaan semata. Keahlian yang mereka miliki pasti sangat berguna dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di negeri ini.Setiap orang ditakdirkan memiliki peranan saat hidup di dunia.

Melihat realita sekarang ini,sulit melihat kaum muda mahasiswa peduli akan perpolitikan. Mahasiswa saat ini lebih asik dengan dunia remaja, pergaulan bebas, hura hura, dan sebagainya. Hanya sedikit mahasiswa yang benar benar peduli dan berpikir kritis mengenai politik. Padahal politik merupakan sesuatu yang vital menjadi landasan arah berbagai kebijakan bangsa.

Pada era reformasi yang bergulir sejak tahun 1988 yang dimana pemuda juga mempunyai peran yang sangat luar biasa. Dan sekarang banyak orang kecewa karena Reformasi tidak jadi proses pencerahan kehidupan berbangsa dan bernegara, malah sebaliknya. Dalam hal ini pemuda harus sadar bahwa masa depan bangsa dan negara berada ditangannya. Karena itu pemuda harus mengerti asas kepeimpinan itu seperti apa. Asas kepemimpinan merupakan kesadaran dan kemauan. Saya akan memberikan sedikit ciri kepemimpinan yang baik dan harus dilakukan oleh pemuda, yuuk disimak :

  1. Berilmu,Berakhlak,Berintegritas,Profesional,dan Pandai (B3+P2)
  2. Dapat membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya
  3. Bersedia mendengar masukan dan kritikan dari orang lain
  4. Dapat memberi semangat dan motivasi

Kita menginginkan gerakan pemuda ke depan nanti adalah gerakan yang profesioanal dengan didasari pada keimanan dan ketaqwaan dalam arti menjauhi segala bentuk yang dilarang agama serta aturan yang sudah berlaku di negara ini.

Soekarno pernah mengatakan “Berikan aku seribu orang,dan dengan mereka aku akan menggerakkan gunung semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia!” Soekarno menyadari bahwa semangat kaum pemuda yang kelak melakukan perubahan menuju bangsa yang lebih baik.

AT pernah Berkata “Berikan aku 10 perempuan yang baik akan ku kenalkan dia dengan orang tua saya! Beri aku  1 perempuan yang soleha akan ku lamar dia dengan Bismillah!”

 

Penulis : Alief Triawan/Sosek/2015

Standart Ganda Netizen

Sa, beruntung sekali jika redaktur ruil.or.id mau menerima naskahku lagi, tulisan yang semrawut tak jelas pembahasanya, suka sindir kanan kiri tapi ogah kalau di kritik. Begitulah saya, hehe. Saya haturkan terimakasih jika naskah-naskah saya jarang sekali di edit kembali, terkhusus jika redaktur merevisi banyak hal yang mau di sesusaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena menurut saya. Khawatir sekali jika makna yang saya sampaikan kurang mengena di hati para pembaca, emange enek seng moco a?

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Warganet mungkin sudah tahu jika situs nikahsiri[dot]com minggu ini sedang hangat menjadi pemberitaan media-media mainstream sampai menjadi obrolan rahasia para jomblowan dan jomblowati di bilik kamar mandi. Mereka pada sibuk berdialektika tentang keabsahan nikah siri online sak piturute.

Menikah bagi penulis bukanlah sebuah ritual yang sak pena’e udele dewe, tentu proses akad (Bukan lagunya Payung Teduh, Lho) adalah titik awal si mempelai laki siap untuk menerima segala dosa yang ada pada mempelai perempuan, menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan dan tentu itu semua di lalui dengan proses yang tak mudah, di niatkan ibadah, bukan hanya ajang penyaluran libido semata.

Kelucuan itu dimulai saat dunia jagat maya di hebohkan dengan pemberitaan terciduknya pemilik akun nikah siri. Uniknya adalah, pemiliki situs mengadakan proses lelang bagi client yang mencari para perjaka dan perawan yang siap untuk mereka nikahi secara offline.

