MEMBIDIK SEKTOR KELAUTAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUNKAN KEMBALI RAKSASA YANG TERTIDUR (KEJAYAAN MARITIM NUSANTARA)

 

RUMAH ILMU, BRAWIJAYA, MALANG – Melalui sebuah opini ini, kita akan mencoba membangun persepsi baru, pola fikir dan pola sikap yang baru mengenai perespektif kita terhadap lautan serta potensi yang ada di dalamnya. Sejauh ini apa yang banyak orang fikirkan mengenai laut, saya rasa laut hanya sekedar sebagai bentang alam yang bisa dimanfaatkan untuk berwisata dan berenang, bahkan yang lebih parah, laut hanya sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah-sampah yang ada di darat. Tanpa fikir panjang saya bisa menyimpulkan bahwa sejauh ini lautan Indonesia hanya sebagai pelengkap saja dalam membangun sebuah peradaban bangsa. Percayalah sejauh ini, sadar tidak sadar, suka tidak suka, kita telah di doktrin secara tidak langsung, mengubur secara tidak langsung  potensi yang negara kita miliki yakni potensi kelautan dan kemaritimannya. Sejak zaman orde lama, orde lama ke orde baru, hingga reformasipun, sektor kelautan dirasa kurang memikat dan menarik, kita terlalu terfokus ke sektor agraris sebgai orientasi pembangunan. Padahal jika berbicara mengenai fakta dan karunia yang dimiliki bangsa kita, sudah jelas wilayah kita sebagian besar adalah laut.

Secara sadar, seharusnya kita  berani berkata bahwa sebenarnya Indonesia telah dikoderatkan sebagai bangsa bahari. Mengapa demikian, dahulu pada zaman kerajaan, Indonesia yang dikenal sebagai ‘Nusantara’, sangat berjaya di sektor maritimnya. Para raja zaman dahulu berstatement bahwa siapa yang berhasil mengarungi samudera yang luas, maka dia yang akan menguasai dunia. Kita lihat bagaimana kerajaan Majapahit, kerajaan Samudera pasai, dan beberapa kerajaan  Islam lainnya. Bagaimana kerajaan-kerajaan tersebut sangat berjaya dari sektor kemaritiman, bahkan mereka dapat mengarungai lautan hingga ke madagaskar baik untuk berdagang ataupun membangun hubungan baru. Hal itu memang benar, dan memang telah tertanam menjadi sejarah bagsa Indonesia, sejarah nusantara, yang saya rasa hingga saat ini Indonesia masih belum dan terus berusaha menggali dan mewujudkan kembali kejayaan tersebut. Jika hal ini bisa diwujudkan, tentu akan gampang mencapai visi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, karena kita layaknya akan membangunkan raksasa yang sedang tertidur dengan potensinya untuk mengguncangkan dunia. Jika  ditinjau dari perspektif akademis, keseluruhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, 2/3 bagian wilayahnya adalah perairan laut. Bahkan fakta dari hasil research telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang no 2 didunia setelah kanada, panjang garis pantai indonesia mencapa 95.000 Km2 , luasan laut kita mencapai 6 juta km2, dengan jumlah pulau yang ada mencapai 17.504 pulau. Dari hal  inilah Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari dan negara kepulauan terbesar didunia. Disinilah deklarasi Djoeanda mendapatkan peran geopolitik yang sangat mendasar bagi kesatuan, persatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu saja, dengan hamparan laut yang begitu luasnya, jika ditelaah lebih dalam sektor kelautan kita memiliki peran geoekonomi yang sangat strategis bagi kemajuan bangsa ini jika dapat dikelola dengan baik.

Tanpa kita sadari, faktanya ada beberapa kesalahan dan dosa besar para pemimpin bangsa jika kita melakukan kajian dari pengelolaan potensi kelautan yang ada, namun saya belum berani menyimpulkan apakah hal tersebut sebuah keselahan, apa memang SDM kita yang masih kurang dan tidak faham terkait teknis pengelolaan sumberdaya kelautan yang ada. Bayangkan saja, 2 tahun yang lalu ketika Indonesia mendeklarasikan diri menjadi salah satu bagian negara yang ikut serta dalam kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) diakhir tahun 2015, Indonesia menonjolkan sektor Industri Otomotif menjadi salah satu potensi dalam bersaing di program MEA tersebut, apakah pemerintah sudah skeptis dan alergi dengan potensi kelautan yang ada ? padahal, jika sumberdaya kelautan serta isinya dikonversikan ke nilai rupiah dapat berjumlah nyaris Rp 12 ribu teriliun, angka  fastatis tersebut sangat akan mensejahterakan rakyat, mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia termasuk, memenuhi anggaran APBN negara kita yang hanya 1.750 teriluin dan bahkan rencana anggaran tersebut cenderung defisit setiap tahunnya. Memang tidak bisa diragukan lagi kondisi geoekonomi sektor kelautan perikanan yang kita miliki. Jika ditinjau dari sudut pandang keilmuan kelautan dan perikanan lautan kita mengandung kekayaan sumberdaya alam yang sangat melimpah dan beragam, baik berupa SDA terbarukan (seperti perikanan, ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, ekosistem terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, rumput laut, serta beberapa produk bioteknologi yang bisa dihasilkan); SDA tak terbarukan (seperti minyak dan gas bumi, timah, biji besi, bauksit, dan mineral lainnya); energi kelautan (seperti pasang surut, gelombang, angin, dan OTEC atau Ocean Thermal Energy Conversion); maupun jasa-jasa kelautan seperti untuk pariwisata bahari, transportasi laut, dan sumber keragaman hayati serta plasma nutfah. Tidak hanya itu, belum lagi jika ditinjau dari geostrategis lautan Indonesia, secara letak dan wilayah, batas laut Indonesia sendiri bisa dikatakan sangat begitu setrategis, alur pelayaran internasional rata-rata melalui perairan laut Indonesia seperti selat malaka dan beberapa selat lainnya. Jika semua potensi-potensi tersebut bisa dimaksimalkan, insyaallah rakyat Indonesia akan makmur dan sejahtera

Sejauh ini jika memandang lingkup sektor kelautan dan perikanan, menurut saya masih ada problematika dalam proses pengelolaanya, belum lagi ditambah isu-isu yang berdatangan cenderung mengkhawatirkan dan membuat masyarakat resah, dan itu fakta serta benar-benar terjadi di sekitaran kita, entah hal-hal tersebut tercipta secara natural, atau efek dari kebijakan pemerintah, atau bahkan karena culture mental orang-orang kita sendiri. Ada banyak hal yang menjadi polemik di dunia perikanan dan kelutan, diantaranya masalah mengenai IUU Fishing ( Ilegal Unreported Unregulated Fishing), dimana dengan sumberdaya kelautan yang kita miliki,  khususnya ikan-ikan yang  ada dilaut yang begitu surplus, hal ini memicu negara-negara tetangga untuk menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia dengan alasan kekurangan stok ikan dinegaranya sendiri, dari kejadian ini tentu bisa disimpulkan bahwa keamanan dan pengamanan wilayah perairan kita masih dipertanyakan. Namun akhir-akhir ini, menteri kelautan perikanan sudah mulai tegas menindak hal tersebut dengan menenggelamkan kapal yang tidak memiliki izin untuk menagkap ikan diperairan Indonesia. Belum lagi problematika mengenai moratorium izin kapal eks-asing yang dimiliki pengusaha perikanan tangkap asal Indonesia, bahkan ada beberapa pengusaha perikanan tangkap indonesia yang mengeluh hingga kapalnya di scrub karena tak kunjung diberi izin berlayar sampai bertahun-tahun. Tentunya hal tersebut akan memberikan efek domino terhadap lapangan kerja nelayan yang pasti akan berkurang, dan usaha industri pengolahan ikan akan kekurangan stok ikan untuk diolah. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, apah ini hanya sebuah permainan politik atau kebijakan yang sebijak-bijaknya harus dilakukan oleh pemerintah. Ditambah lagi kasus impor garam ke negara kita, bayangkan saja dengan kondisi lautan yang begitu luas, dan kita tak kekurangan lahan untuk membuat tambak garam, namun masih tetap dengan kondisi kita yang saat ini, kita masih kekuranga untuk stok garam dan terpaksa mengimpor garam dari negara lain, entahlah apakah memang benar-benar kekurangan stok karena kekurangan SDM dan lahan produksi atau efek dari senyuman para kartel dan mafia yang ada.

