Mahasiswa Universitas Brawijaya Menciptakan Teknologi Pengasapan Ikan Dengan Sistem Recycle Smoke

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Terdapat 3 Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya yang terdiri dari Hidayatun Muyasyaroh (THP), Imam Muhammad Bagus (AP), dan M. Ubaidillah Al-Bustomi (BP) menciptakan sebuah teknologi pengasapan berbasis vakum dengan sistem recycle limbah.

Tim yang dibimbing langsung oleh Dr. Ir. Yahya, MP dan didampingi oleh Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc mengubah teknologi pengasapan tradisional menjadi teknologi moderen dengan  desain  recycle sistem. Hal ini bertujuan untuk mengolah limbah asap menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.

Ide pembuatan alat ini muncul didasari pada saat salah satu mahasiswa dari tim PKM melaksanakan program magang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB di UKM pengasapan Sekar Wangi desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Selain mengikuti proses pengasapan, mahasiswa ini diminta membatu pemerintah Tuban untuk melakukan survey pendataan di Kecamatan Rengel yang memiliki usaha pengasapan. Dari hasil survey menunjukkan 100% pengasapan di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban masih menggunakan teknologi tradisional.

“Penggunaan teknologi pengasapan tradisional memiliki banyak kelemahan diantaranya menghasilkan limbah berupa asap yang menyebabkan polusi udara, pengasapan dilakukan ditempat terbuka sehingga rawan terjadi kontaminasi, proses pengasapan terlalu cepat dengan suhu tinggi sehingga terjadi case hadeninng (produk matang bagian luar tapi masih mengandung banyak air didalamnya.”

Seperti yang diungkapkan Hidayatun Muyasyaroh selaku ketua tim, dibentuklah tim untuk memecahkan permasalahan tersebut. Banyak UKM pengasapan yang berharap dapat meningkatkan produk ikan asap dari segi kualitas dan kuantitas.

ECHOSMOKE merupakan terobosan baru dari alat pengasapan yang menggunakan sistem recycle limbah asap.  Alat ini dapat memperbaiki dari segi kualitas dan kuantitas produk ikan asap, mengurangi polusi, dan menghasilkan limbah yang bernilai ekonomis yaitu asap cair. “Asap cair dapat digunakan sebagai anti bakteri dan pemberi flavor pada produk. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa fenol dan asam-asam organik mampu menghambat pertumbuhan mikroba, selain itu terdapat senyawa fenolat yang berperan dalam memberikan flavor pada ikan asap” tambah Ubaidillah

Menurutnya kedepan akan semakin berkembang pesat penggunaan teknologi pada semua bidang, sehingga UKM yang masih bertahan dengan cara tradisional harus dibantu dengan sentuhan teknologi untuk menghasilkan produk berkualitas dan tidak menghasilkan limbah.

Tak ada yang tak mungkin untuk menjawab tantangan Zaman, terus berkarya dan berdoa because every research has a story to tell 🙂

Penulis : TIM REDAKSI

The Importance of Paper for Sustainable Development

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Apakah ilmu hanya akan di simpan di dalam otak tanpa menyimpannya di suatu kertas ? apakah pensil dan tinta harus di lenyapkan keberadaannya jika kertas sudah tidak lagi di butuhkan ? dan apakah tinta dan printer harus di lupakan karena tidak bergunanya kertas ?

Kertas
Apalah arti suatu ilmu tanpa secuil kertas, apalah arti sebatang pensil tanpa secorek kertas, apalah arti sebotol tinta tanpa selembar kertas dan apalah arti printer tanpa adanya kertas. Kertas, mungkin tidak terlalu berarti bagi manusia penggila gadget, internet dan segala bentuk dunia social media. Kenapa ?
Informasi sudah bisa tersebar melalui media sosial, kita bisa mengupdate informasi melalui internet, twitter, instagram atau bahkan facebook.

Mark zuckeberg memudahkan kita bertukar informasi dan menyampakan informasi bahkan suatu ilmu melalui facebook, dan itu tanpa menggunakan kertas serta lebih mudah di akses. Siswa atau bahkan mahasiswa tidak perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya untuk membeli buku atau menggandakan buku untuk keperluan sekolah karena sudah ada E-book di Internet, jadi bisa lebih hemat kertas.

Berita-berita tentang pemerintah, selebriti, tindakan kriminal dan yang lain lebih mudah tersebar melalui televisi, internet dan segala macam bentuk sosial media, jadi untuk apa boros kertas hanya untuk mencetak berita-berita di koran ? toh tidak banyak yang berlangganan koran. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam hal hemat pengeluaran dan biaya kertas kan ? toh kalau sudah tidaak terpakai kertasnya bisa langsung di buang menjadi sampah.

Apa semua uraian di atas itu benar ?

Hai kawan, sadarlah, ingatlah sebelum kalian mengenal yang namanya gadget, sebelum kalian mengenal apa itu instagram, twitter, line, whatsapp dan facebook… apa yang kalian baca sebelumnya ? media apa yang kalian gunakan untuk menulis ? ketika kalian hendak merancang sesuatu apa bisa kalian langsung tulis dan share dengan gadget ? atau mungkin kalian membuat kerangka acuan apapun di tembok ?

E-book, Google, Journal electric, Google Schoolar dan masih banyak yang lain. Alat tersebut memang sangat sangat penting sekali dalam era sekarang, dimana kids jaman now yang kebanyakan makan micin selalu membutuhkannya. Mengerjakan tugas sekolah, PR, informasi mengenai kesehatan, selebritis, bahkan ketika sedih putus dengan pacar yang di cari pertama kali malah gadget. Browsing tentang materi sekolah atau perkuliahan dari internet, informasi kesehatan, kecantikan, selebritis dari berbagai macam sosial media yang ada. Bahkan ujian akhir di tingkat SMP dan SMA saja sekarang sudah tidak menggunakan kertas, yang di butuhkan hanya personal computer, raport saja sekarang sudah online tanpa susah-susah menggunakan kertas untuk mencantumkan nilai hasil belajar siswa. Lalu ?