Tentu kita sudah faham jika nikah siri secara syar’i hukumya sah, dengan syarat ada penghulu, saksi dari kedua mempelai. Bedanya sama nikah sungguhan hanya tidak di akui sama Negara, termasuk pasangan tersebut tidak akan memperoleh hak-hak keperdataan. Namun belum saya temui apakah para pasangan yang dinikahi benar adanya menghadirkan saksi dari keluarga? Itu yang saya kurang tau. Dari gelagatnya seh gak mungkin persyaratan secara syra’i terpenuhi, lha wong adanya situs nikah siri mempermudah dalam menyediakan jasa penghulu, mempelai beserta saksi kok.

Lantas mengapa hal ini menjadi besar di jagat maya? Karena banyak media mainstream mengulas hal tersebut dan di perkuat sama lembaga empunya ulama bahwa situs nikah siri berkedok prostitusi online. Mungkin si pemilik situs, Aris Wahyudi, pria tambun berwajah bersih yang ditangkap Polda Metro Jaya saat masih enak ngorok   –jahat sekali kau pulisi, enak-enak tidur sampeyan tangkep; untung waktu Aris Wahyudi lagi gak anu anuan sama istrinya,-   hanya berfikir jika situs yang ia nahkodai sebagai penyalur jasa semata. Karena dia mengakui jika para mempelai sebelum masuk proses lelang di wajibkan mendaftar terlebih dahulu, termasuk melengkapi KTP, KK dan sak piturute.

Tentu saya takan membahas lebih detail bagaimana proses lelang di situs nikah siri, khawatirnya kalian mengira kalau saya pernah mengikuti proses lelang juga. Lha terus gunane nulis polemik nikah siri gae opo? Ngene iki lak kentang, Sam, tentu tidak. Saya akan menyinggung bagaimana dunia maya, utamanya dekade ini menjadi dunia kedua yang nyaman, seperti dunia bayangan yang Madara Uchiha ciptakan. Dunia baru yang kini menjadi arena perang era milineal, bebas tanpa hambatan mencerca termasuk mengirim nuklir-nuklir perdebatan di kolom komentar.

Tentu pendapat ini cenderung subjektif, bahkan cenderung menghasut. Tapi perlu pembaca ketahui, ancene niatku ngono kok. Agar pembaca nanti membuat pendapat tandingan, agar kalian tahu juga betapa aktifitas menulis esai semacam ini tak semudah nuklir-nuklir yang sering kita kirimkan di kolom komentar jagad dunia maya.

Sejak zaman Joko Widodo (mungkin) presiden kebanggan sungai kali metro. Pertelevisian kita mulai memproduksi hoax yang se hoax hoaxnya. Sebagai pemirsa yang tak pintar pintar amat seperti kita terkadang merasa jenuh dengan produksi-produksi berita yang setiap hari kita baca dan dengar. Bayangkan saja, tindakan-tindakan merasa paling benar dan paling suci, kafir mengkafirkan menjadi konsumsi kita setiap hari.

Saya sangat setuju saat Kominfo memblokir situs-situs yang katanya radikal, menghasut, berbau pornografi dan suka mengkafir-kafirkan . Namun kesukaanku tadi menjadi hal ganjil saat pemerintah tak pernah dengan rinci menjelaskan apa yang dimaksut sebagai radikal. Tentu hal ini saya sependapat dengan Sam Wisnu, kalau sebagai warga Negara yang baik kudu tahu dulu apa arti radikal. Hanya dengan modal kamus KBBI gratisan di playstore kita dapat faham apa arti radikal. KBBI menerjemahkan radikal sebagai 1. Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); 2. Amat keras menuntut perubahan; 3. Maju dalam berfikir atau bertindak.  Kapok Kon. Tiga definisi di atas ada yang mewakili kebijakan Kominfo dalam memblokir situs-situs yang katanya radikal? Koyoe gak seh.

