The Importance of Paper for Sustainable Development

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Apakah ilmu hanya akan di simpan di dalam otak tanpa menyimpannya di suatu kertas ? apakah pensil dan tinta harus di lenyapkan keberadaannya jika kertas sudah tidak lagi di butuhkan ? dan apakah tinta dan printer harus di lupakan karena tidak bergunanya kertas ?

Kertas
Apalah arti suatu ilmu tanpa secuil kertas, apalah arti sebatang pensil tanpa secorek kertas, apalah arti sebotol tinta tanpa selembar kertas dan apalah arti printer tanpa adanya kertas. Kertas, mungkin tidak terlalu berarti bagi manusia penggila gadget, internet dan segala bentuk dunia social media. Kenapa ?
Informasi sudah bisa tersebar melalui media sosial, kita bisa mengupdate informasi melalui internet, twitter, instagram atau bahkan facebook.

Mark zuckeberg memudahkan kita bertukar informasi dan menyampakan informasi bahkan suatu ilmu melalui facebook, dan itu tanpa menggunakan kertas serta lebih mudah di akses. Siswa atau bahkan mahasiswa tidak perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya untuk membeli buku atau menggandakan buku untuk keperluan sekolah karena sudah ada E-book di Internet, jadi bisa lebih hemat kertas.

Berita-berita tentang pemerintah, selebriti, tindakan kriminal dan yang lain lebih mudah tersebar melalui televisi, internet dan segala macam bentuk sosial media, jadi untuk apa boros kertas hanya untuk mencetak berita-berita di koran ? toh tidak banyak yang berlangganan koran. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam hal hemat pengeluaran dan biaya kertas kan ? toh kalau sudah tidaak terpakai kertasnya bisa langsung di buang menjadi sampah.

Apa semua uraian di atas itu benar ?

Hai kawan, sadarlah, ingatlah sebelum kalian mengenal yang namanya gadget, sebelum kalian mengenal apa itu instagram, twitter, line, whatsapp dan facebook… apa yang kalian baca sebelumnya ? media apa yang kalian gunakan untuk menulis ? ketika kalian hendak merancang sesuatu apa bisa kalian langsung tulis dan share dengan gadget ? atau mungkin kalian membuat kerangka acuan apapun di tembok ?

E-book, Google, Journal electric, Google Schoolar dan masih banyak yang lain. Alat tersebut memang sangat sangat penting sekali dalam era sekarang, dimana kids jaman now yang kebanyakan makan micin selalu membutuhkannya. Mengerjakan tugas sekolah, PR, informasi mengenai kesehatan, selebritis, bahkan ketika sedih putus dengan pacar yang di cari pertama kali malah gadget. Browsing tentang materi sekolah atau perkuliahan dari internet, informasi kesehatan, kecantikan, selebritis dari berbagai macam sosial media yang ada. Bahkan ujian akhir di tingkat SMP dan SMA saja sekarang sudah tidak menggunakan kertas, yang di butuhkan hanya personal computer, raport saja sekarang sudah online tanpa susah-susah menggunakan kertas untuk mencantumkan nilai hasil belajar siswa. Lalu ?

Apa peranan kertas pada era sekarang ini ? apakah kids jaman now menyadari atau bahkan mengetahui fungsi kertas pada zaman dulu bahkan sampai sekarang ?

Ku rasa Mereka haya mengerti sedikit. Menurutku tidak hanya kids jaman now saja yang melupakan peranan penting kertas pada zaman ssekarang. Banyak para orang tua, birokrat – birokrat yang juga terlena dengan adanya gadget ini sampai mereka berhenti langganan koran karena sudah bisa mengakses berita atau informasi melalui internet. Lalu apakah perusahaan media cetak harus di tutup hanya karena keberadaan kertas disini kurang di butuhkan ? apakah perusahaan penghasil kertas juga harus di tutup karena tidak banyak yang membutuhkan kertas saat ini ?

Oh Tidak,

Apa jadinya kalau perusahaan kertas sampai tidak produksi kertas lagi, apa jadinya kalau perusahaan media cetak harus di tutup. Bagaimana nasib pekerja atau karyawan di perusahaan media cetak dan kertas apabila perusahaannya di tutup ? haruskah mereka beralih profesi menjadi seller gadget ? atau bahkan mereka harus beralih menjadi penjual micin ? dan apakah benar menghemat pengeluaran kertas untuk mencegah global warming ?
Tahukah kalian semua wahai penghianat kertas ?