Apa peranan kertas pada era sekarang ini ? apakah kids jaman now menyadari atau bahkan mengetahui fungsi kertas pada zaman dulu bahkan sampai sekarang ?

Ku rasa Mereka haya mengerti sedikit. Menurutku tidak hanya kids jaman now saja yang melupakan peranan penting kertas pada zaman ssekarang. Banyak para orang tua, birokrat – birokrat yang juga terlena dengan adanya gadget ini sampai mereka berhenti langganan koran karena sudah bisa mengakses berita atau informasi melalui internet. Lalu apakah perusahaan media cetak harus di tutup hanya karena keberadaan kertas disini kurang di butuhkan ? apakah perusahaan penghasil kertas juga harus di tutup karena tidak banyak yang membutuhkan kertas saat ini ?

Oh Tidak,

Apa jadinya kalau perusahaan kertas sampai tidak produksi kertas lagi, apa jadinya kalau perusahaan media cetak harus di tutup. Bagaimana nasib pekerja atau karyawan di perusahaan media cetak dan kertas apabila perusahaannya di tutup ? haruskah mereka beralih profesi menjadi seller gadget ? atau bahkan mereka harus beralih menjadi penjual micin ? dan apakah benar menghemat pengeluaran kertas untuk mencegah global warming ?
Tahukah kalian semua wahai penghianat kertas ?

Kami disini para mahasiswa, para siswa, dosen, guru, atau bahkan semua yang masih ingat atas jasa kertas sebelum adanya gadget ini sangat sangat amat membutuhkan adanya kertas. Bagaimana nasib kita para siswa, murid SD atau bahkan TK yang tidak mengenal gadget atau bahkan tidak akan mampu mengenal gadget bisa belajar dengan baik kalau keberadaan kertas di hapuskan, bagaimana mereka akan membaca materi sekolah apabila materi sekolah hanya ada di dunia maya ? bagaimana nasiib mahasiswa mencetak laporan praktikumnya apabila kertas di binasakan ? bagaimana nasib mahasiswa tingkat akhir mengabadikan tugas akhirnya apabila kertas di musnahkan ? bagaimana nasib penjual nasi uduk di pinggir jalan. Bagaimana nasib tukang gorengan, bagaimana nasib tukang fotokopi ? bagaimana ??

Mungkin kalian tidak tahu betapa berharganya kertas dalam kehidupan sehari-hari kami, kami sangat membutuhkan kertas untuk alat pendidikan kami mencapai tittle sarjana. Para pekerja di perusahaan media cetak,perusahaan kertas , hanya ingin membantu kami para penghuni bumi ini agar apabila keadaan gadget kalian sudah tidak mampu memenuhi apa yang kalian butuhkan akan informasi, kalian masih bisa memanfaatkan kertas untuk memenuhi kebutuhanmu itu. Teruslah berjalan wahai kertas di bumi yang penuh dengan manusia kejam ini yang seolah-olah tidak menganggap keberadaanmu.

Mereka juga akan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya melihat gadget dan pada akhirnya juga mereka akan membutuhkanmu. Tetaplah berda di belakang manusia dan tunjukkan bahwa kertas takkan tergantikan.

Lantas ?
Apakah Martin Cooper menciptakan gadget, Kevin Systrom menciptakan instagram, Mark Zuckerberg menciptakan facebook , Jan Koum menciptakan aplikasi whatsapp, Lee Hae Jin menciptakan applikasi line sengaja menentang seorang Cai Lun yaitu tokoh berkebangsaan Tionghoa yang menciptakan kertas untuk pertama kali ?

Apakah mereka tokoh-tokoh pencipta applikasi media sosial sengaja ingin melenyapkan nama Conrad Gessner pencipta pensil dan Laszlo Biro penemu bollpoint karena pensil sudah tidak akan berguna lagi karena tidak adanya kertas ? atau juga mereka sengaja melupakan Johannes Gutenberg penemu mesin cetak pertama kali agar tidak perlu mencetak kertas karena hanya membuat pemanasan global ?

Tentu saja jawabannya tidak.!

Apakah Martin Cooper, Kevin Systrom, Mark Zuckerberg, Jan Koum dan Lee hae Jin adalah tokoh-tokoh yang lebih baik dari Cai Lun, Conrad Gessner, Laszlo Biro dan Johannes Gutenberg atau mereka tokoh-tokoh muda pencipta media sosial adalah penyelamat dunia karena dapat mempermudah manusia mengakses informasi dan yang lain tanpa adanya kertas yang katanya semakin banyak kertas yang di gunakkan maka bumi ini akan terjadi pemanasan global ?

Mungkin saja mereka (pencipta sosial media) lebih cerdas dari pada penemu-penemu terdahulu, mereka mencipatakn semua itu hanya karena mereka mengeksplore kemampuan mereka dalam bidangnya. Saya yakin juga mereka tidak melupakan sejatinya fungsi kertas bagi kehidupan mereka, karena kertas sangat di butuhkan untuk kehidupan yang berkelanjutan ini.