Belum berhenti sampai disitu, para nelayan yang ada dikawasan pantura (pantai utara), mulai memberontak ketika dikeluarkan isu terkait pelarangan alat tangkap cantrang karena akan mendegradasi habitat dan merusak ekosistem dasar perairan. Kasus reklamasi wilayah pesisir yang dipertanyakan menganai dokumen amdal dan kelayakannya, degradasi habitat biota laut, serta ekosistem pesisir dan masalah-masalah lain yang terus berdatangan. Jika dilihat disudut pandang eksternal, ada informasi yang mengatakan bahwa negeri gajah putih (Thailand) bekerjasama dengan china, sudah mulai menjalankan proyek pembuatan terusan kanal, hal ini berfungsi untuk efisiensi dan efektifitas perdagangan international dari perairan cina ke madagaskar tanpa melalui selat malaka. Tentu hal ini akan berdampak ke Indonesia, karena perairan indoesia bagian utara akan jarang dan bahkan tidak lagi dilintasi kapal barang international, belum lagi isu mengenai sampah di laut, Ocean Acidification and Climate Change  yang sangat mengancam ekosistem yang ada di laut. Namun terlepas dari problematika tersebut, Indonesia saat ini sudah mulai bertahap membangun potensi kelautan yang dimiliki. Alhamdulillah, dibawah kepemimpinan Presiden yang baru, Indonesia telah memiliki visi sebagai poros maritime dunia, hal itu merupakan momentum bagi kita untuk mendukung dan mensuport  dalam mendayagunakan potensi kelautan secara produktif, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mulai membangun sektor kelautan, khususnya untuk potensi pada negara kita sendiri. Dalam tataran praksis, kita bisa menerapkan paradigma ekonomi biru dalam konteks pembangunan kelautan Indonesia melalui beberapa program dan kebijakan. Perlu difahami, hal pertama yang mukin perlu kita lakukan mulai menata lingkungan tataruang wilayah laut (RTRW), mulai wilayah peisir, hingga 12 mil dari bibir pantai, bahkan hingga batas landas continen jika sanggup. Artinya penataan dan pengelolaan ruang di laut, harus jelas baik dari segi subjek dan objek, serta membuat tata kelola administrasi yang baik dengan tujuan tidak adanya konflik dalam pemanfatan ruang laut itu sendiri. Kemudian kita harus merevitalisasi potensi kelautan perikanan yang ada. Artinya pemanfaatan ruang laut yang telah berlangsung saat ini (eksisting), baik yang dipergunakan untuk perikanan tangkap, lokasi budidaya laut (mutiara, ikan, rumput laut, dll), ekowisata bahari, pelabuhan dan infrastruktur lainnya, harus dikelola dengan konsep keterpaduan dan berkelanjutan, dimana pengelolaannya harus dikonsep secara terpadu, baik dari skala ekonomi, dan terpadu secara pengelolaannya. Dalam hal pengelolaan pemanfaatan ruang yang ada, harus dilakukan secara inklusif atau melibatkan masyarakat lokal yang ada sehingga efek peningkatan perekonomian wilayah setempat akan terasa secara bersama.

Selain itu, kita harus memaksimalkan dan mengembangkan berbagai sektor usaha ekonomi kelautan yang baru, seperti industri bioteknologi kelautan, industri nanoteknologi kelautan, energi terbarukan lainnya dari lautan seperti deep sea water industry, deep sea water maining,  dan  coastal ocean engineering. Saya rasa Indonesia tidak kekurangan professor dan para ahli untuk mengembangkan nano dan bioteknologi dari sumberdaya hayati laut yang ada. Selain itu, kita harus mengembangakan usaha-usaha ekonomi kelautan dikawasan pesisir, pulau-pulau kecil, dan laut yang belum dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Berbicara mengenai infrastruktur dan keinginan untuk meningkatkan taraf ekonomi dari sektor kelautan, artinya kita harus mempertimbangkan dari segi transportasi laut yang ada. Tindakan kongkritnya seperti pembangunan pelabuhan harus terpenuhi, kemudian pembuatan kapal (tol laut) untuk mempermudah pendistribusian barang hal ini bertujuan untuk menyamaratakan proses distribusi agar tercapai kesetaraan harga atau disparitas harga biaya logistik bisa lebih murah disemua wilayah Indonesia. Saya rasa inovasi mengenai tol laut ini, sudah mulai dijalankan oleh Bapak Jokowi selaku presiden kita,

Berbicara mengenai pembangunan sektor kelautan, kita juga harus menyelaraskan dengan kondisi lingkugan yang ada. Baik dari kondisi ekosistem yang menentukan keberlangsungan biota pesisir dan biota laut yang ada di dalamnya. Sejak dini, kita harus mulai merehabilitasi ekosistem pesisir dan laut yang telah rusak, pengendalian pencemaran laut, konservasi keanekaragaman hayati baik secara in situ (seperti kawasan konservasi laut atau Marine Protected Area ) maupun ex-situ (sea world, akuarium, dan pemuliaan genetika), dan pengkayaan stok ikan yang ada dilaut dengan memperhatikan kondisi MSY (Kemampuan ikan untuk pulih kembali), dan menjaga biota laut lainnya untuk mendukung kelestarian dan keberlanjutan pada ekosistem yang ada di pesisir dan laut. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan mengenai mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global, tsunami. Dan bencana alam lainnya. Upaya mitigasi tentunya berupa mencangkup pendekatan dan teknik untuk mengurangi penyebab yang mengakibatkan perubahan iklim dan bencana alam lain, yang disebabkan oleh aktivitas dan ulah manusia itu sendiri (anthropogenic sources), contohnya semaksimal mungkin kita bisa mengurangi emisi karbondoksida, dan gas-gas rumah kaca lainnya, menerapkan konsep zero emission teknologi, dan menerapkan konsep 3R (Reduced, Recycle, dan Reuse) dalam sektor industri dan transportasi khususnya yang ada pada wilayah pesisir dan laut.

Hal yang tak kalah penting dan paling mendasar adalah peningkatan kualitas dan jumlah SDM pada sektor kelautan dan perikanan yang ada, artinya kitra harus meningkatan kualitas dan kuantitas SDM khususnya dengan bidang keilmuan keluatan dan perikanan. Karena bagi saya kemajuan sebuah bangsa adalah berasal dari kemampuan dan kemauan rakyat dari bangsa itu sendiri. Saat ini kita semua harus percaya bahwa kita mampu dan kita bisa mambangun sektor kelautan yang kita miliki untuk kemajuan sektor perikanan kelautan Indonesia. Kita harus merubah pola fikir bahwa pendidikan itu memang sangat penting dan sangat bermakna untuk kemajuan sebuah bangsa, pendidikan dan keilmuan bukan hanya sekedar eksistensi, melainkan harus diterapkan dan disumbangkan untuk kemaslahatan.

Demikian yang dapat saya tulis dalam artikel ini, semoga kedepan bangsa Indonesia bisa berdikari dan bangkit dari sektor kelautannya, mencapai visi Indonesia menjadi poros maritime dunia, membangunkan kembali raksasa yang tertidur, mengembalikan kejayaan Indonesia (Nusantara) sebagai bangsa bahari… Amin..

Penulis :  Muhamad Ridho Firdaus

Email  : [email protected]

Urban Aquaculture: Solusi Budidaya Vaname Berkeadlian Sosial dan Ekonomi

RUMAH ILMU BRAWIJAYA – MALANG, Industri perikanan di sektor budidaya udang memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat diperkirakan harga jual udang akan tetap stabil hingga beberapa tahun ke depan. Perkembangan teknologi di bidang ini pun cukup menarik untuk diikuti. Kita mungkin sudah familiar dengan yang namanya sistem budidaya intensif. Peralihan dari sistem budidaya yang menggunakan kolam tradisional dengan kepadatan rendah menuju sistem budidaya dengan kolam intensif yang kepadatannya jauh lebih tinggi.

Sistem bioflok pun sudah mulai diterapkan di kalangan pembudidaya dengan tujuan efektivitas pakan dan padat tebar. Dalam sistem bioflok pergantian air pun akan lebih diminimalkan karena bakteri yang ada di dalamnya dapat bekerja sedemikian rupa hingga terjadi “self purification” pada air.

Yang terbaru adalah sistem budidaya udang super intensif. Sistem budidaya hasil karya Dr. Ir. Hasanuddin Atjo ini bisa mendongkrak padat tebar hingga 1000 ekor/m2. Seperti yang dikutip dari laman semoga-berguna-untuk-kita.blogspot.co.id, melalui Inovasi dalam pembudidayaan udang Sistem Super intensif berhasil meningkatkan kepadatan tebar dari yang hanya 100-200 ekor/m2 pada budidaya sistem semi-intensif dan 400-500 ekor/m2 pada budidaya sistem intensif, menjadi 1.000 ekor/m2 dengan hasil produksi mencapai 15,3 ton/1.000 m2. Ini adalah hasil budidaya udang Vannamei tertinggi di dunia, yang mana rekor sebelumnya dipegang oleh Meksiko dengan hasil 11,1 ton/ 1.000 m2, sedangkan China hanya menghasilkan 9 ton/ 1.000 m2.

Namun dari semua teknologi budidaya yang ada, dana yang besar menjadi syarat utama. Selain itu, lokasi budidaya haruslah di daerah pesisir laut. Hal ini jelas tidak akan menjawab permasalahan yang ada di masyarakat, yakni ketimpangan sosial dan ketidakmerataan kemampuan ekonomi. Solusi yang bisa ditawarkan adalah teknologi budidaya yang bisa dilakukan dimana saja dan tentunya tidak butuh modal besar. Terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Israel dengan teknologi budidaya Grow Fish Anywhere, perlu kiranya konsep budidaya udang vaname bisa dilakukan di tengah kota seluruh Indonesia, selanjutnya kita namai teknologi budidaya ini dengan Urban Aquaculture.

