Mahasiswa Universitas Brawijaya Menciptakan Teknologi Pengasapan Ikan Dengan Sistem Recycle Smoke

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Terdapat 3 Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya yang terdiri dari Hidayatun Muyasyaroh (THP), Imam Muhammad Bagus (AP), dan M. Ubaidillah Al-Bustomi (BP) menciptakan sebuah teknologi pengasapan berbasis vakum dengan sistem recycle limbah.

Tim yang dibimbing langsung oleh Dr. Ir. Yahya, MP dan didampingi oleh Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc mengubah teknologi pengasapan tradisional menjadi teknologi moderen dengan  desain  recycle sistem. Hal ini bertujuan untuk mengolah limbah asap menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.

Ide pembuatan alat ini muncul didasari pada saat salah satu mahasiswa dari tim PKM melaksanakan program magang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB di UKM pengasapan Sekar Wangi desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Selain mengikuti proses pengasapan, mahasiswa ini diminta membatu pemerintah Tuban untuk melakukan survey pendataan di Kecamatan Rengel yang memiliki usaha pengasapan. Dari hasil survey menunjukkan 100% pengasapan di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban masih menggunakan teknologi tradisional.

“Penggunaan teknologi pengasapan tradisional memiliki banyak kelemahan diantaranya menghasilkan limbah berupa asap yang menyebabkan polusi udara, pengasapan dilakukan ditempat terbuka sehingga rawan terjadi kontaminasi, proses pengasapan terlalu cepat dengan suhu tinggi sehingga terjadi case hadeninng (produk matang bagian luar tapi masih mengandung banyak air didalamnya.”

Seperti yang diungkapkan Hidayatun Muyasyaroh selaku ketua tim, dibentuklah tim untuk memecahkan permasalahan tersebut. Banyak UKM pengasapan yang berharap dapat meningkatkan produk ikan asap dari segi kualitas dan kuantitas.

ECHOSMOKE merupakan terobosan baru dari alat pengasapan yang menggunakan sistem recycle limbah asap.  Alat ini dapat memperbaiki dari segi kualitas dan kuantitas produk ikan asap, mengurangi polusi, dan menghasilkan limbah yang bernilai ekonomis yaitu asap cair. “Asap cair dapat digunakan sebagai anti bakteri dan pemberi flavor pada produk. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa fenol dan asam-asam organik mampu menghambat pertumbuhan mikroba, selain itu terdapat senyawa fenolat yang berperan dalam memberikan flavor pada ikan asap” tambah Ubaidillah

Menurutnya kedepan akan semakin berkembang pesat penggunaan teknologi pada semua bidang, sehingga UKM yang masih bertahan dengan cara tradisional harus dibantu dengan sentuhan teknologi untuk menghasilkan produk berkualitas dan tidak menghasilkan limbah.

Tak ada yang tak mungkin untuk menjawab tantangan Zaman, terus berkarya dan berdoa because every research has a story to tell 🙂

Penulis : TIM REDAKSI

MEMBIDIK SEKTOR KELAUTAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUNKAN KEMBALI RAKSASA YANG TERTIDUR (KEJAYAAN MARITIM NUSANTARA)

 

RUMAH ILMU, BRAWIJAYA, MALANG – Melalui sebuah opini ini, kita akan mencoba membangun persepsi baru, pola fikir dan pola sikap yang baru mengenai perespektif kita terhadap lautan serta potensi yang ada di dalamnya. Sejauh ini apa yang banyak orang fikirkan mengenai laut, saya rasa laut hanya sekedar sebagai bentang alam yang bisa dimanfaatkan untuk berwisata dan berenang, bahkan yang lebih parah, laut hanya sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah-sampah yang ada di darat. Tanpa fikir panjang saya bisa menyimpulkan bahwa sejauh ini lautan Indonesia hanya sebagai pelengkap saja dalam membangun sebuah peradaban bangsa. Percayalah sejauh ini, sadar tidak sadar, suka tidak suka, kita telah di doktrin secara tidak langsung, mengubur secara tidak langsung  potensi yang negara kita miliki yakni potensi kelautan dan kemaritimannya. Sejak zaman orde lama, orde lama ke orde baru, hingga reformasipun, sektor kelautan dirasa kurang memikat dan menarik, kita terlalu terfokus ke sektor agraris sebgai orientasi pembangunan. Padahal jika berbicara mengenai fakta dan karunia yang dimiliki bangsa kita, sudah jelas wilayah kita sebagian besar adalah laut.