Rethink guys.. how important the paper from the past until now …

Penulis : Siti Rahmawati / PSP’15 / FPIK-UB

Editor : HFR / PSP’14 / FPIK-UB

Review buku ” tragedy of the common”

RUMAH ILMU BRAWIJAYA – MALANG, Tragedi adalah suatu kejadian yang menyedihkan, tragis. Sedangkan commons adalah lahan milik bersama atau kepemilikan bersama, contohnya adalah padang penggembalaan (padang rumput yang tidak ada pemiliknya). Oleh karena itu, tragedy of the commons dapat diartikan sebagai masalah yang muncul ketika populasi bertambah secara terus menerus, lahan semakin sempit dan akhirnya menjadi rebutan. Tragedy of the commons terjadi ketika lahan milik bersama digunakan secara bebas dan tidak ada aturan penggunaannya, sehingga setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Artikel mengenai thetragedy of the commons ditulis oleh Garret Hardin (1968). Garret Hardin adalah seseorang yang anti bantuan international. Ia tidak setuju dengan bantuan berupa hutang. Ia juga merupakan seseorang yang mendukung adanya aborsi atau pengguguran kandungan dan bunuh diri. Menurutnya, aborsi dan bunuh diri dapat menghambat laju pertumbuhan penduduk sehingga lahan tidak semakin diperebutkan.

Pokok perhatian Hardin yaitu “Kebebasan berkembangbiak tidak bisa diterima”. Menurutnya, perkembangbiakan harus dibatasi. Semakin banyak jumlah orang dalam suatu daerah maka semakin sedikit sumber daya yang tersedia bagi setiap orangnya. Jika ongkos untuk membiayai seorang anak rendah, maka banyak orang akan memiliki banyak anak. Jika biaya mahal, maka orang akan berpikir dua kali ketika ingin menambah anak. Asumsinya, anak adalah hal yang bagus bagi orang tuanya, tetapi bagi masyarakat hal tersebut bisa menjadi kebalikannya. Penambahan anak turut menambah jumlah penduduk sehingga jatah setiap masyarakat di daerah tersebut semakin sedikit.

Tragedy of the commons muncul karena adanya kerakusan. Potensi masalahnya adalah kecenderungan setiap orang untuk memaksimalkan keuntungan/profit. Hal ini digambarkan juga dengan pertambahan sapi-sapi di suatu padang rumput. Bagi pemilik sapi, pertambahan jumlah sapi bisa meningkatkan keuntungan karena pemilik sapi itu dapat menjual sapi-sapinya sehingga mendapatkan uang. Tetapi pertambahan sapi juga membuat padang rumput semakin penuh dan pemilik sapi saling berebut lahan untuk menggembalakan sapi mereka yang bertambah banyak. Selain penggembala sapi yang saling berebut, persediaan makanan bagi sapi-sapi di padang rumput itu juga semakin menipis.

Thomas Malthus (1766-1834), seorang ahli politik ekonomi dari Inggris, seperti ditulis dalam Hardin (1968) mengatakan bahwa jumlah penduduk bertumbuh secara eksponen (kelipatan). Sedangkan lahan pertanian tumbuh secara deret hitung. Hal ini memunculkan masalah kelaparan dan perebutan lahan karena pertumbuhan penduduk secara eksponen terjadi sangat cepat dibanding lahan pertanian yang tumbuh secara deret hitung.

Kelebihan jumlah penduduk dan kompetisi untuk mendapatkan pangan berpotensi menjadi masalah. Menurut Garret Hardin, beberapa masalah, termasuk masalah kependudukan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan solusi teknis. Beberapa masalah juga tidak dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Karena tidak ada solusi secara teknis, maka solusi yang diberikan berupa solusi politik. Solusi politik adalah solusi yang berasal dari pemerintah. Solusi ini berupa Undang-undang, kebijakan, dan sanksi. Contoh negara yang sudah menerapkan solusi politik untuk mengatasi masalah kependudukan adalah Tiongkok. Tiongkok pernah memberlakukan peraturan mengenai satu keluarga satu anak. Jika satu keluarga memiliki anak lebih dari 1 maka konsekuensi dan sanksi harus ditanggung oleh orang tuanya.

Pada era modern saat ini, permasalahan yang ada pada modern commonsyaitu penangkapan ikan secara besar-besaran menggunakan alat yang dapat merusak lingkungan, polusi yang terjadi pada air, udara, dan tanah, serta polusi suara, misalnya kebisingan. Selain itu, penggunaan taman nasional secara berlebihan juga dapat menimbulkan masalah, misalnya banyak eksploitasi seperti penebangan, pembukaan lahan, dan tambang di taman nasional. Masalah lain yang juga muncul saat ini adalah kelebihan jumlah penduduk yang membuat energi (bahan bakar, listrik), makanan, dan standar hidup menjadi turun.

Menurut Hardin, mengharapkan kesadaran individu dalam menyelesaikan permasalahan kepadatan penduduk tidak bisa diandalkan. Manusia lebih mementingkan keuntungan bagi dirinya dan dengan adanya banyak anak ia akan dapat melanjutkan keturunan serta lebih banyak menguasai lahan. Kepedulian pada penduduk lain pun semakin berkurang, bahkan manusia mulai saling berebut lahan.

The new commons atau bisa disebut lahan baru diperlukan ketika terjadi masalah kepadatan penduduk dan perebutan lahan. Namun, lahan baru itu tidak bisa digunakan seenaknya sendiri. Ada alternatif yang dibuat agar tidak terjadi perebutan lahan lagi. Bentuk alternatif itu misalnya pemaksaan yang dibuat secara bersama-sama. Harus ada pembatasan dengan paksaan karena kesadaran diri tidak bisa diandalkan. Pemaksaan secara bersama-sama dilakukan dengan mengubah commons menjadi private. Lahan milik umum dibuat kepemilikan yang jelas atau ada pembatasan yang disetujui bersama-sama antar pengguna lahan. Misalnya, setiap orang dibatasi memiliki 5 sapi saja sehingga tidak timbul kelebihan, pembatasan emisi kendaraan bermotor, pembatasan penangkapan ikan, dan pembatasan lain yang disetujui bersama termasuk sanksi yang diberikan jika ada orang yang melanggar batas tersebut.