Temuan Riani et al 2012 yang menyatakan bahwa udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan bersuhu rendah, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Ini berarti vaname yang umumnya hidup pada salinitas 25-35 ppt bisa dipaksa hidup pada salinitas mendekati nol. Fakta ini menjadi dasar teori untuk budidaya vaname di tengah kota, karena tidak terlalu bergantung pada pasokan air laut. Mengenai biaya, budidaya vaname dengan konsep Urban Aquaculture tidak akan lebih dari 10 juta perkolamnya. Kolam yang digunakan adalah kolam terpal dengan konstruksi besi berbentuk bundar. Diameter kolam bisa dimodifikasi tergantung lahan yang ada, yang pasti minimal berdiameter 3 meter, dengan pertimbangan efektivitas biaya operasional.

Konsep budidaya vaname system Urban Aquaculture memang belum diterapkan di Indonesia. Semoga beberapa tahun kedepan Standart Operasional Procedure (SOP) segera dirumuskan supaya sector budididaya vaname benar-benar menjadi penggerak  perekonomian masyarakat menegah kebawah. Perekonomian yang berkeadilan adalah cita-cita mulia bangsa Indonesia.

Penulis : Akbar Hariyadi / BP-FPIK_UB / 2013

PEMUDA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PERUBAHAN NEGARA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG –  Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah,dengan beragam hasil yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, potensi sumberdaya alam yang melimpah ini masih belum bisa dimanfaatkan dan dikelola secara baik. Karena kualitas sumber daya manusia yang belum mencukupi disetiap bidang.

Diantara bidang tersebut,terdapat bidang yang sangat mempengaruhi terhadap bidang lainnya,yakni bidang politik karena bidang politik menjadi landasan dalam menentukan suatu kebijakan pada bidang ekonomi, sosial, hukum, budaya dan keamanan. Politik di Indonesia ini saya amati sudah tidak sesuai dengan tujuan yang benar, apalagi pada bidang hukum. Hukum di Indonesia ini sudah pudar, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan yang sengsara semakin sengsara,hukum di Indonesia dapat dikatakan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Andaikan hukum di Indonesia ini seperti anak yang mecintai ibunya, mungkin hukum Indonesia lebih baik.

Sekarang Indonesia kehilangan sosok dan semangat kaum muda untuk masuk ke dunia politik. Padahal kaum muda memiliki peran strategis untuk melakukan suatu perubahan. Saya mengatakan seperti itu,karena kaum muda ini memiliki energi dan pemikiran sosialis yang tinggi serta semangat juang yang lebih membara untuk merealisasikan tujuannya.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak bangsa selain hanya mengejar kekuasaan semata. Keahlian yang mereka miliki pasti sangat berguna dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di negeri ini.Setiap orang ditakdirkan memiliki peranan saat hidup di dunia.

Melihat realita sekarang ini,sulit melihat kaum muda mahasiswa peduli akan perpolitikan. Mahasiswa saat ini lebih asik dengan dunia remaja, pergaulan bebas, hura hura, dan sebagainya. Hanya sedikit mahasiswa yang benar benar peduli dan berpikir kritis mengenai politik. Padahal politik merupakan sesuatu yang vital menjadi landasan arah berbagai kebijakan bangsa.

Pada era reformasi yang bergulir sejak tahun 1988 yang dimana pemuda juga mempunyai peran yang sangat luar biasa. Dan sekarang banyak orang kecewa karena Reformasi tidak jadi proses pencerahan kehidupan berbangsa dan bernegara, malah sebaliknya. Dalam hal ini pemuda harus sadar bahwa masa depan bangsa dan negara berada ditangannya. Karena itu pemuda harus mengerti asas kepeimpinan itu seperti apa. Asas kepemimpinan merupakan kesadaran dan kemauan. Saya akan memberikan sedikit ciri kepemimpinan yang baik dan harus dilakukan oleh pemuda, yuuk disimak :

  1. Berilmu,Berakhlak,Berintegritas,Profesional,dan Pandai (B3+P2)
  2. Dapat membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya
  3. Bersedia mendengar masukan dan kritikan dari orang lain
  4. Dapat memberi semangat dan motivasi

Kita menginginkan gerakan pemuda ke depan nanti adalah gerakan yang profesioanal dengan didasari pada keimanan dan ketaqwaan dalam arti menjauhi segala bentuk yang dilarang agama serta aturan yang sudah berlaku di negara ini.

Soekarno pernah mengatakan “Berikan aku seribu orang,dan dengan mereka aku akan menggerakkan gunung semeru! Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia!” Soekarno menyadari bahwa semangat kaum pemuda yang kelak melakukan perubahan menuju bangsa yang lebih baik.

AT pernah Berkata “Berikan aku 10 perempuan yang baik akan ku kenalkan dia dengan orang tua saya! Beri aku  1 perempuan yang soleha akan ku lamar dia dengan Bismillah!”

 

Penulis : Alief Triawan/Sosek/2015

Standart Ganda Netizen

Sa, beruntung sekali jika redaktur ruil.or.id mau menerima naskahku lagi, tulisan yang semrawut tak jelas pembahasanya, suka sindir kanan kiri tapi ogah kalau di kritik. Begitulah saya, hehe. Saya haturkan terimakasih jika naskah-naskah saya jarang sekali di edit kembali, terkhusus jika redaktur merevisi banyak hal yang mau di sesusaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena menurut saya. Khawatir sekali jika makna yang saya sampaikan kurang mengena di hati para pembaca, emange enek seng moco a?

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Warganet mungkin sudah tahu jika situs nikahsiri[dot]com minggu ini sedang hangat menjadi pemberitaan media-media mainstream sampai menjadi obrolan rahasia para jomblowan dan jomblowati di bilik kamar mandi. Mereka pada sibuk berdialektika tentang keabsahan nikah siri online sak piturute.

Menikah bagi penulis bukanlah sebuah ritual yang sak pena’e udele dewe, tentu proses akad (Bukan lagunya Payung Teduh, Lho) adalah titik awal si mempelai laki siap untuk menerima segala dosa yang ada pada mempelai perempuan, menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan dan tentu itu semua di lalui dengan proses yang tak mudah, di niatkan ibadah, bukan hanya ajang penyaluran libido semata.

Kelucuan itu dimulai saat dunia jagat maya di hebohkan dengan pemberitaan terciduknya pemilik akun nikah siri. Uniknya adalah, pemiliki situs mengadakan proses lelang bagi client yang mencari para perjaka dan perawan yang siap untuk mereka nikahi secara offline.

Tentu kita sudah faham jika nikah siri secara syar’i hukumya sah, dengan syarat ada penghulu, saksi dari kedua mempelai. Bedanya sama nikah sungguhan hanya tidak di akui sama Negara, termasuk pasangan tersebut tidak akan memperoleh hak-hak keperdataan. Namun belum saya temui apakah para pasangan yang dinikahi benar adanya menghadirkan saksi dari keluarga? Itu yang saya kurang tau. Dari gelagatnya seh gak mungkin persyaratan secara syra’i terpenuhi, lha wong adanya situs nikah siri mempermudah dalam menyediakan jasa penghulu, mempelai beserta saksi kok.

Lantas mengapa hal ini menjadi besar di jagat maya? Karena banyak media mainstream mengulas hal tersebut dan di perkuat sama lembaga empunya ulama bahwa situs nikah siri berkedok prostitusi online. Mungkin si pemilik situs, Aris Wahyudi, pria tambun berwajah bersih yang ditangkap Polda Metro Jaya saat masih enak ngorok   –jahat sekali kau pulisi, enak-enak tidur sampeyan tangkep; untung waktu Aris Wahyudi lagi gak anu anuan sama istrinya,-   hanya berfikir jika situs yang ia nahkodai sebagai penyalur jasa semata. Karena dia mengakui jika para mempelai sebelum masuk proses lelang di wajibkan mendaftar terlebih dahulu, termasuk melengkapi KTP, KK dan sak piturute.

Tentu saya takan membahas lebih detail bagaimana proses lelang di situs nikah siri, khawatirnya kalian mengira kalau saya pernah mengikuti proses lelang juga. Lha terus gunane nulis polemik nikah siri gae opo? Ngene iki lak kentang, Sam, tentu tidak. Saya akan menyinggung bagaimana dunia maya, utamanya dekade ini menjadi dunia kedua yang nyaman, seperti dunia bayangan yang Madara Uchiha ciptakan. Dunia baru yang kini menjadi arena perang era milineal, bebas tanpa hambatan mencerca termasuk mengirim nuklir-nuklir perdebatan di kolom komentar.

Tentu pendapat ini cenderung subjektif, bahkan cenderung menghasut. Tapi perlu pembaca ketahui, ancene niatku ngono kok. Agar pembaca nanti membuat pendapat tandingan, agar kalian tahu juga betapa aktifitas menulis esai semacam ini tak semudah nuklir-nuklir yang sering kita kirimkan di kolom komentar jagad dunia maya.

Sejak zaman Joko Widodo (mungkin) presiden kebanggan sungai kali metro. Pertelevisian kita mulai memproduksi hoax yang se hoax hoaxnya. Sebagai pemirsa yang tak pintar pintar amat seperti kita terkadang merasa jenuh dengan produksi-produksi berita yang setiap hari kita baca dan dengar. Bayangkan saja, tindakan-tindakan merasa paling benar dan paling suci, kafir mengkafirkan menjadi konsumsi kita setiap hari.