Secara sadar, seharusnya kita  berani berkata bahwa sebenarnya Indonesia telah dikoderatkan sebagai bangsa bahari. Mengapa demikian, dahulu pada zaman kerajaan, Indonesia yang dikenal sebagai ‘Nusantara’, sangat berjaya di sektor maritimnya. Para raja zaman dahulu berstatement bahwa siapa yang berhasil mengarungi samudera yang luas, maka dia yang akan menguasai dunia. Kita lihat bagaimana kerajaan Majapahit, kerajaan Samudera pasai, dan beberapa kerajaan  Islam lainnya. Bagaimana kerajaan-kerajaan tersebut sangat berjaya dari sektor kemaritiman, bahkan mereka dapat mengarungai lautan hingga ke madagaskar baik untuk berdagang ataupun membangun hubungan baru. Hal itu memang benar, dan memang telah tertanam menjadi sejarah bagsa Indonesia, sejarah nusantara, yang saya rasa hingga saat ini Indonesia masih belum dan terus berusaha menggali dan mewujudkan kembali kejayaan tersebut. Jika hal ini bisa diwujudkan, tentu akan gampang mencapai visi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, karena kita layaknya akan membangunkan raksasa yang sedang tertidur dengan potensinya untuk mengguncangkan dunia. Jika  ditinjau dari perspektif akademis, keseluruhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, 2/3 bagian wilayahnya adalah perairan laut. Bahkan fakta dari hasil research telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang no 2 didunia setelah kanada, panjang garis pantai indonesia mencapa 95.000 Km2 , luasan laut kita mencapai 6 juta km2, dengan jumlah pulau yang ada mencapai 17.504 pulau. Dari hal  inilah Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari dan negara kepulauan terbesar didunia. Disinilah deklarasi Djoeanda mendapatkan peran geopolitik yang sangat mendasar bagi kesatuan, persatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu saja, dengan hamparan laut yang begitu luasnya, jika ditelaah lebih dalam sektor kelautan kita memiliki peran geoekonomi yang sangat strategis bagi kemajuan bangsa ini jika dapat dikelola dengan baik.

Tanpa kita sadari, faktanya ada beberapa kesalahan dan dosa besar para pemimpin bangsa jika kita melakukan kajian dari pengelolaan potensi kelautan yang ada, namun saya belum berani menyimpulkan apakah hal tersebut sebuah keselahan, apa memang SDM kita yang masih kurang dan tidak faham terkait teknis pengelolaan sumberdaya kelautan yang ada. Bayangkan saja, 2 tahun yang lalu ketika Indonesia mendeklarasikan diri menjadi salah satu bagian negara yang ikut serta dalam kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) diakhir tahun 2015, Indonesia menonjolkan sektor Industri Otomotif menjadi salah satu potensi dalam bersaing di program MEA tersebut, apakah pemerintah sudah skeptis dan alergi dengan potensi kelautan yang ada ? padahal, jika sumberdaya kelautan serta isinya dikonversikan ke nilai rupiah dapat berjumlah nyaris Rp 12 ribu teriliun, angka  fastatis tersebut sangat akan mensejahterakan rakyat, mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia termasuk, memenuhi anggaran APBN negara kita yang hanya 1.750 teriluin dan bahkan rencana anggaran tersebut cenderung defisit setiap tahunnya. Memang tidak bisa diragukan lagi kondisi geoekonomi sektor kelautan perikanan yang kita miliki. Jika ditinjau dari sudut pandang keilmuan kelautan dan perikanan lautan kita mengandung kekayaan sumberdaya alam yang sangat melimpah dan beragam, baik berupa SDA terbarukan (seperti perikanan, ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, ekosistem terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, rumput laut, serta beberapa produk bioteknologi yang bisa dihasilkan); SDA tak terbarukan (seperti minyak dan gas bumi, timah, biji besi, bauksit, dan mineral lainnya); energi kelautan (seperti pasang surut, gelombang, angin, dan OTEC atau Ocean Thermal Energy Conversion); maupun jasa-jasa kelautan seperti untuk pariwisata bahari, transportasi laut, dan sumber keragaman hayati serta plasma nutfah. Tidak hanya itu, belum lagi jika ditinjau dari geostrategis lautan Indonesia, secara letak dan wilayah, batas laut Indonesia sendiri bisa dikatakan sangat begitu setrategis, alur pelayaran internasional rata-rata melalui perairan laut Indonesia seperti selat malaka dan beberapa selat lainnya. Jika semua potensi-potensi tersebut bisa dimaksimalkan, insyaallah rakyat Indonesia akan makmur dan sejahtera