Padahal kalau itu di anggap radikal, pengenku malah pemerintah blokir saja TV One, Metro, Kompas, Tempo, Instagram, Facebook bahkan Google sekalian. Kita ganti saja itu semua dengan media baru kita, ruil.co.id si kecil dengan pemilik jargon #MimpimuDimulaiDariSekarang guduk mene opo minggu ngarep, Rek. Pemerintah hanya bermodal Permen 19 Tahun 2014 tentang penanganan situs bermuatan negatif yang di buat di era Pak Sembiring. Konon, ada ratusan situs yang diblokir, tapi mboh situs apa aja.

Enek seng lucu, masih tentang pemblokiran. Sekarang ramai dengan Perpu Ormas. Khusus pembubaran ormas, akan saya ulas di tulisan saya selanjutnya yang tak tahu kapan akan selesai, karena belum mendalami dan riset lebih lanjut, atau sekedar respodensi dengan Kak Anisa El Kamelia yang sepengetahuanku simpatisan HTI. Saya sebagai masyarakat dunia nyata dan dan dunia maya kadang berfikir apakah kebijakan pemblokiran situs-situs yang saya bahas di atas di tambah lagi dengan Perpu Ormas adalah interpretasi dari program Pak Joko? Revolusi mental yang kepontal-kepontal karena bingung menghadang serangan masyarakat dunia maya dan nawa citanya yang kita tahu sendiri tinggal cita-cita saja, apa ini yang bapak maksut.

Yah, itu kan keputusan politik. Jadi ya kita sebagai warga Negara kudu nerimo ing pandum, Beh. Kalau situs dan ormas itu meresahkan pemerintah ya sah-sah saja kalau di blokir, dibekukan bahkan dibubarken. Saya kok ngira kalau Pak Joko saat mahasiswa suka baca buku karangan Machiaveli.

Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau sikap politik menjadi sebagian sikap nurani. Sederhanya begini, banyak situs atau ormas yang secara terang benderang mencerca Pak Joko, tentu pak Kominfo gak rela dong kalau Pak Bosnya di perlakukan sehina itu. Singkat cerita, tak blokir situsmu. Aku bubarke Ormasmu, hayo kapok gak.

Bahkan temanku sendiri mantan Sekjen saja berani tweetwar sama Bu Susi Pudji Astuti, bagiku alasanya ya karena dia di lembaga berbeda sama Tante Susi. Ada juga kawanku yang bercerita bahwa senior tersebut sangat baik dan seterusya, bagiku alesanya ya warung makan yang sekarang ia punya ada beberapa ratus juta aliran dana dari senior tersebut. Atau yang sekarang saya sedang amati, juniorku membela tak sampai mati-matian HTI, alesanya apa tunggu saja tulisan saya berikutnya.

Ya, semua itu pilihan politis. Karena bagiku keputusan politis adalah bagian dari secercah keputusan nurani. Bagiku, Rek.

Sebagai penutup tulisan. Anggap saja inti dari tulisan ini adalah standart ganda. Karena perlu kita sadari betul bahwa standart ganda ada di sekitar kita, berdekatan dengan kita, bahkan tidak jauh dari batang leher kita. Standart ganda itu memusingkan dan memuakan, aku est pernah ngalami: selama masalah itu menyangkut teman, kelompok, ormas, senior dan sak piturute, sumpah bakalan saya bela sampai mati matian. Kalau menyangkut orang lain, ngapain kudu saya bela? Ya itu definisi standart ganda.

Lha terus sampeyan bela siapa, Sam? Tentu saya bela Bos Gw, Khofifah Indar Parawansa. Kan sekarang kerjoanku dari beliau. Piye, est faham standart ganda a, Bro?