Saya sangat setuju saat Kominfo memblokir situs-situs yang katanya radikal, menghasut, berbau pornografi dan suka mengkafir-kafirkan . Namun kesukaanku tadi menjadi hal ganjil saat pemerintah tak pernah dengan rinci menjelaskan apa yang dimaksut sebagai radikal. Tentu hal ini saya sependapat dengan Sam Wisnu, kalau sebagai warga Negara yang baik kudu tahu dulu apa arti radikal. Hanya dengan modal kamus KBBI gratisan di playstore kita dapat faham apa arti radikal. KBBI menerjemahkan radikal sebagai 1. Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); 2. Amat keras menuntut perubahan; 3. Maju dalam berfikir atau bertindak.  Kapok Kon. Tiga definisi di atas ada yang mewakili kebijakan Kominfo dalam memblokir situs-situs yang katanya radikal? Koyoe gak seh.

Padahal kalau itu di anggap radikal, pengenku malah pemerintah blokir saja TV One, Metro, Kompas, Tempo, Instagram, Facebook bahkan Google sekalian. Kita ganti saja itu semua dengan media baru kita, ruil.co.id si kecil dengan pemilik jargon #MimpimuDimulaiDariSekarang guduk mene opo minggu ngarep, Rek. Pemerintah hanya bermodal Permen 19 Tahun 2014 tentang penanganan situs bermuatan negatif yang di buat di era Pak Sembiring. Konon, ada ratusan situs yang diblokir, tapi mboh situs apa aja.

Enek seng lucu, masih tentang pemblokiran. Sekarang ramai dengan Perpu Ormas. Khusus pembubaran ormas, akan saya ulas di tulisan saya selanjutnya yang tak tahu kapan akan selesai, karena belum mendalami dan riset lebih lanjut, atau sekedar respodensi dengan Kak Anisa El Kamelia yang sepengetahuanku simpatisan HTI. Saya sebagai masyarakat dunia nyata dan dan dunia maya kadang berfikir apakah kebijakan pemblokiran situs-situs yang saya bahas di atas di tambah lagi dengan Perpu Ormas adalah interpretasi dari program Pak Joko? Revolusi mental yang kepontal-kepontal karena bingung menghadang serangan masyarakat dunia maya dan nawa citanya yang kita tahu sendiri tinggal cita-cita saja, apa ini yang bapak maksut.

Yah, itu kan keputusan politik. Jadi ya kita sebagai warga Negara kudu nerimo ing pandum, Beh. Kalau situs dan ormas itu meresahkan pemerintah ya sah-sah saja kalau di blokir, dibekukan bahkan dibubarken. Saya kok ngira kalau Pak Joko saat mahasiswa suka baca buku karangan Machiaveli.

Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau sikap politik menjadi sebagian sikap nurani. Sederhanya begini, banyak situs atau ormas yang secara terang benderang mencerca Pak Joko, tentu pak Kominfo gak rela dong kalau Pak Bosnya di perlakukan sehina itu. Singkat cerita, tak blokir situsmu. Aku bubarke Ormasmu, hayo kapok gak.

Bahkan temanku sendiri mantan Sekjen saja berani tweetwar sama Bu Susi Pudji Astuti, bagiku alasanya ya karena dia di lembaga berbeda sama Tante Susi. Ada juga kawanku yang bercerita bahwa senior tersebut sangat baik dan seterusya, bagiku alesanya ya warung makan yang sekarang ia punya ada beberapa ratus juta aliran dana dari senior tersebut. Atau yang sekarang saya sedang amati, juniorku membela tak sampai mati-matian HTI, alesanya apa tunggu saja tulisan saya berikutnya.

Ya, semua itu pilihan politis. Karena bagiku keputusan politis adalah bagian dari secercah keputusan nurani. Bagiku, Rek.

Sebagai penutup tulisan. Anggap saja inti dari tulisan ini adalah standart ganda. Karena perlu kita sadari betul bahwa standart ganda ada di sekitar kita, berdekatan dengan kita, bahkan tidak jauh dari batang leher kita. Standart ganda itu memusingkan dan memuakan, aku est pernah ngalami: selama masalah itu menyangkut teman, kelompok, ormas, senior dan sak piturute, sumpah bakalan saya bela sampai mati matian. Kalau menyangkut orang lain, ngapain kudu saya bela? Ya itu definisi standart ganda.

Lha terus sampeyan bela siapa, Sam? Tentu saya bela Bos Gw, Khofifah Indar Parawansa. Kan sekarang kerjoanku dari beliau. Piye, est faham standart ganda a, Bro?

 

Penulis : Ali Ahsan/Sosek/2011

*penulis bisa di hubungi via WhatsApp : 081-333-667-167

 

Brawijaya Entrepreneur University. (Kampusnya Berwirausaha, Mahasiswa Jadi Buruh)  

Brawijaya Entrepreneur University.

(Kampusnya Berwirausaha, Mahasiswa Jadi Buruh)

Mari kita bahas tuntas mengenai Entrepreneur, sebelum membahasnya kita harus mengetahui apa itu Entrepreneur. Biasa disebut dengan wirausahawan, seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi yang bebas.

Apakah anda setuju dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini? Kalau kalian bertanya padaku: Jawabanku tentu, nelangso. Penduduk asli yang memburuh pada bangsanya sendiri. Kondisi semacam ini menjadi permasalahan yang sangat “Vital” bagi bangsa Indonesia. Mengapa begitu? Dengan karunia sumberdaya alam yang berlimpah, rakyatnya masih menjadi buruh.

Sebagai kalangan yang beruntung mengenyam pendidikan tinggi, kita memiliki tugas mulia. Pendidikan serta pengalaman yang telah kita terima harusnya bukan dipergunakan semata-mata untuk mencari pekerjaan, melainnkan kita harus bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Kemampuan berwirausaha dapat kita pelajari melalui pelatihan-pelatihan, seminar atau berinteraksi langsung kepada para pelaku. Dengan melakukan hal tersebut kita akan mendapatkan pengetahuan dan ilmu dalam berwirausaha. Karena proses menjadi wirausaha selain hanya soft skill pun diharuskan mental yang tangguh.

Bermula dari keberanian berbisnis skala kecil, kita dapat melatih diri untuk mendapatkan kesempatan di dunia pemasaran. Dari situlah nanti akan muncul inovasi-inovasi yang baru dengan terus mengembangkannya dan menciptakan suatu produk/jasa yang jarang beredar pada masyarakat. Seorang Entrepeneur harus berani mengambil segala resiko yang nantinya akan terjadi sewaktu-waktu. Karena dalam berbisnis kita akan banyak mengalami banyak hal baru, utamanya persaingan yang sehat bahkan kotor berujung bangkrut. Demi menghindari agar bisnis kita tidak bangkrut. Saya sedikit mempunyai tips agar bisnis yang kita jalani terhindar dari bangkrut. Yakni :

  1. Kita harus mempunyai sikap mental pemenang
  2. Kita harus percaya bahwa bisnis yang kita jalani akan sukses, pendapatan fluktuatif dalam bisnis adalah seni, jangan pernah putus asa dan terus belajar, belajar dan belajar
  3. Awal berbisnis kita harus fokus pada satu bisnis yang kita akan jalani, konsiten

Menjadi seorang Entrepenuer memang membutuhkan keuletan dan ketekunan yang sangat tinggi.Tak mudah putus asa dan pantang menyerah dalam menghadapi persaingan-persaingan nantinya. Memiliki suatu usaha pribadi memang “Open Mind”, Karena si Entrepeneur yang akan menentukan nasib usahanya kedepan.

Kembali lagi kepada Mahasiswa, khususnya Mahasiswa Universitas Brawijaya yang mempunyai jiwa Entrepenuer tinggi namun memiliki hambatan dan tuntutan dari orang tua mahasiswa untuk segera lulus. Menjadi hal wajar bagi setiap orangtua karena hal kekhawatiran tersebut muncul dari jam terbang kita dalam berbisnis yang masih dalam kategori, newbie. Namun masih banyak kita temui mahasiswa dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, kepadatan jam kuliah masih mampu berwirausaha, membiayai kuliahnya sendiri, berdikari sejak dini. Bagi saya, berwirausaha harus dilakukan sejak dini, sekarang. Bukan nanti saat saya lulus.

Pesan saya kepada pembaca, ketika kita sudah mempunyai potensi untuk berwirausaha. Maka lanjutkanlah potensi yang tumbuh pada diri anda, hilangkan rasa takut gagal untuk menjadi Entrepenuer. Banyak seseorang yang mempunyai rasa takut gagal untuk melanjutkan potensi yang sudah ada. Saya akan memberikan tips mengatasi rasa takut gagal menjadi Etrepeneur, tips ini berangkat dari pengamatan, pengalaman pribadi dalam bersbisnis dan membaca. cekidot, Bro.

1. Berani Mencoba “Take Action”

Disini kita harus berani mencoba, meskipun dalam mencoba kita akan mempunyai dua kemungkinan yaitu, resiko berhasil dan resiko gagal. Setidaknya kita sudah mencoba, jangan pernah takut untuk mencoba. Tidak ada orang sukses di muka bumi ini ketika tidak berani untuk mencoba.