Sejauh ini jika memandang lingkup sektor kelautan dan perikanan, menurut saya masih ada problematika dalam proses pengelolaanya, belum lagi ditambah isu-isu yang berdatangan cenderung mengkhawatirkan dan membuat masyarakat resah, dan itu fakta serta benar-benar terjadi di sekitaran kita, entah hal-hal tersebut tercipta secara natural, atau efek dari kebijakan pemerintah, atau bahkan karena culture mental orang-orang kita sendiri. Ada banyak hal yang menjadi polemik di dunia perikanan dan kelutan, diantaranya masalah mengenai IUU Fishing ( Ilegal Unreported Unregulated Fishing), dimana dengan sumberdaya kelautan yang kita miliki,  khususnya ikan-ikan yang  ada dilaut yang begitu surplus, hal ini memicu negara-negara tetangga untuk menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia dengan alasan kekurangan stok ikan dinegaranya sendiri, dari kejadian ini tentu bisa disimpulkan bahwa keamanan dan pengamanan wilayah perairan kita masih dipertanyakan. Namun akhir-akhir ini, menteri kelautan perikanan sudah mulai tegas menindak hal tersebut dengan menenggelamkan kapal yang tidak memiliki izin untuk menagkap ikan diperairan Indonesia. Belum lagi problematika mengenai moratorium izin kapal eks-asing yang dimiliki pengusaha perikanan tangkap asal Indonesia, bahkan ada beberapa pengusaha perikanan tangkap indonesia yang mengeluh hingga kapalnya di scrub karena tak kunjung diberi izin berlayar sampai bertahun-tahun. Tentunya hal tersebut akan memberikan efek domino terhadap lapangan kerja nelayan yang pasti akan berkurang, dan usaha industri pengolahan ikan akan kekurangan stok ikan untuk diolah. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, apah ini hanya sebuah permainan politik atau kebijakan yang sebijak-bijaknya harus dilakukan oleh pemerintah. Ditambah lagi kasus impor garam ke negara kita, bayangkan saja dengan kondisi lautan yang begitu luas, dan kita tak kekurangan lahan untuk membuat tambak garam, namun masih tetap dengan kondisi kita yang saat ini, kita masih kekuranga untuk stok garam dan terpaksa mengimpor garam dari negara lain, entahlah apakah memang benar-benar kekurangan stok karena kekurangan SDM dan lahan produksi atau efek dari senyuman para kartel dan mafia yang ada.