Kami disini para mahasiswa, para siswa, dosen, guru, atau bahkan semua yang masih ingat atas jasa kertas sebelum adanya gadget ini sangat sangat amat membutuhkan adanya kertas. Bagaimana nasib kita para siswa, murid SD atau bahkan TK yang tidak mengenal gadget atau bahkan tidak akan mampu mengenal gadget bisa belajar dengan baik kalau keberadaan kertas di hapuskan, bagaimana mereka akan membaca materi sekolah apabila materi sekolah hanya ada di dunia maya ? bagaimana nasiib mahasiswa mencetak laporan praktikumnya apabila kertas di binasakan ? bagaimana nasib mahasiswa tingkat akhir mengabadikan tugas akhirnya apabila kertas di musnahkan ? bagaimana nasib penjual nasi uduk di pinggir jalan. Bagaimana nasib tukang gorengan, bagaimana nasib tukang fotokopi ? bagaimana ??

Mungkin kalian tidak tahu betapa berharganya kertas dalam kehidupan sehari-hari kami, kami sangat membutuhkan kertas untuk alat pendidikan kami mencapai tittle sarjana. Para pekerja di perusahaan media cetak,perusahaan kertas , hanya ingin membantu kami para penghuni bumi ini agar apabila keadaan gadget kalian sudah tidak mampu memenuhi apa yang kalian butuhkan akan informasi, kalian masih bisa memanfaatkan kertas untuk memenuhi kebutuhanmu itu. Teruslah berjalan wahai kertas di bumi yang penuh dengan manusia kejam ini yang seolah-olah tidak menganggap keberadaanmu.

Mereka juga akan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya melihat gadget dan pada akhirnya juga mereka akan membutuhkanmu. Tetaplah berda di belakang manusia dan tunjukkan bahwa kertas takkan tergantikan.

Lantas ?
Apakah Martin Cooper menciptakan gadget, Kevin Systrom menciptakan instagram, Mark Zuckerberg menciptakan facebook , Jan Koum menciptakan aplikasi whatsapp, Lee Hae Jin menciptakan applikasi line sengaja menentang seorang Cai Lun yaitu tokoh berkebangsaan Tionghoa yang menciptakan kertas untuk pertama kali ?

Apakah mereka tokoh-tokoh pencipta applikasi media sosial sengaja ingin melenyapkan nama Conrad Gessner pencipta pensil dan Laszlo Biro penemu bollpoint karena pensil sudah tidak akan berguna lagi karena tidak adanya kertas ? atau juga mereka sengaja melupakan Johannes Gutenberg penemu mesin cetak pertama kali agar tidak perlu mencetak kertas karena hanya membuat pemanasan global ?

Tentu saja jawabannya tidak.!

Apakah Martin Cooper, Kevin Systrom, Mark Zuckerberg, Jan Koum dan Lee hae Jin adalah tokoh-tokoh yang lebih baik dari Cai Lun, Conrad Gessner, Laszlo Biro dan Johannes Gutenberg atau mereka tokoh-tokoh muda pencipta media sosial adalah penyelamat dunia karena dapat mempermudah manusia mengakses informasi dan yang lain tanpa adanya kertas yang katanya semakin banyak kertas yang di gunakkan maka bumi ini akan terjadi pemanasan global ?

Mungkin saja mereka (pencipta sosial media) lebih cerdas dari pada penemu-penemu terdahulu, mereka mencipatakn semua itu hanya karena mereka mengeksplore kemampuan mereka dalam bidangnya. Saya yakin juga mereka tidak melupakan sejatinya fungsi kertas bagi kehidupan mereka, karena kertas sangat di butuhkan untuk kehidupan yang berkelanjutan ini.

Rethink guys.. how important the paper from the past until now …

Penulis : Siti Rahmawati / PSP’15 / FPIK-UB

Editor : HFR / PSP’14 / FPIK-UB

APA KABAR DEMOKRASI KAMPUS KITA?