 

Penulis : Dzaki Almas / IK-FPIK UB / 2014

Editor : Harits Faisal Rahman / PSP-FPIK_UB / 2014

Referensi : Hardin, G. (1968). Tragedy of the Commons. Vol.162. www. sciencemag.or

Masyarakat Hukum Adat MANE’E

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Sudah tahu kah anda hukum adat pesisir? Mane’e adalah upacara adat masyarakat pesisir yang ada di sulawesi utara loh.. Sebuah upacara adat yang di sebut mane’e bermakna “mengambil ikan di laut secara bersama setelah ada musyawarah mufakat”.

Mane’e merupakan tradisi lisan yang spesifik yang telah berlangsung berabad abad dan diperkirakan berlangsung sebelum abad XV dan terekam melalui sejarah kelisanan mulai abad XIV, saat dokumen dan  catatan sejarah mulai ada. Tradisi mane’e di kalangan masyarakat talaud merupakan bagian dari keunikan lokal dan sebuah  peristiwa sosial. Upacara tradisi mane’e mengandung kearifan kearifan lokal masyarakat yang hidup sangat bersahaja.

Pelaksanaannya ketika air pasang tertinggi dan pasang surut terendah pada bulan purnama atau awal bulan mati yang didasarkan pada perhitungan pergerakan bintang. Dalam upacara tradisi mane’e diiringi doa atau puji-pujian dalam bentuk mantra. Ikan ikan akan berdatangan dalam kolam kolam buatan yang telah di siapkan.

Penasaran ga sih.. lihat vidionya ya.. kuy cek it out :

MANE’E IN INDONESIA PARADISE

LET JUSTICE BE DONE THOUGH THE HEAVENS FALL

Sungguh kata-kata yang indah…
RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Berasal dari ucapan Lucius Calpurnius Piso Caesoninus pada pidatonya di tahun 43 SM , yaitu “Fiat justitia ruat caelum”. Dalam sejarah Ilmu Hukum “Fiat justitia ruat caelum” berarti “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh”. Kalimat tersebut sebenarnya punya sejarah kelam. Kalau ingin tahu ceritanya, bisa baca naskah drama Seneca yang berjudul “Piso’s Justice”, pada bagian sub judul “De Ira” (kemarahan). Inti ceritanya Piso dengan kalimat “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh” telah secara kejam menghukum mati tiga orang serdadu Romawi yang tidak seharusnya dihukum.
Dalam ilmu hukum, jargon ini pada akhirnya menunjukkan ironi pada hukum, karena akhirnya Hukum tak selalu identik dengan Keadilan. Dalam perkembangannya, ungkapan Piso tersebut dijadikan falsafah bagi para tiran guna melakukan kesewenang-wenangan asalkan ‘hukumnya telah ditetapkan’. Jadi makna ungkapan “Fiat justitia ruat caelum” menurut Piso adalah apapun yang terjadi, suatu keputusan hukum tetap harus dilaksanakan. Tak peduli apakah hukum tersebut benar atau salah, karena yang dinamakan keadilan adalah apa yang telah diputuskan oleh Penguasa melalui persidangan.
 .
Persidangan-persidangan korup dengan pertimbangan materil di atas nurani, membela mereka yang bayar. Persidangan dengan dasar hukum cacat kreasi makhluk sok sempurna. Hingga akhirnya langit runtuh dan Tuhan sendiri lah yang menegakkan hukum dan mendefinisikan keadilan. Justice can’t be done unless the heavens fall.
 .
Keadilan Tuhan identik dengan Surga dan Neraka. Kepercayaan yang tersebar luas mengatakan bahwa yang berlaku baik selama hidupnya akan merasakan kenikmatan di Surga yang ‘tidak pernah terlihat dan terdengarkan oleh siapa pun, bahkan tak pernah terbetik dalam benak siapa pun’. Sementara yang berlaku keji selama hidupnya akan disiksa dengan azab yang pedih. Namun, keadilan macam itu pun dikritisi. Dilihat dari sisi lain, Surga bisa menjadi siksaan apabila sekadar dianggap sebagai pemuasan hasrat dan Neraka menjadi nikmat ketika dimengerti fungsinya sebagai proses pemurnian. Itulah sejatinya makna azab dalam akar kata bahasa Arab. Azab bukanlah siksaan, tapi proses pemurnian kembali. Seperti halnya emas dalam proses pemurnian.
 .
Memang manusia munafik dan tidak pernah puas.
 .
Penulis : Naufal Arif
Referensi: Tejo, Sujiwo dan M.N. Kamba. 2016. Tuhan Maha Asyik.

MISTERI MASJID JIN DI MALANG, JAWA TIMUR

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Masjid jin atau yang biasa di sebut masjid tiban yang ada di Malang sempat mengundang kaget warga Negara Indonesia bahkan warga Negara asing (WNA) turut penasaran dengan masjid tersebut. Dengan bangunan yang sangat megah muncul di tahun 1978 diperkirakan menghabiskan 800 Miliar tanpa meminta sumbangan sepersenpun dari siapa saja.

Lokasi Masjid itu tepatnya berada di RT 27/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi mobil ataupun motor, tapi jangan lupa untuk selalu Tanya kepada penduduk sekitar agar tidak tersesat dijalan.

Loh kok bisa sih di sebut masjid jin? Padahal kan masjid itu tempat suci umat muslim.. Apa yang buat Jin? Tidak.