Belum berhenti sampai disitu, para nelayan yang ada dikawasan pantura (pantai utara), mulai memberontak ketika dikeluarkan isu terkait pelarangan alat tangkap cantrang karena akan mendegradasi habitat dan merusak ekosistem dasar perairan. Kasus reklamasi wilayah pesisir yang dipertanyakan menganai dokumen amdal dan kelayakannya, degradasi habitat biota laut, serta ekosistem pesisir dan masalah-masalah lain yang terus berdatangan. Jika dilihat disudut pandang eksternal, ada informasi yang mengatakan bahwa negeri gajah putih (Thailand) bekerjasama dengan china, sudah mulai menjalankan proyek pembuatan terusan kanal, hal ini berfungsi untuk efisiensi dan efektifitas perdagangan international dari perairan cina ke madagaskar tanpa melalui selat malaka. Tentu hal ini akan berdampak ke Indonesia, karena perairan indoesia bagian utara akan jarang dan bahkan tidak lagi dilintasi kapal barang international, belum lagi isu mengenai sampah di laut, Ocean Acidification and Climate Change  yang sangat mengancam ekosistem yang ada di laut. Namun terlepas dari problematika tersebut, Indonesia saat ini sudah mulai bertahap membangun potensi kelautan yang dimiliki. Alhamdulillah, dibawah kepemimpinan Presiden yang baru, Indonesia telah memiliki visi sebagai poros maritime dunia, hal itu merupakan momentum bagi kita untuk mendukung dan mensuport  dalam mendayagunakan potensi kelautan secara produktif, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mulai membangun sektor kelautan, khususnya untuk potensi pada negara kita sendiri. Dalam tataran praksis, kita bisa menerapkan paradigma ekonomi biru dalam konteks pembangunan kelautan Indonesia melalui beberapa program dan kebijakan. Perlu difahami, hal pertama yang mukin perlu kita lakukan mulai menata lingkungan tataruang wilayah laut (RTRW), mulai wilayah peisir, hingga 12 mil dari bibir pantai, bahkan hingga batas landas continen jika sanggup. Artinya penataan dan pengelolaan ruang di laut, harus jelas baik dari segi subjek dan objek, serta membuat tata kelola administrasi yang baik dengan tujuan tidak adanya konflik dalam pemanfatan ruang laut itu sendiri. Kemudian kita harus merevitalisasi potensi kelautan perikanan yang ada. Artinya pemanfaatan ruang laut yang telah berlangsung saat ini (eksisting), baik yang dipergunakan untuk perikanan tangkap, lokasi budidaya laut (mutiara, ikan, rumput laut, dll), ekowisata bahari, pelabuhan dan infrastruktur lainnya, harus dikelola dengan konsep keterpaduan dan berkelanjutan, dimana pengelolaannya harus dikonsep secara terpadu, baik dari skala ekonomi, dan terpadu secara pengelolaannya. Dalam hal pengelolaan pemanfaatan ruang yang ada, harus dilakukan secara inklusif atau melibatkan masyarakat lokal yang ada sehingga efek peningkatan perekonomian wilayah setempat akan terasa secara bersama.

Selain itu, kita harus memaksimalkan dan mengembangkan berbagai sektor usaha ekonomi kelautan yang baru, seperti industri bioteknologi kelautan, industri nanoteknologi kelautan, energi terbarukan lainnya dari lautan seperti deep sea water industry, deep sea water maining,  dan  coastal ocean engineering. Saya rasa Indonesia tidak kekurangan professor dan para ahli untuk mengembangkan nano dan bioteknologi dari sumberdaya hayati laut yang ada. Selain itu, kita harus mengembangakan usaha-usaha ekonomi kelautan dikawasan pesisir, pulau-pulau kecil, dan laut yang belum dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Berbicara mengenai infrastruktur dan keinginan untuk meningkatkan taraf ekonomi dari sektor kelautan, artinya kita harus mempertimbangkan dari segi transportasi laut yang ada. Tindakan kongkritnya seperti pembangunan pelabuhan harus terpenuhi, kemudian pembuatan kapal (tol laut) untuk mempermudah pendistribusian barang hal ini bertujuan untuk menyamaratakan proses distribusi agar tercapai kesetaraan harga atau disparitas harga biaya logistik bisa lebih murah disemua wilayah Indonesia. Saya rasa inovasi mengenai tol laut ini, sudah mulai dijalankan oleh Bapak Jokowi selaku presiden kita,