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Perguruan Tinggi sebagai sebuah institusi independen yang merupakan tempat bagi pendidikan para kaum intelektual. Sesuai dengan isi tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Kiranya bisa juga dikatakan sebagai sebuah miniatur negara. Tapi bagaimana dengan demokrasi di dalam kampus tersebut saat ini sudah tepatkah. Jikalau kampus adalah miniatur Negara maka bisa di simpulkan bahwa kampus tersebut adalah bentuk dari gambaran Negara tersebut dan apa yang ada di negara maka kampus adalah tempatnya.

Saat ini adalah momen-momen dimana mahasiswa salah satu kampus terbesar di Kota Malang melangsungkan ritual suci. Ya, pesta demokrasi (katanya) untuk menentukan siapa pejabat kampus yang akan berkuasa selama setahun kedepan. Di dalam negara atau miniatur negara, penyelenggara demokrasi sering kali diperankan oleh aktor-aktor pesanan rezim yang berkuasa sehingga tidak jarang hasil demokrasi tersebut menjadi pro-penguasa atau demokrasi yang melanggengkan kekuasaan sebelumnya. Al-hasil demokrasi telah menyimpang dari konsep awalnya, dan hak-hak rakyatlah yang sering dipertaruhkan.

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Pada perkembangannya banyak demokrasi yang bermunculan. Namun, yang umumnya dipakai adalah demokrasi kotak suara (one man one vote). Dalam sistem yang seperti ini setiap satu orang bisa memiliki satu hak suara. Kelemahan dari sistem ini adalah kualitas karena kuantitas yang akan menjadi acuannya. Analoginya suara profsor yang memilih sama dengan suara pedagang sayuran di pasar. Jadi siapa yang memiliki masa yang banyak bisa dipastikan dialah yang menang.

Di Fakultas tercinta yakni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pun menggunakan sistem seperti ini. Namun konsekuensinya seperti diatas pada akhirnya hasil dari demokrasi sendiri tidak representatif. Kurangnya partisipasi mahasiswa dalam pesta demokrasi membuat suasana perpolitikan kampus tampak kurang hidup. Padahal sebelum pemilihan terlebih dahulu diadakan debat kandidat calon pemimpin mereka secara terbuka. Namun, hal itu ternyata belum cukup signifikan untuk dijadikan tolak ukur demokratisasi kampus.

Sudah tepatkah demokrasi seperti ini diterapkan? Dari pengamatan penulis pemilih tahun ke tahun mahasiswa tingkat pertama dan kedua menjadi penyumbang suara terbanyak dalam ajang pesta demokrasi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Karena mereka lebih mudah diarahkan untuk menyatukan suara yang dilakukan oleh senior. Yang tampak terlihat bukan lagi memilih sesuai dengan hati nuraninya sendiri melainkan memilih karena adanya arahan dari kelompok-kelompok tertentu. Terkadang juga terjadi kasus seperti culik menculik untuk mendapatkan suara terbanyak. Hal ini pula yang sering kali menyebabkan sikut-sikutan antar elemen mahasiswa. Akibatnya, mayoritas pemilih akan menggunakan parameter kedekatan emosional kepada salah satu calon atau tim sukses (iya kalau sukses :D).

Bagaimanapun juga sebagai mahasiswa kita berhak memilih calon sesuai dengan hati nurani. Nantinya juga setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin akan berdampak kepada kita sebagai mahasiswa.

Penulis : YR (FPIK-UB / IK/ 2015)

[INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – [INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

Libur panjang semester ganjil sudah di depan mata nih. Ada yang bingung mau ngapain waktu liburan ? Yuk manfaatin waktu liburan buat magang . . . .
Buat teman-teman yang berkeinginan mengikuti magang lkp2, pendaftaran magang LKP2 akan dibuka pada:

Hari, tanggal : Senin, 27 November 2017 – Kamis, 30 November 2017
Waktu : 09.00 – 15.00WIB
Tempat : Sekretariat LKP2

Magang LKP2 memiliki tujuan:
1. Menambah pengetahuan, informasi, wawasan dan pengalaman secara aplikatif dibidang perikanan dan kelautan
2. Sarana penerapan ilmu dilapang
3. Lahan pembinaan mahasiswa dalam usaha peningkatan keilmuan perikanan dan kelautan

Untuk informasi lebih lanjut terkait magang LKP2, silahkan langsung datang ke stand pendaftaran magang yaa . . . .