Masjid ini didirikan langsung oleh pemilik yang sekaligus pengasuh pondok pesantren yaitu KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad. Rintisan pembangunan masjid dimulai tahun 1963 dan pembangunan fisik dimulai tahun 1978 dengan material seadanya. Seiring pembangunan tersebut mulai ada santri yang menetap. Para santri pun turut serta dalam pembangunan. Pembangunan dilakukan tahap demi tahap. Tahun 1992, pembangunan masjid sempat terhenti. Pada akhir 1998 kembali diteruskan dan hingga saat ini.

Ada sejumlah fakta yang menarik hingga ke luar negeri, berikut adalah Misteri Masjid Jin :

1. Masjid Jin dibangun tahun 1978

Namun hingga saat ini masjid yang memiliki arsitektur unik itu belum juga selesai. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah rampung.

2. Dibangun tanpa Gambar

Uniknya, masjid yang memiliki 10 lantai dan berdiri di lahan seluas 6,5 hektare itu dibuat tanpa ada gambar rancangan atau desain.

3. Desainnya berdasar mata batin Kiai

Desain bangunan tempat ibadah itu dibangun hanya semata-mata dengan mengandalkan mata batin melalui shalat Istikharah.

4. Memiliki ruang bawah tanah untuk beribadah

Ruangan bawah tanah dulunya masih ada stalaktit stalakmit yang sudah direnovasi untuk berwudhu sebelum menjalankan ibadah sholat bagi umat muslim.

5. Memiliki Ratusan Menara

Dari penampakannya ”Masjid Jin” memiliki  ratusan menara. Tinggi menara itu kabarnya tidak sama.

6. Berada di Komplek Pesantren Salafiah

Jika melihat dari papan nama yang terpampang di pintu masuk ”Masjid Jin”, jelas tertulis: Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah.

7. Tidak semua Ruangan Dibuka

Jadi, setiap pengunjung bisa menyaksikan setiap ruangan yang ada. Namun, tak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung.

8. Ratusan Ruangan dalam 10 Lantai

Untuk menghitung jumlah ruangan di setiap lantai, tim juga sempat kesulitan. Selama tiga jam lebih, beberapa anggota tim disebar untuk secara khusus menghitung jumlah ruangan mulai dari lantai 1 hingga 10. Ada yang mencatat 173 ruangan ada juga 184.

9. Konstruksinya Serampangan

ada kesan kuat yang langsung tebersit. Yakni, konstruksi bangunannya terkesan tidak tertata dan sekilas agak serampangan.

10. Dominasi ornamen berwarna Biru dan Putih

Meski tak beraturan, anehnya, tetap menyenangkan jika dipandang. Salah satu sebabnya, di setiap ruangan kaya akan hiasan ornamen biru dan putih. Corak hiasannya pun seperti tidak lazim. Namun, lagi-lagi tetap menyenangkan jika dilihat.

11. Jadi tempat tinggal Kiai Sepuh

Ruangan di lantai I kebanyakan masih berupa bangunan kuno. Di lantai ini, terdapat kamar yang dulu ditinggali oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam. Dia adalah pendiri Ponpes Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah (selanjutnya disebut Bihaaru) yang wafat pada 2010.

12. Telan biaya Rp 800 Miliar

Angka itu dihasilkan dari penghitungan harga lahan dan bangunan. Berdasarkan data di kepala Desa Sananrejo dan camat Turen, harga tanah di area ”Masjid Jin” berkisar Rp 400 ribu per meter persegi.

Karena lahan tersebut seluas 6,5 hektare, berarti uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp 26 miliar (400.000 x 65.000 meter persegi).

Sementara itu, untuk biaya pembangunannya, diasumsikan Rp 2 juta per meter persegi. Dari lahan 6,5 hektare tersebut, sekitar 4 hektare sudah terisi bangunan.

Dengan demikian, bangunan satu lantai menghabiskan dana Rp 80 miliar (2.000.000 x 40.000). Karena ada 10 lantai, berarti total dana yang dikeluarkan sekitar Rp 800 miliar (80 miliar x 10 ).

13. Tidak pernah minta Sumbangan

Pengasuh Ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah KH Ahmad Hasan menyatakan, pihaknya tidak pernah menghitung jumlah dana yang dikeluarkan.

Jadi, dari mana dananya? Abah Hasan, panggilan akrab KH Ahmad Hasan, menjelaskan, ada beberapa sumber dana pembangunan. Selain uang pribadi Kiai Ahmad, juga ada sumbangan santri dan donatur.

”Kami tidak pernah meminta sumbangan. Tapi, kalau ada yang menyumbang, ya tidak apa-apa,” kata Abah Hasan.

 

Selain itu.. sekarang anda bisa berbelanja disana karena ada pasar di dalam masjid, tapi jangan diwaktu dzuhur ya karena ketika adzan terdengan semua toko di pasar tutup sementara dan dibuka kembali setelah sholat dzuhur.

Saya sarankan membawa sandal untuk akses kesana karena itu adalah tempat suci maka ada bagian dimana kita harus melepas alas kaki kita.

 

Penulis : Harits Faisal Rahman

Sumber :  http://www.ponpesbibaafadlrah.or.id/?s=masjid+jin

KESESATAN LOGIKA HUKUM SK DIKTI

(SK DIKTI Nomor: 26/DIKTI/KEP/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan Kampus)
oleh Akbar Nursasmita Ketua Umum LPM Manifest

Sebenarnya apa sih isi dari SK DIKTI tersebut ?
Isi dari SK DIKTI tersebut pada intinya adalah melarang segala bentuk organisasi ekstra kampus dan partai politik membuka sekretariat dan atau melakukan aktiivitas politik praktis di kampus.