Berbicara mengenai pembangunan sektor kelautan, kita juga harus menyelaraskan dengan kondisi lingkugan yang ada. Baik dari kondisi ekosistem yang menentukan keberlangsungan biota pesisir dan biota laut yang ada di dalamnya. Sejak dini, kita harus mulai merehabilitasi ekosistem pesisir dan laut yang telah rusak, pengendalian pencemaran laut, konservasi keanekaragaman hayati baik secara in situ (seperti kawasan konservasi laut atau Marine Protected Area ) maupun ex-situ (sea world, akuarium, dan pemuliaan genetika), dan pengkayaan stok ikan yang ada dilaut dengan memperhatikan kondisi MSY (Kemampuan ikan untuk pulih kembali), dan menjaga biota laut lainnya untuk mendukung kelestarian dan keberlanjutan pada ekosistem yang ada di pesisir dan laut. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan mengenai mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global, tsunami. Dan bencana alam lainnya. Upaya mitigasi tentunya berupa mencangkup pendekatan dan teknik untuk mengurangi penyebab yang mengakibatkan perubahan iklim dan bencana alam lain, yang disebabkan oleh aktivitas dan ulah manusia itu sendiri (anthropogenic sources), contohnya semaksimal mungkin kita bisa mengurangi emisi karbondoksida, dan gas-gas rumah kaca lainnya, menerapkan konsep zero emission teknologi, dan menerapkan konsep 3R (Reduced, Recycle, dan Reuse) dalam sektor industri dan transportasi khususnya yang ada pada wilayah pesisir dan laut.

Hal yang tak kalah penting dan paling mendasar adalah peningkatan kualitas dan jumlah SDM pada sektor kelautan dan perikanan yang ada, artinya kitra harus meningkatan kualitas dan kuantitas SDM khususnya dengan bidang keilmuan keluatan dan perikanan. Karena bagi saya kemajuan sebuah bangsa adalah berasal dari kemampuan dan kemauan rakyat dari bangsa itu sendiri. Saat ini kita semua harus percaya bahwa kita mampu dan kita bisa mambangun sektor kelautan yang kita miliki untuk kemajuan sektor perikanan kelautan Indonesia. Kita harus merubah pola fikir bahwa pendidikan itu memang sangat penting dan sangat bermakna untuk kemajuan sebuah bangsa, pendidikan dan keilmuan bukan hanya sekedar eksistensi, melainkan harus diterapkan dan disumbangkan untuk kemaslahatan.

Demikian yang dapat saya tulis dalam artikel ini, semoga kedepan bangsa Indonesia bisa berdikari dan bangkit dari sektor kelautannya, mencapai visi Indonesia menjadi poros maritime dunia, membangunkan kembali raksasa yang tertidur, mengembalikan kejayaan Indonesia (Nusantara) sebagai bangsa bahari… Amin..

Penulis :  Muhamad Ridho Firdaus

Email  : [email protected]

The Importance of Paper for Sustainable Development

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Apakah ilmu hanya akan di simpan di dalam otak tanpa menyimpannya di suatu kertas ? apakah pensil dan tinta harus di lenyapkan keberadaannya jika kertas sudah tidak lagi di butuhkan ? dan apakah tinta dan printer harus di lupakan karena tidak bergunanya kertas ?

Kertas
Apalah arti suatu ilmu tanpa secuil kertas, apalah arti sebatang pensil tanpa secorek kertas, apalah arti sebotol tinta tanpa selembar kertas dan apalah arti printer tanpa adanya kertas. Kertas, mungkin tidak terlalu berarti bagi manusia penggila gadget, internet dan segala bentuk dunia social media. Kenapa ?
Informasi sudah bisa tersebar melalui media sosial, kita bisa mengupdate informasi melalui internet, twitter, instagram atau bahkan facebook.

Mark zuckeberg memudahkan kita bertukar informasi dan menyampakan informasi bahkan suatu ilmu melalui facebook, dan itu tanpa menggunakan kertas serta lebih mudah di akses. Siswa atau bahkan mahasiswa tidak perlu mahal-mahal mengeluarkan biaya untuk membeli buku atau menggandakan buku untuk keperluan sekolah karena sudah ada E-book di Internet, jadi bisa lebih hemat kertas.

Berita-berita tentang pemerintah, selebriti, tindakan kriminal dan yang lain lebih mudah tersebar melalui televisi, internet dan segala macam bentuk sosial media, jadi untuk apa boros kertas hanya untuk mencetak berita-berita di koran ? toh tidak banyak yang berlangganan koran. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam hal hemat pengeluaran dan biaya kertas kan ? toh kalau sudah tidaak terpakai kertasnya bisa langsung di buang menjadi sampah.