 

Penulis : Ali Ahsan/Sosek/2011

*penulis bisa di hubungi via WhatsApp : 081-333-667-167

 

KEMANUNGGALAN KUNCI PEMBANGUNAN BANGSA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menurut hasil data pelacakan pulau yang telah di verifikasi oleh PBB, Indonesia terdiri dari 14.366 pulai besar dan kecil yang menjadi gugusan kepulauan Nusantara. Dengan status yang disandang yakni negara dengan kepemilikan pulau terbanyak se-Dunia, tentunya negari ini bukanlah negara yang kecil. Selain mempunyai pulau yang banyak, Indonesia juga ditempatkan di urutan ke 3 sebagai negara dengan kepadatan penduduk terbanyak. Tak berhenti hanya dengan status itu saja, Indonesia juga terkenal sebagai negara dengan sejuta kebudayaan berasal dari banyaknya suku yang ada di Indonesia.

Segala sesuatu yang berjumlah banyak, barang tentu akan menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana cara pengelolaan itu semua ? Inilah yang sekarang kita lihat sebagai akar masalah yang dihadapi oleh negara kita. Contoh nyata yang terjadi dan menjadi buah bibir secara bombastis ketika salah satu dari calon gubernur Jakarta secara tidak sengaja melakukan pelecehan terhadap ayat suci Al – Qur’an yakni dikenal dengan tragedi “Al – Maidah 51”. Yang juga menjadi kebetulan adalah dia berasal dari salah satu etnik yang menghuni bumi nusantara ini sujah sejak beratus tahun lalu yaitu etnik Tionghoa. Karena hal itulah Indonesia mulai dilanda suasana panas isu perpecahan etnik dan agama.

Perpecahan demi perpecahanpun terjadi. Hingga kapan negreri yang kaya ini mengalami hal seperti ini ? Apakah tanah air ini akan dibiarkan saja hingga bernasib sama dengan apa yang dialami di Rakhine State, Myanmar ? Tidak sepatutnya itu terjadi kepada negeri yang kaya ini. Dari tulisan ini mari kita tengok ke belakang seberapa berjasanya etnik yang dikambing hitamkan negri ini hari ini, yakni etnik Tionghoa.

Masih ingat dengan Muhammad Cheng Hoo ? Mungkin sebagian orang Semarang mengenalnya dengan julukan Sam Po Kong. Dialah yang menjadi ikon dari masjid bergaya seni khas China ini. Cheng Hoo lah salah seorang yang berjasa menyebarkan agama Islam di Tanah ini. Selain Cheng Hoo, mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwasannya Raden Patah pendiri kerajaan Demak pertama kali adalah anak dari Prabu Brawijaya V yang menikah dengan salah seorang putri yang sangat cantik dan berasal dari China. Mungkin bisa dibayangkan jika tidak ada hubungan pernikahan antara Prabu Brawijaya V dengan Putri dari China tersebut tidak akan sebesar sekarang agama Islam di Indonesia.

Mari kita lihat lebih dekat, pada saat belanda menjajah Bumi Pertiwi ini. Bersatunya antara etnik Tionghoa dengan Etnik Jawa pada era kebangkitan bangsa ini dibawah pimpinan salah satu tokoh yang mendapat julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota” yakni H.O.S Tjokroaminoto. Jika 2 etnik ini tak bersatu, semakin senang dan leluasalah kompeni kompeni belanda untuk menjajah negeri ini.

Selain itu ada juga salah satu tokoh pahlawan Nasional berasal dari etnik Tionghoa yang berjasa dalam bidang penyelundupan senjata dari luar negeri untuk perjuangan bangsa didalam negeri. Dialah Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma atau dikenal sebagai John Lie. Karena skillnya yang luar biasa dalam penyelundupan senjata melalui jalur laut dia dijuluki “Hantu Selat Malaka”. Banyak sekali peristiwa yang ia lewati bersama kapal yang dipimpinnya yaitu “The Outlaw”. Sosok Hantu Selat Malaka ini sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari The Outlaw. John Lie wafat pada tanggal 27 Agustus 1988 dan dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana pada 9 November 2009. Nama John Lie, pada awal Januari 2017 diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie.