#LKP2
#TOTAL, LOYAL, PROFESIONAL

Review buku ” tragedy of the common”

RUMAH ILMU BRAWIJAYA – MALANG, Tragedi adalah suatu kejadian yang menyedihkan, tragis. Sedangkan commons adalah lahan milik bersama atau kepemilikan bersama, contohnya adalah padang penggembalaan (padang rumput yang tidak ada pemiliknya). Oleh karena itu, tragedy of the commons dapat diartikan sebagai masalah yang muncul ketika populasi bertambah secara terus menerus, lahan semakin sempit dan akhirnya menjadi rebutan. Tragedy of the commons terjadi ketika lahan milik bersama digunakan secara bebas dan tidak ada aturan penggunaannya, sehingga setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Artikel mengenai thetragedy of the commons ditulis oleh Garret Hardin (1968). Garret Hardin adalah seseorang yang anti bantuan international. Ia tidak setuju dengan bantuan berupa hutang. Ia juga merupakan seseorang yang mendukung adanya aborsi atau pengguguran kandungan dan bunuh diri. Menurutnya, aborsi dan bunuh diri dapat menghambat laju pertumbuhan penduduk sehingga lahan tidak semakin diperebutkan.

Pokok perhatian Hardin yaitu “Kebebasan berkembangbiak tidak bisa diterima”. Menurutnya, perkembangbiakan harus dibatasi. Semakin banyak jumlah orang dalam suatu daerah maka semakin sedikit sumber daya yang tersedia bagi setiap orangnya. Jika ongkos untuk membiayai seorang anak rendah, maka banyak orang akan memiliki banyak anak. Jika biaya mahal, maka orang akan berpikir dua kali ketika ingin menambah anak. Asumsinya, anak adalah hal yang bagus bagi orang tuanya, tetapi bagi masyarakat hal tersebut bisa menjadi kebalikannya. Penambahan anak turut menambah jumlah penduduk sehingga jatah setiap masyarakat di daerah tersebut semakin sedikit.

Tragedy of the commons muncul karena adanya kerakusan. Potensi masalahnya adalah kecenderungan setiap orang untuk memaksimalkan keuntungan/profit. Hal ini digambarkan juga dengan pertambahan sapi-sapi di suatu padang rumput. Bagi pemilik sapi, pertambahan jumlah sapi bisa meningkatkan keuntungan karena pemilik sapi itu dapat menjual sapi-sapinya sehingga mendapatkan uang. Tetapi pertambahan sapi juga membuat padang rumput semakin penuh dan pemilik sapi saling berebut lahan untuk menggembalakan sapi mereka yang bertambah banyak. Selain penggembala sapi yang saling berebut, persediaan makanan bagi sapi-sapi di padang rumput itu juga semakin menipis.

Thomas Malthus (1766-1834), seorang ahli politik ekonomi dari Inggris, seperti ditulis dalam Hardin (1968) mengatakan bahwa jumlah penduduk bertumbuh secara eksponen (kelipatan). Sedangkan lahan pertanian tumbuh secara deret hitung. Hal ini memunculkan masalah kelaparan dan perebutan lahan karena pertumbuhan penduduk secara eksponen terjadi sangat cepat dibanding lahan pertanian yang tumbuh secara deret hitung.

Kelebihan jumlah penduduk dan kompetisi untuk mendapatkan pangan berpotensi menjadi masalah. Menurut Garret Hardin, beberapa masalah, termasuk masalah kependudukan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan solusi teknis. Beberapa masalah juga tidak dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan. Karena tidak ada solusi secara teknis, maka solusi yang diberikan berupa solusi politik. Solusi politik adalah solusi yang berasal dari pemerintah. Solusi ini berupa Undang-undang, kebijakan, dan sanksi. Contoh negara yang sudah menerapkan solusi politik untuk mengatasi masalah kependudukan adalah Tiongkok. Tiongkok pernah memberlakukan peraturan mengenai satu keluarga satu anak. Jika satu keluarga memiliki anak lebih dari 1 maka konsekuensi dan sanksi harus ditanggung oleh orang tuanya.