I haven’t failed. I’ve just found 10.000 ways that don’t work” Thomas Alva Edison, Mbah GW

2. Believe

Bangun Keyakinan dengan cara mensugesti diri anda. Tidak ada kesuksesan kalau kita tidak memiliki keyakinan. Kalau anda tidak memiliki keyakinan sebaliknya kita akan mempertebal rasa takut untuk mengalami kegagalan. Orang mau nembak cewek aja kita kudu yakin kok, masa mau berbisnis dengan segudang permasalahan yang sudah kita bayangkan sendiri gak yakin.

3. Belajar dari orang yang sukses

Disini kita harus belajar dari orang yang sukses, meskipun tidak secara langsung kita dapat membaca buku-buku yang mengulas tentang pribadinya. Dengan membaca dan mencari tahu kita menjadi termotivasi menjadi orang yang sukses.

Nunggu apa lagi? Saatnya kita yang berjiwa muda yang berwirausaha dan menjadi Euntreprener tangguh.

Berikut adalah bisnis yang saya miliki

 

“Berakit-rakit kehulu

Berenang renang ketepian

Gimana mau ngajak kamu ke penghulu

Kalau status aja masih temenan”

 

Penulis :  Alief Triawan/sosek/2015

Tentang Kritik dan Kagebunshin Naruto  

 

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Membutuhkan waktu yang cukup lama, terkhusus para kader HMI Komisariat perikanan untuk memiliki barak sendiri, setelah belasan tahun selalu di kejar-kejar pemilik kontrakan untuk segera melunasi tagihan, itupun saat pelunasan sering kurang karena para penghuni banyak yang tak memiliki uang. Namun, kali ini kami boleh sedikit sumringah lebar, kami memiliki barak senilai 1,2 Milliar, Beh.

Tulisan ini, ditulis seberat menulis naskah yang akan di kirim ke penerbit mainstream. Mengapa begitu dirasa berat, penulis sadari dengan mengudaranya situs ruil.or.id akan banyak menyedot perhatian bagi para anggota, alumni, simpatisan atau beberapa antek-antek yang suka mencibir untuk membaca setiap postingan yang di share di grup-grup wa ataupun line. situs ini akan jauh lebih heboh di luar, mengalahkan hebohnya para penghuni Ruil karena terpasang cctv dan seiket wifi.

Situs ini sedang beranjak mencari jatidirinya, para editor di balik situs ini mungkin sedang kelabakan mencari para kontributor untuk mengisi kekosongan konten. Kalaupun ada, hanya tulisan tulisan sederhana saja, tema nya itu-itu aja. Tapi, kita harus berbangga, sumringah. Karena perlu kita fahami, pekerjaan menulis itu sulitnya naudzhubillah.

Sebagai situs yang akan banyak memuat esai-esai ringan, liputan kegiatan alumni dan agenda para anggota Ruil. Tentu situs ini, terlebih bagi para kontributor akan banyak mengalami bejibun apresiasi, kritikan serangan dan cercaan. Tentu saja hal-hal semacam itu jangan pernah ditanggapi. Para chief editor dan para kontributor yang harapanya kian hari kian banyak harus siap dan berani mengalami hal tersebut. Kalau tidak mau mengalami serangan dan cercaan ya jangan menulis, tak usah bekarya. Atau lebih baiknya situs ini di tutup saja.

Bicara soal kritikan, pendapat di atas jangan kalian tanggapi dengan serius, melainkan kalian harus menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang penting. Kita sebagai yang dikritiklah yang harus pandai menyerap habis benang merahnya, lalu bangkit untuk memperbaiki diri.

Anggap contoh seperti ini, ada alumni yang kalian kenal memiliki pengalaman luar biasa dalam hal literasi ataupun perkaderan mengkritik tentang muatan yang kalian tulis di Ruil. Mengapa yang kalian tulis tidak meng ejawantahkan ilmu sama sekali? Jawab saja begini, tentu dengan sumringah lebar, atau jika pertanyaan itu muncul di chat wa kalian, balas dengan emot senyum “Lha kepripun Cak, soale mboten enten kader ingkang ngirim naskah selain AKU. Hehe”.

Mungkin dengan jawaban kalian yang luar biasa mengademkan para hati senior, takan lama lagi kalian akan diberikan pelatihan atau dibuatkan program seputar penulisan sama si pengagas situs ini (Arkinar). Tapi kalau kenyataanya tetap adem-adem saja dan kontributor Ruil malah semakin sepi, itu pertanda kalau chief editor kudu gegabah dalam memuat ulang tulisan-tulisan orang lain, kalaupun tak bisa ya isi situs dengan publikasi jurnal-jurnal para alumni. Jika nanti ada yang masih bertanya, kalian dapat menjawab, penting situs ke isi dan gak jadi di tutup.

Lantas tulisan bagaimana yang cocok dengan Ruil. Para editor tentu dapat memilih tulisan yang yang kondisinya sedang hangat diperbicangkan oleh masyarakat, atau istilah kerenya sekarang, warganet. Jangan sampai jika sedang hangat pemberitaan tentang pengeboman kapal-kapal pencuri ikan berukuran kecil namun di aku besar, kalian malah asyik memberitakan tentang Rafathar giginya sekarang sudah tumbuh tiga, itu kalau situs ini mengacu acuan situs mainstream lho, Rek. Lha terus kalau kontributornya gak ada yang nulis sesuai yang sampeyan maksut yaopo, Mas. Tentu sebagai editor kalian kudu turun gunung, Rek.

Yang paling seru adalah jika menerima kiriman naskah dengan tipikal penulis yang pendapatnya sangat subjektif. Bisa dipastikan tak berselang lama akan banyak serangan-serangan ke editor mengapa menerbitkan naskah yang tak berkualitas. Saran saya, kalian sebagai editor berharap para kritikus tersebut ikut andil dalam membuat tulisan tandingan, atau bahasa kerenya zaman now, menyediakan lahan tandingan bagi penulis yang harus di unggah dan di percakapkan. Hal tersebut menghindari timeline group-group wa kalian penuh dengan cercaan tentang tulisan tersebut.

Agar para editor dan kontributor lebih bersemangat dalam menulis, karena memang mengelola media itu bukan masalah senang atau tidak. Kita harus menyadari bahwa menyediakan suara tandingan sebagai cara mengatasi rasa was-was dan kritis. Agar gagasan dilawan dengan gagasan, bukan gagasan dilawan dengan serangan pembullian kagebunshin. Kita boleh berbeda pendapat, tapi kritik harus tetap di beri panggung. Sebab kritik sebagai sebuah substansi, hadir bukan untuk menhancurkan, melainkan meng edotensei pemikiran dan gagasan yang mati.

Beberapa penulis tidak terkenal yang pernah saya ajak ngopi juga sepakat, hal-hal yang tidak tersentuh oleh kritik justru memiliki potensi yang sangat membahayakan. Ruil harapanya memberi ruang bagi yang suka mengkritik, tentu dengan argumen yang kuat serta ditulis dengan bagus. Harapan besarnya juga, Ruil bukan menjadi situs yang suka memuji bahkan memuja seserang. Kalian bukan sekte, Rek

Tulisan ini memang sederhana, harapanya selepas ini naskah yang masuk ke dapur redaktur semakin bayak dan mengedukasi. Karena edukasi bukan mesti cerita tentang kebaikan, tulisan tentang keritikan pun juga menyenangkan, sumringah. Ruil kudu pedas, sesekali perlu menyejukan. Situs ini tumbuh untuk kebaikan. Bukan sebagai lahan pembullian skala massal, apalagi jika membulli nya dengan kagebunshin no jutsu. Beraninya main keroyok, adu gagasan mlempem. Piye, masih takut untuk menulis, Rek?

Penulis : Ali Ahsan/Sosek/2011

 

 

Sebaiknya Jangan Lakukan 7 Hal Berikut Selama Menjadi Mahasiswa

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Mahasiswa itu tidak pernah merasa cukup untuk belajar! Ada banyak perbedaan yang terlihat saat kita menjadi mahasiswa di sebuah universitas favorit khususnya di Universitas Brawijaya di Malang. Salah satunya ;

Mahasiswa yang tipenya “kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) karena merasa dirinya sudah terbebani dengan tugas perkuliahan dan Mahasiswa tipe “kura-kura” (kuilah rapat-kuliah rapat) karena mahasiswa yang tidak pernah merasa cukup untuk belajar.

Perbedaan tersebut membuat kampus menjadi berwarna, karena ada yang suka menjadi produsen dan juga menjadi penikmat..

Jadi sebaiknya, Jangan Lakukan 7 Hal Berikut Selama Menjadi Mahasiswa :

1. Aktif di organisasi internal kampus

Aktif kegiatan di organisasi intra kampus akan memperluas jaringan pertemananmu, akan ada dimana saat disetiap tikungan lingkungan kampus terdengar suara “Hey” kepada teman-temanmu, dan memberikan manfaat yang banyak. Pengalaman berorganisasi ini berguna untuk memperkaya diri dalam bekerja sebagai TIM dan menjadi bekal mencari prestasi sebanyak-banyaknya.