Diatas beberapa bukti bahwasannya etnik tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan bangsa ini. Yang menjadi pengaruh adalah ketika etnik etnik ini tidak bersatu membangun bangsa dengan asas kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Pancasila. Jadi sangatlah jelas bahwa pulau, masyarakat, etnik, dan agama adalah satu kesatuan entitas yang tak terpisahkan. Kemanunggalan entitas inilah landasan kemakmuran bangsa.

 

Penjelasan mengenai John Lie dikutip dari Line Today

Penulis : Kresna Arga Dinata

KAPITALISME SOLUSI KEMAJUAN PEREKONOMIAN SUATU NEGARA  

“ Pohon yang di bonsai tidak akan tumbuh besar, hanya pohon yang berada di hutan bebas dan luas yang akan tumbuh besar dan subur”

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Beginilah cara berfikir Mochtar Riady dalam membangun usahanya. Berfikir semacam ini bukan tanpa alasan, sebab dari pemikiran semacam inilah, apa yang banyak kita nikmati sekarang ini, banyak yang terlibat atas campur tangan bos besar Lippo grup tersebut.

Babak awal kehidupannya dalam merintis sebuah usaha dimulai pada periode 1951 – 1970. Setelah menikah dengan istrinya Suryawaty Lidya, Mochtar Riady memulai awal kehidupannya dengan memutuskan untuk merantau ke Jakarta, karena dia berfikir bahwa air mengalir ke hulu juga akhirnya ke muara. Sehingga dimanapun sebuah barang itu diperoleh pasti ada tempat dimana barang itu berasal. Setelah merantau ke Jakarta, dia memulai bisnisnya dengan mencoba berdagang secara koservatif, yaitu berdagang sepeda Layaknya orang Hinghua di Indonesia. Kemudian, dia mengumpulkan dan mencari informasi terkait asal muasal sepeda itu diperoleh, melainkan dari Langsa, Aceh. Di pelabuhan Langsa inilah perdagangan bebas terselebung ini terjadi sehingga banyak menguntungkan pengimpor dan tentunya pelabuhan ini menjadi sangat ramai meskipun kondisi pelabuhan yang kurang memadai. Dengan kondisi demikian, Akhirnya dia berfikir kreatif, bagaimana bisa membeli sebuah barang yang kecil tetapi berharga mahal dan banyak dibutuhkan oleh orang, sehingga keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Inilah sosok Mochtar Riady yang sangat jenius dalam memulai langkah bisnisnya. Pandai membaca situasi dan kondisi serta peluang yang ada.

Pembabakan baru pasca usaha yang dia jalani dari mulai berdagang sepeda, dan menjadi seorang bankir yang profesional dalam menangani beberapa bank yang mengalami masalah pada zaman itu seperti panin bank dan Bank buana membuat reputasi Mochtar Riady dalam dunia perbankan sangat diperhitungkan. Suatu hari dalam perjalanannya menuju Hongkong beliau bertemu dengan seorang pengusaha rokok terkemuka di Indonesia yatu Bapak Liem Sioe Liong. Mereka berbincang-bincang soal ekonomi dan politik di Indoneia dan akhirnya mengemukakan pengalaman Mochtar Riady dalam menjalankan usaha prbankan. Akhirnya beliau menjelaskan cita-cita selanjutnya terhadap dunia perbankan bahwa beliau sangat menginginkan membangun sebuah bank yang berstatus  clearing house.