Kenapa SK DIKTI ini dibahas ?
Karena dari tahun ke tahun sering kali terjadi perdebatan horizontal antara mahasiswa terkait keberlakuan serta substansi dari SK DIKTI ini. Sering kali mahasiswa berdebat dan memberikan tafsirnya masing-masing dalam menanggapi SK DIKTI ini. Untuk itu perlunya analisis secara yuridis untuk memberikan gambaran dan juga informasi hukum secara objektif kepada masyarakat. Hal ini membuat masyarakat secara umum khususnya mahasiswa baru sering kali menjadi korban terkait informasi dari orang-orang yang gagal paham atas SK DIKTI ini.

Nah sekarang pertanyaan yang muncul adalah apakah arti sebenarnya Keputusan itu ?
Dalam buku “Perihal Undang-Undang”, karya Prof Jimly Assidiqie, menjelaskan bahwa Keputusan tersebut berbentuk Beschkking (penetapan menghasilkan keputusan atau ketetapan). Contohnya seperti Keputusan pengangkatan seseorang untuk menduduki jabatan tertentu.
Nah SK DIKTI ini berbentuk Keputusan, maka SK DIKTI seharusnya berbentuk Beschkking. Keputusan yang bersifat Beschkking ini bersifat konkrit, spesifik dan individual. Sehingga bisa dikatakan keputusan bentuk ini ditujukan kepada suatu subjek hukum tertentu dan tidak bersifat mengatur.
Jika kita lihat substansi SK DIKTI maka bisa kita lihat bahwa SK DIKTI lebih bersifat mengatur, padahal SK DIKTI berbentuk Keputusan, bukan pengaturan. Sehingga bisa kita katakan bahwa secara bentuk pun SK DIKTI sudah mengalami ketidak sesuaian terhadap perkembangan teori bentuk dasar dari sebuah produk hukum.


Kemudian muncul pertanyaan selanjutnya adalah Apakah SK DIKTI masih berlaku ?
Untuk mendapatkan jawabannya, kita perlu mengetahui mengenai konsep tingkatan peraturan perundang-undangan. Dimana suatu produk peraturan perundang-undangan dibentuk berdasarkan perintah atau sebagai pelaksana dari peraturan di atasnya. Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, mengatur mengenai hirarki peraturan perundang-undangan.
Susunan tersebut bersifat hirarkis dan peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang berada dibawahnya, atau bahasa kerennya disebut dengan asas Lex Superior Derogat Legi Inferior.
Kemudian jika kita kaji SK DIKTI ini. Dalam poin mengingat (dasar hukum) SK DIKTI mengacu kepada Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dan Undang-undang tersebut sudah tidak berlaku karena telah digantikan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Serta sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi maka pengaturan mengenai pendidikan tinggi sudah tidak mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sehingga bisa kita katakan bahwa SK DIKTI tersebut sudah tidak berlaku, dikarenakan dasar hukum SK tersebut telah tergantikan dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. Pasal 77 ayat (5) Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi juga menyebutkan bahwa pengaturan terkait organisasi kemahasiswaan diatur di dalam statuta perguruan tinggi bukan berdasarkan Keputusan Menteri.
Selain itu yang menjadi dasar hukum bahwa SK DIKTI dapat dinyatakan tidak mengikat, dilihat dari Pasal 52 Undang-Undang Administrasi Pemerintahan yang mengatur terkait syarat sahnya keputusan salah satunya yaitu dibuat oeh pejabat yang berwenang , sesuai prosedur dan juga substansi yang harus sesuai dengan objek keputusan serta tiga syarat tersebut harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam pasal 56 ayat (2) dijelaskan pula bahwa ketika syarat tersebut tidak terpenuhi maka Keputusan tersebut dianggap batal.
SK DIKTI juga memiliki eror in subject (kesalahan dalam subjek yang diatur), dikarenakan dalam SK DIKTI tidak memberikan kualifasi khusus apa yang dimaksudkan dengan apa itu organisasi ekstra, dan tidak ada dasar hukum di dalam SK yang memberikan pengertian dan kualifikasi terkait organisasi ekstra kampus. Apakah seperti HMI, GMNI, PMII dan organisasi lainnya yang dimaksudkan di dalam SK tersebut, atau kah organ-organ eksternal yang notabene memang organisasi sayap partai tertentu. Sehingga jelas kiranya bahwa SK DIKTI ini mengalami kesalahan atau ketidak jelasan subjek yang diaturnya (eror in subject).
Hal ini juga diperkuat berdasarkan pendapat dari Jimly Assidiqie juga berpendapat bahwa terdapat faktor yang membuat norma-norma hukum dalam suatu peraturan perundang-undangan dapat dinyatakan berlaku. Faktor-faktor tersebut antara lain keberlakuan filosofis, yuridis, politis, dan sosiologis.
Berdasarkan keberlakuan juridis, terdapat pandangan bahwa hukum dikatakan berlaku apabila memang norma hukum tersebut ditetapkan berdasarkan hukum yang lebih superior seperti yang dikatakan oleh Hans Nawiasky dalam teorinya “Stuffenbau Theorie des Recht”.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa SK DIKTI sudah tidak lagi keterikatan atau kekuatan implementatatif. Dikarenakan SK DIKTI sudah tidak lagi sesuai dengan perkembangan norma hukum, perkembangan ilmu akademis hukum, dan juga perkembangan sosiologis masyarakat.
Nah, jika masih ingin berdebat terkait apakah organisasi ekstra boleh diikuti atau tidak dan apa bedanya dengan organisasi intra yah silahkan berdebat lagi. Hehehe. Karena secara metode penafsiran gramatikal pun di dalam SK DIKTI tersebut tidak ada klausa pelarangan untuk mengikuti organisasi ekstra kampus.