2. Aktif di organisasi ekstra kampus

Pasti kita semua ingin berprestasi kan? So.. Selain aktif di intra kampus, bergabung dan Aktif di organisasi ekstra kampus akan membuat kita jauh lebih sekedar memperluas jaringan pertemanan melainkan “persaudaraan”. Lebih mengasah kemampuan untuk kreatif dibidangnya. Pengalaman ini berguna untuk melatih jiwa kepemimpinanmu – keahlian yang diperlukan saat kamu mencari kerja nanti. Apabila anda muslim silahkan mencari organisasi ektra kampus yang bernafaskan islam agar tetap dijalan yang di ridho’i Allah SWT.

3. Menjadi asisten dosen

Biaya kuliah tidak selalu murah dan tidak pula selalu mahal, banyak dari dosen yang sangat membutuhkan asisten ketika dosen tersebut mempunyai kegiatan lain selain mengajar. Nah.. ayo deh kita rubah mindset mahasiswa yang kupu-kupu. Mulailah rajin dan tunjukkan bakatmu didunia kampus dengan menjadi insan akademis.

4. Menjadi ketua kelas

Bukanlah hal yang sulit menjadi ketua kelas, yang tugasnya hanya mengkoordinir teman-teman sekelas dan menjalin omunikasi yang baik dengan dosen. Karena disitulah jiwa kepemimpinan kita dibentuk secara emosional. Kita juga akan lebih mengenal dosen lebih dekat daripada mahasiswa pada umumnya. “biasanya sih jaminan minimal nilai B+ dari dosen”

5. Menjadi panitia inti suatu event

Mengkoordinir dan mengkonsep segala hal adalah tugas panitia inti, itulah sebabnya jika anda tidak mau rugi selama menjadi Mahasiswa, disitulah tempat untuk berlatih mengasah kreatifitas. Untuk bekerja sebagai TIM dan menikmati input, process, serta output nya.

6. Perjalanan dadakan keluar kota

Sering tidak, kalian merasa sebuah rencana menjadi wacana?! Telolet om.. hehe, Ya sudah.. lebih baik lakukan saja perjalanan dadakan, habiskan waktumu bersama teman-temanmu untuk refreshing sejenak. Jangan lupa tetap mencari ilmu dan mencicipi kuliner enak yang bertebaran di sepanjang perjalanan. Biasanya perjalanan dadakan yang akan menjadi kenangan tak terlupakan.

7. Buat prediksi 10 tahun ke depa bersama teman-temanmu

Berfikirlah se-‘Liar’ mungkin apa yang ingin kalian capai di 10 Tahun mendatang. Kumpulkan tulisan kalian disebuah blog atau website pribadi. Dan buatlah janji untuk berkumpul pada suatu tempat di tanggal yang sama ketika 10 tahun mendatang. Siap-siaplah berbangga hati jika prediksimu ada yang tepat. Siap-siaplah juga tertawa sedih dan bahagia jika prediksimu itu ternyata meleset.

Itulah 7 hal yang perlu kita perhatikan selama menjadi Mahasiswa. Jangan biarkan masa kuliahmu yang berharga lewat begitu saja, yaa.. semoga sukses!

 

Penulis : Harits Faisal Rahman / FPIK-UB/ PSP / 2014

Referensi : Hipwee.com

KESESATAN LOGIKA HUKUM SK DIKTI

(SK DIKTI Nomor: 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus)
oleh Akbar Nursasmita Ketua Umum LPM Manifest

Sebenarnya apa sih isi dari SK DIKTI tersebut ?
Isi dari SK DIKTI tersebut pada intinya adalah melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan partai politik membuka sekretariat dan atau melakukan aktiivitas politik praktis di kampus.

Kenapa SK DIKTI ini dibahas ?
Karena dari tahun ke tahun sering kali terjadi perdebatan horizontal antara mahasiswa terkait keberlakuan serta substansi dari SK DIKTI ini. Sering kali mahasiswa berdebat dan memberikan tafsirnya masing-masing dalam menanggapi SK DIKTI ini. Untuk itu perlunya analisis secara yuridis untuk memberikan gambaran dan juga informasi hukum secara objektif kepada masyarakat. Hal ini membuat masyarakat secara umum khususnya mahasiswa baru sering kali menjadi korban terkait informasi dari orang-orang yang gagal paham atas SK DIKTI ini.

Nah sekarang pertanyaan yang muncul adalah apakah arti sebenarnya Keputusan itu ?
Dalam buku “Perihal Undang-Undang”, karya Prof Jimly Assidiqie, menjelaskan bahwa Keputusan tersebut berbentuk Beschkking (penetapan menghasilkan keputusan atau ketetapan). Contohnya seperti Keputusan pengangkatan seseorang untuk menduduki jabatan tertentu.
Nah SK DIKTI ini berbentuk Keputusan, maka SK DIKTI seharusnya berbentuk Beschkking. Keputusan yang bersifat Beschkking ini bersifat konkrit, spesifik dan individual. Sehingga bisa dikatakan keputusan bentuk ini ditujukan kepada suatu subjek hukum tertentu dan tidak bersifat mengatur.
Jika kita lihat substansi SK DIKTI maka bisa kita lihat bahwa SK DIKTI lebih bersifat mengatur, padahal SK DIKTI berbentuk Keputusan, bukan pengaturan. Sehingga bisa kita katakan bahwa secara bentuk pun SK DIKTI sudah mengalami ketidak sesuaian terhadap perkembangan teori bentuk dasar dari sebuah produk hukum.


Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya adalah Apakah SK DIKTI masih berlaku ?
Untuk mendapatkan jawabannya, kita perlu mengetahui mengenai konsep tingkatan peraturan perundang-undangan. Dimana suatu produk peraturan perundang-undangan dibentuk berdasarkan perintah atau sebagai pelaksana dari peraturan di atasnya. Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, mengatur mengenai hirarki peraturan perundang-undangan.
Susunan tersebut bersifat hirarkis dan peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang berada dibawahnya, atau bahasa kerennya disebut dengan asas Lex Superior Derogat Legi Inferior.
Kemudian jika kita kaji SK DIKTI ini. Dalam poin mengingat (dasar hukum) SK DIKTI mengacu kepada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dan Undang-undang tersebut sudah tidak berlaku karena telah digantikan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Serta sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi maka pengaturan mengenai pendidikan tinggi sudah tidak mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sehingga bisa kita katakan bahwa SK DIKTI tersebut sudah tidak berlaku, dikarenakan dasar hukum SK tersebut telah tergantikan dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. Pasal 77 ayat (5) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi juga menyebutkan bahwa pengaturan terkait organisasi kemahasiswaan diatur di dalam statuta perguruan tinggi bukan berdasarkan Keputusan Menteri.
Selain itu yang menjadi dasar hukum bahwa SK DIKTI dapat dinyatakan tidak mengikat, dilihat dari Pasal 52 Undang-Undang Administrasi Pemerintahan yang mengatur terkait syarat sahnya keputusan salah satunya yaitu dibuat oeh pejabat yang berwenang , sesuai prosedur dan juga substansi yang harus sesuai dengan objek keputusan serta tiga syarat tersebut harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pasal 56 ayat (2) dijelaskan pula bahwa ketika syarat tersebut tidak terpenuhi maka Keputusan tersebut dianggap batal.
SK DIKTI juga memiliki eror in subject (kesalahan dalam subjek yang diatur), dikarenakan dalam SK DIKTI tidak memberikan kualifasi khusus apa yang dimaksudkan dengan apa itu organisasi ekstra, dan tidak ada dasar hukum di dalam SK yang memberikan pengertian dan kualifikasi terkait organisasi ekstra kampus. Apakah seperti HMI, GMNI, PMII dan organisasi lainnya yang dimaksudkan di dalam SK tersebut, atau kah organ-organ eksternal yang notabene memang organisasi sayap partai tertentu. Sehingga jelas kiranya bahwa SK DIKTI ini mengalami kesalahan atau ketidak jelasan subjek yang diaturnya (eror in subject).
Hal ini juga diperkuat berdasarkan pendapat dari Jimly Assidiqie juga berpendapat bahwa terdapat faktor yang membuat norma-norma hukum dalam suatu peraturan perundang-undangan dapat dinyatakan berlaku. Faktor-faktor tersebut antara lain keberlakuan filosofis, yuridis, politis, dan sosiologis.
Berdasarkan keberlakuan juridis, terdapat pandangan bahwa hukum dikatakan berlaku apabila memang norma hukum tersebut ditetapkan berdasarkan hukum yang lebih superior seperti yang dikatakan oleh Hans Nawiasky dalam teorinya “Stuffenbau Theorie des Recht”.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa SK DIKTI sudah tidak lagi keterikatan atau kekuatan implementatatif. Dikarenakan SK DIKTI sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan norma hukum, perkembangan ilmu akademis hukum, dan juga perkembangan sosiologis masyarakat.
Nah, jika masih ingin berdebat terkait apakah organisasi ekstra boleh diikuti atau tidak dan apa bedanya dengan organisasi intra yah silahkan berdebat lagi. Hehehe. Karena secara metode penafsiran gramatikal pun di dalam SK DIKTI tersebut tidak ada klausa pelarangan untuk mengikuti organisasi ekstra kampus.