Pada era modern saat ini, permasalahan yang ada pada modern commonsyaitu penangkapan ikan secara besar-besaran menggunakan alat yang dapat merusak lingkungan, polusi yang terjadi pada air, udara, dan tanah, serta polusi suara, misalnya kebisingan. Selain itu, penggunaan taman nasional secara berlebihan juga dapat menimbulkan masalah, misalnya banyak eksploitasi seperti penebangan, pembukaan lahan, dan tambang di taman nasional. Masalah lain yang juga muncul saat ini adalah kelebihan jumlah penduduk yang membuat energi (bahan bakar, listrik), makanan, dan standar hidup menjadi turun.

Menurut Hardin, mengharapkan kesadaran individu dalam menyelesaikan permasalahan kepadatan penduduk tidak bisa diandalkan. Manusia lebih mementingkan keuntungan bagi dirinya dan dengan adanya banyak anak ia akan dapat melanjutkan keturunan serta lebih banyak menguasai lahan. Kepedulian pada penduduk lain pun semakin berkurang, bahkan manusia mulai saling berebut lahan.

The new commons atau bisa disebut lahan baru diperlukan ketika terjadi masalah kepadatan penduduk dan perebutan lahan. Namun, lahan baru itu tidak bisa digunakan seenaknya sendiri. Ada alternatif yang dibuat agar tidak terjadi perebutan lahan lagi. Bentuk alternatif itu misalnya pemaksaan yang dibuat secara bersama-sama. Harus ada pembatasan dengan paksaan karena kesadaran diri tidak bisa diandalkan. Pemaksaan secara bersama-sama dilakukan dengan mengubah commons menjadi private. Lahan milik umum dibuat kepemilikan yang jelas atau ada pembatasan yang disetujui bersama-sama antar pengguna lahan. Misalnya, setiap orang dibatasi memiliki 5 sapi saja sehingga tidak timbul kelebihan, pembatasan emisi kendaraan bermotor, pembatasan penangkapan ikan, dan pembatasan lain yang disetujui bersama termasuk sanksi yang diberikan jika ada orang yang melanggar batas tersebut.

 

Penulis : Dzaki Almas / IK-FPIK UB / 2014

Editor : Harits Faisal Rahman / PSP-FPIK_UB / 2014

Referensi : Hardin, G. (1968). Tragedy of the Commons. Vol.162. www. sciencemag.or

Urban Aquaculture: Solusi Budidaya Vaname Berkeadlian Sosial dan Ekonomi

RUMAH ILMU BRAWIJAYA – MALANG, Industri perikanan di sektor budidaya udang memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat diperkirakan harga jual udang akan tetap stabil hingga beberapa tahun ke depan. Perkembangan teknologi di bidang ini pun cukup menarik untuk diikuti. Kita mungkin sudah familiar dengan yang namanya sistem budidaya intensif. Peralihan dari sistem budidaya yang menggunakan kolam tradisional dengan kepadatan rendah menuju sistem budidaya dengan kolam intensif yang kepadatannya jauh lebih tinggi.

Sistem bioflok pun sudah mulai diterapkan di kalangan pembudidaya dengan tujuan efektivitas pakan dan padat tebar. Dalam sistem bioflok pergantian air pun akan lebih diminimalkan karena bakteri yang ada di dalamnya dapat bekerja sedemikian rupa hingga terjadi “self purification” pada air.

Yang terbaru adalah sistem budidaya udang super intensif. Sistem budidaya hasil karya Dr. Ir. Hasanuddin Atjo ini bisa mendongkrak padat tebar hingga 1000 ekor/m2. Seperti yang dikutip dari laman semoga-berguna-untuk-kita.blogspot.co.id, melalui Inovasi dalam pembudidayaan udang Sistem Super intensif berhasil meningkatkan kepadatan tebar dari yang hanya 100-200 ekor/m2 pada budidaya sistem semi-intensif dan 400-500 ekor/m2 pada budidaya sistem intensif, menjadi 1.000 ekor/m2 dengan hasil produksi mencapai 15,3 ton/1.000 m2. Ini adalah hasil budidaya udang Vannamei tertinggi di dunia, yang mana rekor sebelumnya dipegang oleh Meksiko dengan hasil 11,1 ton/ 1.000 m2, sedangkan China hanya menghasilkan 9 ton/ 1.000 m2.