Editor : Kresna Arga D

MENILIK PENTINGNYA ORGANISASI MAHASISWA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa dipermudah jika kita mau untuk menjalaninya dengan baik. Caranya, kita harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Kita harus mengikuti arus pergaulan kampus, tentunya pergaulan yang memberikan dampak positif bagi perkuliahan kita.

Di kampus, kita harus bisa membiasakan diri untuk menunjukkan rasa sosial yang tinggi. Itu semua bisa diwujudkan dengan bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Namun dari banyaknya organisasi intra kampus membuat organisasi ekstra kampus turut  menjamur.Organisasi ini menawarkan segitu banyak kelebihanyan dalam upaya pencarian kader. ekstra kampus adalah organisasi yang berada diluar birokrasi kampus. Organisasi ini wilayah geraknya cenderung menasional. Hal ini tentu berbeda dengan organisasi intra kampus yang dibatasi oleh kampus yang menjadi tempatnya berada. Kedudukan organisasi kampus biasanya selalu dipandang negatif di kampus. Dari sekian banyak kampus, keberadaan mereka selalu tersudutkan.

Meskipun demikian, nampaknya peran mereka di kampus tidak seperti apa yang mahasiswa umum pandang. Bahkan sebagian besar pejabat organisasi intra kampus itu sebenarnya adalah para kader dari organisasi ekstra kampus. Dan keberadaan kader-kader ekstra yang mengawal dan mengatur arah pergerakan mahasiswa intra tersebut. Dari banyaknya kader ekstra kampus yang memegang jabatan penting di kampus nampaknya tak lepas dari pola kaderisasi yang diterapkan di organisasi ekstra. Pola kaderisasi yang ada di organisasi ekstra memang terkadang agak terkesan tidak jelas. Semua proses kaderisasi didasarkan atas asas kekeluargaan dan tidak terikat pada momen atau kegiatan tertentu saja. Bahkan waktu kaderisasinyapun sepanjang tahun (kontinu). Hal ini tentu membuat sebagian besar kader dari organisasi ini memiliki wawasan yang jauh lebih banyak bila dibanding dengan kader dari organisasi intra yang proses kaderisasinya hanya terbatas pada momen-momen tertentu saja.

Organisasi sebetulnya sangat penting untuk kebaikan kita sebagai mahasiswa, namun kesadaran berorganisasi itu sangat minim dewasa ini. Sudah semakin berkurang tampaknya mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Padahal, dengan berorganisasi kita mampu menemukan jati diri kita sesungguhnya sebagai kaum intelektual.

Tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan dosen memberi perkuliahan, tetapi kita juga bisa merasakan kepuasan menjadi seorang pemimpin pada sebuah organisasi. Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa kupu-kupu” yang artinya mahasiswa tersebut hanya datang untuk perkuliahan semata. Sementara untuk informasi lainnya yang ada di kampus tidak ia hiraukan jika tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah. Sebaiknya, kita jangan mencontoh mahasiswa yang demikian. Hendaknya kita bisa menjadi mahasiswa sejati dan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan kita dengan berorganisasi di kampus.

Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas. Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato ataupun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai, dengan berorganisasi kita akan dibina untuk hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu untuk berbicara secara terbuka di depan orang banyak. Betapa pentingnya organisasi tidak mampu kita ukur secara formal, namun bisa kita rasakan dengan perasaan. Dahulunya kita hanyalah seorang yang pendiam dan jarang bergaul, setelah mencoba untuk berorganisasi maka kita bisa untuk mengeluarkan pendapat dan berbicara dengan tenang. Kita tidak lagi merasakan gugup atau gemetar melihat kumpulan orang yang akan mendengar apa yang akan kita ucapkan.

Aspek utama yang harus kita miliki dalam berorganisasi yaitu mental yang kuat tapi, mental pun tidak cukup harus ada semangat dan kemauan yang kuat jika ingin perubahan. Jika kita sudah punya semua itu kemauan berlabuh pada sebuah organisasi, maka akan mudah bagi kita untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Seorang mahasiswa akan mengarungi perjalanan panjang untuk meraih mimpinya sebagai seorang sarjana, kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak tentunya. Begitulah kira-kira keinginan semua mahasiswa yang berjuang keras melewati perjalanan panjangnya selama duduk di bangku perguruan tinggi. Perjalanan panjang itu tidak boleh disia-siakan, karena kita harus bisa memanfaatkan segala hal yang baik untuk memberi hasil positif bagi diri kita sendiri. Akan lebih baik jika kita juga mampu memberikan dampak positif bagi orang lain.

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, maka berusahalah untuk bergabung dengan organisasi yang ada di kampus atau semisal berorganisasi ekstra kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan dan mampu menjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Janganlah menjadi mahasiswa seperti batu yang terselip dalam pondasi, yang hanya bertahan pada satu tempat berdiam. Sama halnya dengan mahasiswa yang hanya duduk di bangku kuliah tanpa memberikan umpan balik dalam perkuliahan. Dengan tambahan ilmu tidak hanya pada intra kampus,tapi  program ekstra kampus juga menambah eksistensinya dalam pengorganisasian dimana para kader muda ini ditempa keilmuannya .