Editor : Kresna Arga D

MENILIK PENTINGNYA ORGANISASI MAHASISWA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa dipermudah jika kita mau untuk menjalaninya dengan baik. Caranya, kita harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Kita harus mengikuti arus pergaulan kampus, tentunya pergaulan yang memberikan dampak positif bagi perkuliahan kita.

Di kampus, kita harus bisa membiasakan diri untuk menunjukkan rasa sosial yang tinggi. Itu semua bisa diwujudkan dengan bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Namun dari banyaknya organisasi intra kampus membuat organisasi ekstra kampus turut  menjamur.Organisasi ini menawarkan segitu banyak kelebihanyan dalam upaya pencarian kader. ekstra kampus adalah organisasi yang berada diluar birokrasi kampus. Organisasi ini wilayah geraknya cenderung menasional. Hal ini tentu berbeda dengan organisasi intra kampus yang dibatasi oleh kampus yang menjadi tempatnya berada. Kedudukan organisasi kampus biasanya selalu dipandang negatif di kampus. Dari sekian banyak kampus, keberadaan mereka selalu tersudutkan.

Meskipun demikian, nampaknya peran mereka di kampus tidak seperti apa yang mahasiswa umum pandang. Bahkan sebagian besar pejabat organisasi intra kampus itu sebenarnya adalah para kader dari organisasi ekstra kampus. Dan keberadaan kader-kader ekstra yang mengawal dan mengatur arah pergerakan mahasiswa intra tersebut. Dari banyaknya kader ekstra kampus yang memegang jabatan penting di kampus nampaknya tak lepas dari pola kaderisasi yang diterapkan di organisasi ekstra. Pola kaderisasi yang ada di organisasi ekstra memang terkadang agak terkesan tidak jelas. Semua proses kaderisasi didasarkan atas asas kekeluargaan dan tidak terikat pada momen atau kegiatan tertentu saja. Bahkan waktu kaderisasinyapun sepanjang tahun (kontinu). Hal ini tentu membuat sebagian besar kader dari organisasi ini memiliki wawasan yang jauh lebih banyak bila dibanding dengan kader dari organisasi intra yang proses kaderisasinya hanya terbatas pada momen-momen tertentu saja.

Organisasi sebetulnya sangat penting untuk kebaikan kita sebagai mahasiswa, namun kesadaran berorganisasi itu sangat minim dewasa ini. Sudah semakin berkurang tampaknya mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Padahal, dengan berorganisasi kita mampu menemukan jati diri kita sesungguhnya sebagai kaum intelektual.

Tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan dosen memberi perkuliahan, tetapi kita juga bisa merasakan kepuasan menjadi seorang pemimpin pada sebuah organisasi. Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa kupu-kupu” yang artinya mahasiswa tersebut hanya datang untuk perkuliahan semata. Sementara untuk informasi lainnya yang ada di kampus tidak ia hiraukan jika tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah. Sebaiknya, kita jangan mencontoh mahasiswa yang demikian. Hendaknya kita bisa menjadi mahasiswa sejati dan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan kita dengan berorganisasi di kampus.

Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas. Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato ataupun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai, dengan berorganisasi kita akan dibina untuk hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu untuk berbicara secara terbuka di depan orang banyak. Betapa pentingnya organisasi tidak mampu kita ukur secara formal, namun bisa kita rasakan dengan perasaan. Dahulunya kita hanyalah seorang yang pendiam dan jarang bergaul, setelah mencoba untuk berorganisasi maka kita bisa untuk mengeluarkan pendapat dan berbicara dengan tenang. Kita tidak lagi merasakan gugup atau gemetar melihat kumpulan orang yang akan mendengar apa yang akan kita ucapkan.

Aspek utama yang harus kita miliki dalam berorganisasi yaitu mental yang kuat tapi, mental pun tidak cukup harus ada semangat dan kemauan yang kuat jika ingin perubahan. Jika kita sudah punya semua itu kemauan berlabuh pada sebuah organisasi, maka akan mudah bagi kita untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Seorang mahasiswa akan mengarungi perjalanan panjang untuk meraih mimpinya sebagai seorang sarjana, kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak tentunya. Begitulah kira-kira keinginan semua mahasiswa yang berjuang keras melewati perjalanan panjangnya selama duduk di bangku perguruan tinggi. Perjalanan panjang itu tidak boleh disia-siakan, karena kita harus bisa memanfaatkan segala hal yang baik untuk memberi hasil positif bagi diri kita sendiri. Akan lebih baik jika kita juga mampu memberikan dampak positif bagi orang lain.

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, maka berusahalah untuk bergabung dengan organisasi yang ada di kampus atau semisal berorganisasi ekstra kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan dan mampu menjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Janganlah menjadi mahasiswa seperti batu yang terselip dalam pondasi, yang hanya bertahan pada satu tempat berdiam. Sama halnya dengan mahasiswa yang hanya duduk di bangku kuliah tanpa memberikan umpan balik dalam perkuliahan. Dengan tambahan ilmu tidak hanya pada intra kampus,tapi  program ekstra kampus juga menambah eksistensinya dalam pengorganisasian dimana para kader muda ini ditempa keilmuannya .

Rasa nasionalisme yang tinggi inilah yang biasanya dimililiki oleh sebagian besar kader organisasi ekstra kampus. Pasalnya, di organisasi inilah sebenarnya kebanggaan, kecintaan, dan rasa memiliki di tumbuhkan lewat kajian-kajian sederhana tentang ke-indonesiaan. Dari diskusi sederhana itulah semua wawasan tentang keindonesiaan didoktrinkan hingga kader-kadernya mampu benar-benar menjiwai rasa nasionalime mereka. Hal ini sebenarnya mampu mengisi kekurangan yang dimiliki oleh kampus, yaitu kurangnya pendidikan tentang keindonesiaan. Oleh karena itulah sebenarnya, organisasi ekstra kampus ini sangatlah dibutuhkan oleh seorang mahasiswa untuk melengkapi ilmu yang mereka pelajari di kampus.

 

Ketika ingin mengubah sesuatau, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetahui apa yang harus diubah. Sulit bagi siapa saja yang hidupnya ingin baik, tapi tidak tahu harus dimulai dari mana.

Bila sejak usia remaja mereka terbiasa untuk santai tidak berguna. Ketika dewasa nanti kebiasaan buruk itu akan sulit untuk dirubah,seperti noda yang melekat dibaju tidak bisa hilang ketika dicuci. Memang terlihat enak saat ini tapi eneg di kemudian hari.

 

Penulis : Ipin Orsela

Editor : Harits Faisal Rahman

Realitas Sejarah Masa Lalu, Menjadi Mimpi Utopis Masa Kini

Majapahit sempat mencapai masa kejayaannya dan bertahan sampai sekitar 200 tahun. Saat itu, ukuran kapal-kapal dari Jawa jauh lebih besar daripada kapal armada Cina bahkan kapal-kapal Eropa termasuk yang dipakai oleh Vasco da Gama ketika sampai di India. Dalam militer, meriam bertarikh 1389 M dan berstempel lambang Majapahit sudah ada sebelum Portugis datang ke Nusantara. Ilmu astronomi dikuasai untuk pelayaran dan sistem kalender sebagai patokan musim tanam. Kompas juga sudah digunakan, saat itu disebut ‘pedoman’ (diambil dari kata ‘dom’ atau jarum penunjuk arah). Produk UU seperti KUHP bahkan sudah dikenal pada era sebelumnya. Disiplin teknik sipil pun sudah dikuasai, dapat dibuktikan dari peninggalan candi. Catatan Cina mengatakan bahwa ibukota Majapahit dipagar keliling setinggi 5 meter dan pendopo bangunan Majapahit yang lebih tinggi daripada milik Kerajaan Sunda yang memiliki 380 balok tiang penyangga, ukuran yang besar pada masa itu.

Saat itu struktur sosial masyarakat, otoritas tertinggi nusantara dipegang oleh orang-orang yang jauh dari kepentingan duniawi dan hasrat rendahan seperti menumpuk harta, saat itulah Nusantara menuju kebesaran dan meraih kejayaan, bahkan disegani oleh negara-negara lain.

Struktur masyarakat Majapahit saat itu digambarkan terdiri atas tujuh lapisan kelompok warga. Adanya pembagian struktur masyarakat seperti ini, sepintas kesannya sangat feodal. Karena ada warga negara yang paling tinggi dan ada warga negara yang paling rendah. Padahal spiritnya bukan perbedaan kelas sebagaimana yang berlangsung seperti di jaman Hindia Belanda. Tapi lebih merupakan pembagian berdasarkan realitas yang ada berdasarkan nilai yang diyakini saat itu, yang bersesuaian dengan fungsi dan peran kelompok warga dalam negara.

Parameter pembagian golongan sosial masyarakat ketika itu ditentukan berdasarkan pada kuat tidaknya keterikatan seseorang atau kelompok warga pada materi atau urusan keduniawian. Makin jauh keterikatan pada materi dan hasrat keduniawian, makin tinggi martabatnya di tengah masyarakat. Dan sebaliknya semakin kuat keterikatannya pada materi dan hasrat keduniawian, makin rendah martabatnya.