Namun dari semua teknologi budidaya yang ada, dana yang besar menjadi syarat utama. Selain itu, lokasi budidaya haruslah di daerah pesisir laut. Hal ini jelas tidak akan menjawab permasalahan yang ada di masyarakat, yakni ketimpangan sosial dan ketidakmerataan kemampuan ekonomi. Solusi yang bisa ditawarkan adalah teknologi budidaya yang bisa dilakukan dimana saja dan tentunya tidak butuh modal besar. Terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Israel dengan teknologi budidaya Grow Fish Anywhere, perlu kiranya konsep budidaya udang vaname bisa dilakukan di tengah kota seluruh Indonesia, selanjutnya kita namai teknologi budidaya ini dengan Urban Aquaculture.

Temuan Riani et al 2012 yang menyatakan bahwa udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan bersuhu rendah, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Ini berarti vaname yang umumnya hidup pada salinitas 25-35 ppt bisa dipaksa hidup pada salinitas mendekati nol. Fakta ini menjadi dasar teori untuk budidaya vaname di tengah kota, karena tidak terlalu bergantung pada pasokan air laut. Mengenai biaya, budidaya vaname dengan konsep Urban Aquaculture tidak akan lebih dari 10 juta perkolamnya. Kolam yang digunakan adalah kolam terpal dengan konstruksi besi berbentuk bundar. Diameter kolam bisa dimodifikasi tergantung lahan yang ada, yang pasti minimal berdiameter 3 meter, dengan pertimbangan efektivitas biaya operasional.

Konsep budidaya vaname system Urban Aquaculture memang belum diterapkan di Indonesia. Semoga beberapa tahun kedepan Standart Operasional Procedure (SOP) segera dirumuskan supaya sector budididaya vaname benar-benar menjadi penggerak  perekonomian masyarakat menegah kebawah. Perekonomian yang berkeadilan adalah cita-cita mulia bangsa Indonesia.

Penulis : Akbar Hariyadi / BP-FPIK_UB / 2013

LET JUSTICE BE DONE THOUGH THE HEAVENS FALL

Sungguh kata-kata yang indah…
RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Berasal dari ucapan Lucius Calpurnius Piso Caesoninus pada pidatonya di tahun 43 SM , yaitu “Fiat justitia ruat caelum”. Dalam sejarah Ilmu Hukum “Fiat justitia ruat caelum” berarti “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh”. Kalimat tersebut sebenarnya punya sejarah kelam. Kalau ingin tahu ceritanya, bisa baca naskah drama Seneca yang berjudul “Piso’s Justice”, pada bagian sub judul “De Ira” (kemarahan). Inti ceritanya Piso dengan kalimat “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh” telah secara kejam menghukum mati tiga orang serdadu Romawi yang tidak seharusnya dihukum.
Dalam ilmu hukum, jargon ini pada akhirnya menunjukkan ironi pada hukum, karena akhirnya Hukum tak selalu identik dengan Keadilan. Dalam perkembangannya, ungkapan Piso tersebut dijadikan falsafah bagi para tiran guna melakukan kesewenang-wenangan asalkan ‘hukumnya telah ditetapkan’. Jadi makna ungkapan “Fiat justitia ruat caelum” menurut Piso adalah apapun yang terjadi, suatu keputusan hukum tetap harus dilaksanakan. Tak peduli apakah hukum tersebut benar atau salah, karena yang dinamakan keadilan adalah apa yang telah diputuskan oleh Penguasa melalui persidangan.
 .
Persidangan-persidangan korup dengan pertimbangan materil di atas nurani, membela mereka yang bayar. Persidangan dengan dasar hukum cacat kreasi makhluk sok sempurna. Hingga akhirnya langit runtuh dan Tuhan sendiri lah yang menegakkan hukum dan mendefinisikan keadilan. Justice can’t be done unless the heavens fall.
 .
Keadilan Tuhan identik dengan Surga dan Neraka. Kepercayaan yang tersebar luas mengatakan bahwa yang berlaku baik selama hidupnya akan merasakan kenikmatan di Surga yang ‘tidak pernah terlihat dan terdengarkan oleh siapa pun, bahkan tak pernah terbetik dalam benak siapa pun’. Sementara yang berlaku keji selama hidupnya akan disiksa dengan azab yang pedih. Namun, keadilan macam itu pun dikritisi. Dilihat dari sisi lain, Surga bisa menjadi siksaan apabila sekadar dianggap sebagai pemuasan hasrat dan Neraka menjadi nikmat ketika dimengerti fungsinya sebagai proses pemurnian. Itulah sejatinya makna azab dalam akar kata bahasa Arab. Azab bukanlah siksaan, tapi proses pemurnian kembali. Seperti halnya emas dalam proses pemurnian.
 .
Memang manusia munafik dan tidak pernah puas.
 .
Penulis : Naufal Arif
Referensi: Tejo, Sujiwo dan M.N. Kamba. 2016. Tuhan Maha Asyik.