Rasa nasionalisme yang tinggi inilah yang biasanya dimililiki oleh sebagian besar kader organisasi ekstra kampus. Pasalnya, di organisasi inilah sebenarnya kebanggaan, kecintaan, dan rasa memiliki di tumbuhkan lewat kajian-kajian sederhana tentang ke-indonesiaan. Dari diskusi sederhana itulah semua wawasan tentang keindonesiaan didoktrinkan hingga kader-kadernya mampu benar-benar menjiwai rasa nasionalime mereka. Hal ini sebenarnya mampu mengisi kekurangan yang dimiliki oleh kampus, yaitu kurangnya pendidikan tentang keindonesiaan. Oleh karena itulah sebenarnya, organisasi ekstra kampus ini sangatlah dibutuhkan oleh seorang mahasiswa untuk melengkapi ilmu yang mereka pelajari di kampus.

 

Ketika ingin mengubah sesuatau, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetahui apa yang harus diubah. Sulit bagi siapa saja yang hidupnya ingin baik, tapi tidak tahu harus dimulai dari mana.

Bila sejak usia remaja mereka terbiasa untuk santai tidak berguna. Ketika dewasa nanti kebiasaan buruk itu akan sulit untuk dirubah,seperti noda yang melekat dibaju tidak bisa hilang ketika dicuci. Memang terlihat enak saat ini tapi eneg di kemudian hari.

 

Penulis : Ipin Orsela

Editor : Harits Faisal Rahman

KEMANUNGGALAN KUNCI PEMBANGUNAN BANGSA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menurut hasil data pelacakan pulau yang telah di verifikasi oleh PBB, Indonesia terdiri dari 14.366 pulai besar dan kecil yang menjadi gugusan kepulauan Nusantara. Dengan status yang disandang yakni negara dengan kepemilikan pulau terbanyak se-Dunia, tentunya negari ini bukanlah negara yang kecil. Selain mempunyai pulau yang banyak, Indonesia juga ditempatkan di urutan ke 3 sebagai negara dengan kepadatan penduduk terbanyak. Tak berhenti hanya dengan status itu saja, Indonesia juga terkenal sebagai negara dengan sejuta kebudayaan berasal dari banyaknya suku yang ada di Indonesia.

Segala sesuatu yang berjumlah banyak, barang tentu akan menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana cara pengelolaan itu semua ? Inilah yang sekarang kita lihat sebagai akar masalah yang dihadapi oleh negara kita. Contoh nyata yang terjadi dan menjadi buah bibir secara bombastis ketika salah satu dari calon gubernur Jakarta secara tidak sengaja melakukan pelecehan terhadap ayat suci Al – Qur’an yakni dikenal dengan tragedi “Al – Maidah 51”. Yang juga menjadi kebetulan adalah dia berasal dari salah satu etnik yang menghuni bumi nusantara ini sujah sejak beratus tahun lalu yaitu etnik Tionghoa. Karena hal itulah Indonesia mulai dilanda suasana panas isu perpecahan etnik dan agama.

Perpecahan demi perpecahanpun terjadi. Hingga kapan negreri yang kaya ini mengalami hal seperti ini ? Apakah tanah air ini akan dibiarkan saja hingga bernasib sama dengan apa yang dialami di Rakhine State, Myanmar ? Tidak sepatutnya itu terjadi kepada negeri yang kaya ini. Dari tulisan ini mari kita tengok ke belakang seberapa berjasanya etnik yang dikambing hitamkan negri ini hari ini, yakni etnik Tionghoa.

Masih ingat dengan Muhammad Cheng Hoo ? Mungkin sebagian orang Semarang mengenalnya dengan julukan Sam Po Kong. Dialah yang menjadi ikon dari masjid bergaya seni khas China ini. Cheng Hoo lah salah seorang yang berjasa menyebarkan agama Islam di Tanah ini. Selain Cheng Hoo, mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwasannya Raden Patah pendiri kerajaan Demak pertama kali adalah anak dari Prabu Brawijaya V yang menikah dengan salah seorang putri yang sangat cantik dan berasal dari China. Mungkin bisa dibayangkan jika tidak ada hubungan pernikahan antara Prabu Brawijaya V dengan Putri dari China tersebut tidak akan sebesar sekarang agama Islam di Indonesia.

Mari kita lihat lebih dekat, pada saat belanda menjajah Bumi Pertiwi ini. Bersatunya antara etnik Tionghoa dengan Etnik Jawa pada era kebangkitan bangsa ini dibawah pimpinan salah satu tokoh yang mendapat julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota” yakni H.O.S Tjokroaminoto. Jika 2 etnik ini tak bersatu, semakin senang dan leluasalah kompeni kompeni belanda untuk menjajah negeri ini.

Selain itu ada juga salah satu tokoh pahlawan Nasional berasal dari etnik Tionghoa yang berjasa dalam bidang penyelundupan senjata dari luar negeri untuk perjuangan bangsa didalam negeri. Dialah Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma atau dikenal sebagai John Lie. Karena skillnya yang luar biasa dalam penyelundupan senjata melalui jalur laut dia dijuluki “Hantu Selat Malaka”. Banyak sekali peristiwa yang ia lewati bersama kapal yang dipimpinnya yaitu “The Outlaw”. Sosok Hantu Selat Malaka ini sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari The Outlaw. John Lie wafat pada tanggal 27 Agustus 1988 dan dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana pada 9 November 2009. Nama John Lie, pada awal Januari 2017 diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie.

Diatas beberapa bukti bahwasannya etnik tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan bangsa ini. Yang menjadi pengaruh adalah ketika etnik etnik ini tidak bersatu membangun bangsa dengan asas kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Pancasila. Jadi sangatlah jelas bahwa pulau, masyarakat, etnik, dan agama adalah satu kesatuan entitas yang tak terpisahkan. Kemanunggalan entitas inilah landasan kemakmuran bangsa.

 

Penjelasan mengenai John Lie dikutip dari Line Today

Penulis : Kresna Arga Dinata