Beliau di amanahi untuk memegang sebuah bank swasta yang cukup ternama di Indonesia salah satunya adalah BCA. Beliau terpilih menjadi puncak pimpinan bank BCA dan mampu memimpin kesuksesan bank pada saat itu hingga bank BCA mampu berstatus sebagai bank Clearing swasta pertama di Indonesia. Seiring puncak kesuksesannya mengembangkan bank BCA dengan kemampuannya menarik Gudang Garam dan Unilever sebagai nasabahnya, akhirnya Mochtar Riady berniat untuk mengundurkan diri dari BCA dan memulai mengembangkan usaha keluarga dengan membentuk “Lippo Group” dengan dana yang dihimpun dari dana bank. Kesuksesan Lippo Group telah membawa beberapa usaha yang dikembangkan melalui usahanya dalam mengembangkan kawasan perumahan elite yang terletak di karawaci atau yang kita kenal saat ini sebagai “Meikarta”, mengembangkan kota cikarang sebagai Industrial park, dalam bidang pendidikan membangun sebuah Universitas Pelita Harapan, usaha di  bidang pengembangan lahan serta masih banyak lagi, kemudian dalam bidang jasa Hypermart dan Matahari departement store  yang tak kalah hebatnya menjadi bagian dari usaha Lippo Group ini. Berbekal pengalaman dalam menentukan langkah usahanya melalui dunia perbankan serta kecerdasannya dalam membaca pangsa pasar yang membuatnya semakin sukses menjalankan bisnisnya.

Pasalnya, beliau membaca seluruh pusat kegiatan keuangan dimana nantinya dia akan mengembangkan sebuah usaha. Pusat keuangan dunia yang adalah di Amerika, sedangkan pusat keuangan di Asia adalah Hongkong. Maka, dia bercita-cita kelak dia juga akan mendirikan sebuah usaha perbankan disana. Selain itu, kemampuannya dalam menganalisis karakteristik kesuksesan orang-orang di dunia dalam berbisnis sepeti Jepang, Yahudi, dan Orang Tionghoa dalam merantau ke Amerika.

Sebagian besar negara menjalankan sistem pemerintahan yang berasaskan sosialisme. Tujuannya adala untuk menghapus jurang yang kaya dan miskin, Namun, sistem ini sangat sulit diwujudkan karena apabila secara merata, orang hidup dalam keadaan miskin, tak cukup sandang dan kurang pangan, maka tidak mungkin ada orang yang mau meningkatkan semangat kerja, tanpa insentif bagi yang rajin, tekun, dan cerdas. Tak mungkin bisa meningkakan produktivitas kertja yang maksimal karena sistem kesamarataan tersebut. Egalitarisme atau sistem kesamarataan pada hakikatnya bertentangan dengan hukum alam dan hak asasi manusia. Pada hakikatnya, manusia itu berbeda dalam hal ketrampilan, kecerdasan, kekuatan fisik, maupun kerajinan. Mereka apabila tidak mendapatkan penghasilan dan fasilitas yang lebih tinggi, tentu sangat dan produktivitasnya akan terhambat, perkembangan ekonomi melemah, dan akhirnya kehidupan rakyat merana. Hanya dengan sistem rewards dan punishment yang tepat, kreativitas dan produktivitas yang tinggi akan tumbuh sehingga perkembangan ekonomi maju pesat.

Sepenggal kutipan diatas menggambarkan betapa sistem perekonomian yang di anut oleh bos besar Lippo Grup tersebut adalah kapitalis. Apabila sebuah reward dan punishment adalah solusi perkembangan perekonomian yang maju, apakah kita tidak berfikir bagaimana untuk memajukan sebuah bangsa tanpa harus menekan orang lain dan merugikan salah satu pihak. Banyak yang dirugikan akibat diberatkan oleh pinjaman bank dengan bunga yang tinggi sehingga untuk membayar bunga saja diperlukan biaya yang cukup besar sebelum hutang tersebut sempat terlunasi. Akibatnya ketika suatu perusahaan bangkrut, aset yang digadaikan akan menjadi milik bank tersebut. Fenomena semacam ini memang sudah tak asing lagi, bahkan menjadi hal yang umum di masyarakat. Oleh karena itu sebagai insan akademis yang bernafaskan islam dalam menghadapi era globalisasi ini pandai pandailah dalam menentukan sebuah pandangan yang akan digunakan dalam berbisnis dan memajukan perekonomian sebuah negara tanpa merugikan pihak yang lemah.

 

Penulis : Arifatuzuhro

Sumber : Manusia ide ( otobiografi oleh Mochtar Riady)