MENILIK PENTINGNYA ORGANISASI MAHASISWA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa dipermudah jika kita mau untuk menjalaninya dengan baik. Caranya, kita harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa dengan semestinya. Menjadi mahasiswa jangan hanya sebatas mahasiswa biasa. Kita harus mengikuti arus pergaulan kampus, tentunya pergaulan yang memberikan dampak positif bagi perkuliahan kita.

Di kampus, kita harus bisa membiasakan diri untuk menunjukkan rasa sosial yang tinggi. Itu semua bisa diwujudkan dengan bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Namun dari banyaknya organisasi intra kampus membuat organisasi ekstra kampus turut  menjamur.Organisasi ini menawarkan segitu banyak kelebihanyan dalam upaya pencarian kader. ekstra kampus adalah organisasi yang berada diluar birokrasi kampus. Organisasi ini wilayah geraknya cenderung menasional. Hal ini tentu berbeda dengan organisasi intra kampus yang dibatasi oleh kampus yang menjadi tempatnya berada. Kedudukan organisasi kampus biasanya selalu dipandang negatif di kampus. Dari sekian banyak kampus, keberadaan mereka selalu tersudutkan.

Meskipun demikian, nampaknya peran mereka di kampus tidak seperti apa yang mahasiswa umum pandang. Bahkan sebagian besar pejabat organisasi intra kampus itu sebenarnya adalah para kader dari organisasi ekstra kampus. Dan keberadaan kader-kader ekstra yang mengawal dan mengatur arah pergerakan mahasiswa intra tersebut. Dari banyaknya kader ekstra kampus yang memegang jabatan penting di kampus nampaknya tak lepas dari pola kaderisasi yang diterapkan di organisasi ekstra. Pola kaderisasi yang ada di organisasi ekstra memang terkadang agak terkesan tidak jelas. Semua proses kaderisasi didasarkan atas asas kekeluargaan dan tidak terikat pada momen atau kegiatan tertentu saja. Bahkan waktu kaderisasinyapun sepanjang tahun (kontinu). Hal ini tentu membuat sebagian besar kader dari organisasi ini memiliki wawasan yang jauh lebih banyak bila dibanding dengan kader dari organisasi intra yang proses kaderisasinya hanya terbatas pada momen-momen tertentu saja.

Organisasi sebetulnya sangat penting untuk kebaikan kita sebagai mahasiswa, namun kesadaran berorganisasi itu sangat minim dewasa ini. Sudah semakin berkurang tampaknya mahasiswa yang berminat untuk bergabung dengan organisasi-organisasi yang ada di kampus. Padahal, dengan berorganisasi kita mampu menemukan jati diri kita sesungguhnya sebagai kaum intelektual.

Tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan dosen memberi perkuliahan, tetapi kita juga bisa merasakan kepuasan menjadi seorang pemimpin pada sebuah organisasi. Mungkin kita pernah mendengar istilah “mahasiswa kupu-kupu” yang artinya mahasiswa tersebut hanya datang untuk perkuliahan semata. Sementara untuk informasi lainnya yang ada di kampus tidak ia hiraukan jika tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah. Sebaiknya, kita jangan mencontoh mahasiswa yang demikian. Hendaknya kita bisa menjadi mahasiswa sejati dan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan kita dengan berorganisasi di kampus.