Karena itu lapisan masyarakat tertinggi di Majapahit diduduki oleh kaum rohaniawan yang umumnya juga sekaligus seorang budayawan, mereka hidup di hutan, gunung, dan gua-gua yang jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk perebutan akses dan penguasaan atas urusan duniawi. Seluruh lapisan masyarakat yang ada di bawahnya hormat dan melindungi kaum rohaniawan (Brahmana, Mpu). Mereka inilah yang dianggap sebagai golongan tertinggi, tugasnya membimbing masyarakat yang ada di bawahnya.

Lapis berikutnya adalah golongan Ksatria yang menjadi abdi negara, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kekayaan pribadi, mereka mengabdi pada negara dan hidup dari negara (dalam arti dibiayai kebutuhan makan, pakaian, dan diberi rumah). Termasuk dari golongan ini adalah raja dan keluarganya, para Menteri, pembesar kerajaan dan tentara kerajaan. Rampasan perang bukan menjadi milik pribadi, tapi diserahkan pada negara. Jika ada seorang ksatria yang diketahui memiliki rumah pribadi besar, maka dia disebut ksatria panten. Yaitu ksatria yang harus dihindari atau dikucilkan. Masyarakat tidak boleh melayani orang seperti itu. Negara harus bersih dari orang yang mempunyai pamrih pribadi.

Golongan berikutnya adalah Waisya, yaitu kaum petani. Kaum petani lebih rendah dibanding dua golongan sebelumnya karena dianggap punya keterikatan pada materi duniawi, sebab mereka punya rumah, tanah, dan ternak, atau dengan kata lain mempunyai kekayaan adalah hasrat keduniawian. Namun, kedudukan mereka dihargai karena merekalah yang menjamin ketersediaan pangan seluruh warga.

Di bawah itu adalah golongan Sudra, yaitu para saudagar, para rentenir, para tuan tanah, atau mereka yang memiliki kekayaan berlebihan. Mereka ini tidak boleh bicara tentang agama. Menurut pandangan yang berlaku kala itu, menumpuk kekayaan adalah manifestasi nafsu atau hasrat akan keduniawian. Dan mereka dilarang bicara agama sebab mental dagang dan mencari keuntungan, maka dikuatirkan mereka akan menjual ayat-ayat untuk keuntungan pribadi.

Perlu digarisbawahi, sebenarnya Islam sudah masuk Nusantara sejak abad 8 M, tapi ternyata Islam tidak berkembang. Salah satu alasannya adalah di awal kedatangannya Islam disebarkan oleh para saudagar. Di mata pribumi, profesi berdagang tidak cukup dipandang baik dalam hal agama. Karena itu islam baru berkembang pesat dan diterima di Nusantara ketika yang menyebarkannya adalah para intelektual yang mempunyai wawasan budaya, suci dari hasrat keduniawian, tinggi tingkat spiritualitasnya, yakni kalangan Wali Songo.

Selanjutnya Candala, yaitu mereka yang berprofesi sebagai jagal, termasuk di dalamnya algojo. Meskipun disahkan oleh negara, mereka dianggap rendah strata sosialnya karena untuk hidup saja harus membunuh sesama makhluk. Pengeremasi mayat masuk dalam golongan ini.

Dibawahnya ada golong Mleccha, yaitu orang asing yang tinggal di Majapahit. Sejak zaman Mataram Kuno golongan ini sudah ada. Di mana semua orang asing masuk golongan wong kiwahan, yang artinya orang rendahan atau pelayan. Karena penduduk asli diberi kedudukan sebagai wong yekti, wong mulia atau orang agung. Jadi orang asing zaman itu di wilayah Mataram Kuno sampai Majapahit bekerja sebagai pelayan dan tidak boleh lebih dari itu. Saat itu jika ada pribumi bekerja sebagai pelayan, akan diadili.

Terakhir adalah golongan Tuccha yaitu kalangan pecinta materi duniawi yang tidak mau memahami hak orang lain. Yang termasuk golongan ini di antaranya: penipu, maling, begal, rampok, dan perompak (termasuk mereka yang korupsi, tapi saat itu tak ada korupsi). Mereka ini dianggap paling rendah martabatnya sebab untuk hidup saja melanggar hak-hak orang lain.

Pola struktur sosial masyarakat seperti itu juga berlaku sampai era Demak dan Pajang, meski nuansanya berganti Islami. Pemegang otoritas tertinggi menyangkut kemaslahatan masyarakat dan negara dipegang oleh mereka yang jauh dari hasrat duniawi, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh rohaniawan yang duduk dalam lembaga Wali Songo.

Wilayah Indonesia saat ini hanyalah bagian dari wilayah Majapahit di masa kajayaan Nusantara, atau spesifiknya lanjutan dari teritori Hindia Belanda, termasuk politik dan hukum yang diwariskan.

Lihatlah tatanan nilai masyarakat dan fakta sekarang: niatnya dagang (baca: ingin kaya) tapi masuk jadi tentara, jadi polisi, bahkan menjadi birokrat, politisi, jadi bupati/walikota, gubernur, anggota DPR, menteri bahkan Presiden. Jadi Ksatria tapi kerjanya menumpuk harta dan pamer kekayaan, ingin menjadi pemimpin modal andalannya harta kekayaan. Seseorang yang harusnya berdakwah, malah mengomersilkan ayat suci, atau ada yang menjadi bintang iklan dengan memanfaatkan kepopulerannya sebagai figur umat.

Bukan berarti tidak boleh orang berprofesi sebagai pedagang. Menurut Rasulullah, seorang pedagang bisa masuk surga dan akan dikumpulkan dengan kaum sidiqqin (orang-orang yang benar), jika berdagangnya jujur, tidak menipu, dan tidak tamak dalam mencari keuntungan. Dan bukan tidak boleh mencari nafkah dengan menjadi bintang iklan. Tetapi, secara etika, profesi ini tidak pantas dilakukan oleh mereka yang dengan perannya dapat mempengaruhi umat. Sebab bagaimanapun iklan adalah bentuk ketamakan kaum kapitalis.

Demikian pula, bukan tak boleh seorang pedagang menjadi pemimpin. Rasulullah pun tadinya juga berdagang. Tetapi begitu beliau menjadi pemimpin umat, beliau meninggalkan profesinya sebagai pedagang. Demikian semestinya, seorang pemimpin begitu mencalonkan diri dan apalagi jika sudah terpilih menjadi seorang pemimpin, dia harus menanggalkan kepentingan bisnisnya. Sebab dia harus memikirkan kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.

kepemimpinan sejati bersumber dari kekuatan moral dan bukan dari hal-hal yang sifatnya artifisial seperti jumlah kekayaan. Dan hanya pemimpin yang mempunyai integritas, etika, moralitas, dan spiritualitas yang akan mampu membawa sebuah bangsa menuju kejayaan.

Banyak tokoh pada waktu kemerdekaan terpengaruh oleh pemikiran barat yang jelas menimbulkan masalah di tempat asalnya dan belum teruji waktu menjadi ironi sendiri bagi sejarah panjang Nusantara. Sistem-sistem tersebut lah yang pada ‘praktiknya’ dipakai sepanjang sejarah Indonesia. Sebut saja komunisme, kapitalisme dan demokrasi voting. Kapitalisme menciptakan kesenjangan sosial dan menyempitkan kesempatan si miskin. Komunisme dengan semangat penghapusan kelas, justru menimbulkan kelas baru, kelas pemerintah, politisi merah yang menguasai kekuasaan negara atas nama partai.

Demokrasi saat ini merupakan bentuk penghinaan terhadap Pancasila termasif, sila keempat tepatnya, voting merupakan jalan satu-satunya dalam memilih wakil rakyat dan pemimpin negeri ini. Suara setiap orang, latar belakang apapun, ahli kitab, professor, penipu, sampai pembunuh sama.

Bukankah Tuhan menciptakan tiap individu unik sehingga dunia ini berwarna? Seperti seseorang sangat berbakat dan yang lain perlu bersusah payah, atau kemampuan seseorang menahan nafsunya atas dunia. Bukan berarti mengejar dunia adalah buruk . Karena ada mereka yang mengejar dunia, kemudahan hidup modern dapat tercapai. Menjadi buruk ketika dilakukan berlebihan. Oleh karena itu suara setiap orang dalam urusan yang menyangkut kehidupan orang banyak (kekuasaan, politik) tidak sepatutnya sama, seperti yang dikatakan demokrasi. Ini berkaitan dengan pengendalian diri. Apakah itu penafsiran sila kelima? sama rata?

Konsep keadilan sejatinya adalah
Sesuai dengan porsi. Sesuai dengan keahlian di bidangnya dan kemampuannya menahan diri.
Kesempatan yang sama. Setiap individu berhak dan berkesempatan untuk mencapai tingkat yang tinggi kalau mereka mau melepaskan keterikatannya dengan dunia.
Legowo. Pada akhirnya tiap-tiap individu harus menyadari kelebihan dan kekurangannya sehingga tidak ada dengki dan dunia menjadi lebih ramah bagi tiap orang.

(Catatan elaborasi penulis pada Sarasehan Budaya dalam rangkaian acara Banawa Sekar)

 

Penulis : (Naufal Arif)