Dalam berorganisasi, kita bisa mengenal dunia kampus lebih luas. Misalnya, kita adalah seorang mahasiswa yang tidak terbiasa dengan pidato ataupun sering gugup ketika berbicara di depan orang ramai, dengan berorganisasi kita akan dibina untuk hal itu. Setidaknya, keluar dari organisasi tersebut kita mampu untuk berbicara secara terbuka di depan orang banyak. Betapa pentingnya organisasi tidak mampu kita ukur secara formal, namun bisa kita rasakan dengan perasaan. Dahulunya kita hanyalah seorang yang pendiam dan jarang bergaul, setelah mencoba untuk berorganisasi maka kita bisa untuk mengeluarkan pendapat dan berbicara dengan tenang. Kita tidak lagi merasakan gugup atau gemetar melihat kumpulan orang yang akan mendengar apa yang akan kita ucapkan.

Aspek utama yang harus kita miliki dalam berorganisasi yaitu mental yang kuat tapi, mental pun tidak cukup harus ada semangat dan kemauan yang kuat jika ingin perubahan. Jika kita sudah punya semua itu kemauan berlabuh pada sebuah organisasi, maka akan mudah bagi kita untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Seorang mahasiswa akan mengarungi perjalanan panjang untuk meraih mimpinya sebagai seorang sarjana, kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak tentunya. Begitulah kira-kira keinginan semua mahasiswa yang berjuang keras melewati perjalanan panjangnya selama duduk di bangku perguruan tinggi. Perjalanan panjang itu tidak boleh disia-siakan, karena kita harus bisa memanfaatkan segala hal yang baik untuk memberi hasil positif bagi diri kita sendiri. Akan lebih baik jika kita juga mampu memberikan dampak positif bagi orang lain.

Bagi mahasiswa yang belum menemukan jati dirinya sebagai seorang mahasiswa, maka berusahalah untuk bergabung dengan organisasi yang ada di kampus atau semisal berorganisasi ekstra kampus. Semua itu akan berguna untuk kelangsungan perkuliahan dan mampu menjalin persahabatan antara sesama mahasiswa di kampus. Janganlah menjadi mahasiswa seperti batu yang terselip dalam pondasi, yang hanya bertahan pada satu tempat berdiam. Sama halnya dengan mahasiswa yang hanya duduk di bangku kuliah tanpa memberikan umpan balik dalam perkuliahan. Dengan tambahan ilmu tidak hanya pada intra kampus,tapi  program ekstra kampus juga menambah eksistensinya dalam pengorganisasian dimana para kader muda ini ditempa keilmuannya .

Rasa nasionalisme yang tinggi inilah yang biasanya dimililiki oleh sebagian besar kader organisasi ekstra kampus. Pasalnya, di organisasi inilah sebenarnya kebanggaan, kecintaan, dan rasa memiliki di tumbuhkan lewat kajian-kajian sederhana tentang ke-indonesiaan. Dari diskusi sederhana itulah semua wawasan tentang keindonesiaan didoktrinkan hingga kader-kadernya mampu benar-benar menjiwai rasa nasionalime mereka. Hal ini sebenarnya mampu mengisi kekurangan yang dimiliki oleh kampus, yaitu kurangnya pendidikan tentang keindonesiaan. Oleh karena itulah sebenarnya, organisasi ekstra kampus ini sangatlah dibutuhkan oleh seorang mahasiswa untuk melengkapi ilmu yang mereka pelajari di kampus.

 

Ketika ingin mengubah sesuatau, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetahui apa yang harus diubah. Sulit bagi siapa saja yang hidupnya ingin baik, tapi tidak tahu harus dimulai dari mana.

Bila sejak usia remaja mereka terbiasa untuk santai tidak berguna. Ketika dewasa nanti kebiasaan buruk itu akan sulit untuk dirubah,seperti noda yang melekat dibaju tidak bisa hilang ketika dicuci. Memang terlihat enak saat ini tapi eneg di kemudian hari.

 

Penulis : Ipin Orsela

Editor : Harits Faisal Rahman