Apa semua uraian di atas itu benar ?

Hai kawan, sadarlah, ingatlah sebelum kalian mengenal yang namanya gadget, sebelum kalian mengenal apa itu instagram, twitter, line, whatsapp dan facebook… apa yang kalian baca sebelumnya ? media apa yang kalian gunakan untuk menulis ? ketika kalian hendak merancang sesuatu apa bisa kalian langsung tulis dan share dengan gadget ? atau mungkin kalian membuat kerangka acuan apapun di tembok ?

E-book, Google, Journal electric, Google Schoolar dan masih banyak yang lain. Alat tersebut memang sangat sangat penting sekali dalam era sekarang, dimana kids jaman now yang kebanyakan makan micin selalu membutuhkannya. Mengerjakan tugas sekolah, PR, informasi mengenai kesehatan, selebritis, bahkan ketika sedih putus dengan pacar yang di cari pertama kali malah gadget. Browsing tentang materi sekolah atau perkuliahan dari internet, informasi kesehatan, kecantikan, selebritis dari berbagai macam sosial media yang ada. Bahkan ujian akhir di tingkat SMP dan SMA saja sekarang sudah tidak menggunakan kertas, yang di butuhkan hanya personal computer, raport saja sekarang sudah online tanpa susah-susah menggunakan kertas untuk mencantumkan nilai hasil belajar siswa. Lalu ?

Apa peranan kertas pada era sekarang ini ? apakah kids jaman now menyadari atau bahkan mengetahui fungsi kertas pada zaman dulu bahkan sampai sekarang ?

Ku rasa Mereka haya mengerti sedikit. Menurutku tidak hanya kids jaman now saja yang melupakan peranan penting kertas pada zaman ssekarang. Banyak para orang tua, birokrat – birokrat yang juga terlena dengan adanya gadget ini sampai mereka berhenti langganan koran karena sudah bisa mengakses berita atau informasi melalui internet. Lalu apakah perusahaan media cetak harus di tutup hanya karena keberadaan kertas disini kurang di butuhkan ? apakah perusahaan penghasil kertas juga harus di tutup karena tidak banyak yang membutuhkan kertas saat ini ?

Oh Tidak,

Apa jadinya kalau perusahaan kertas sampai tidak produksi kertas lagi, apa jadinya kalau perusahaan media cetak harus di tutup. Bagaimana nasib pekerja atau karyawan di perusahaan media cetak dan kertas apabila perusahaannya di tutup ? haruskah mereka beralih profesi menjadi seller gadget ? atau bahkan mereka harus beralih menjadi penjual micin ? dan apakah benar menghemat pengeluaran kertas untuk mencegah global warming ?
Tahukah kalian semua wahai penghianat kertas ?

Kami disini para mahasiswa, para siswa, dosen, guru, atau bahkan semua yang masih ingat atas jasa kertas sebelum adanya gadget ini sangat sangat amat membutuhkan adanya kertas. Bagaimana nasib kita para siswa, murid SD atau bahkan TK yang tidak mengenal gadget atau bahkan tidak akan mampu mengenal gadget bisa belajar dengan baik kalau keberadaan kertas di hapuskan, bagaimana mereka akan membaca materi sekolah apabila materi sekolah hanya ada di dunia maya ? bagaimana nasiib mahasiswa mencetak laporan praktikumnya apabila kertas di binasakan ? bagaimana nasib mahasiswa tingkat akhir mengabadikan tugas akhirnya apabila kertas di musnahkan ? bagaimana nasib penjual nasi uduk di pinggir jalan. Bagaimana nasib tukang gorengan, bagaimana nasib tukang fotokopi ? bagaimana ??

Mungkin kalian tidak tahu betapa berharganya kertas dalam kehidupan sehari-hari kami, kami sangat membutuhkan kertas untuk alat pendidikan kami mencapai tittle sarjana. Para pekerja di perusahaan media cetak,perusahaan kertas , hanya ingin membantu kami para penghuni bumi ini agar apabila keadaan gadget kalian sudah tidak mampu memenuhi apa yang kalian butuhkan akan informasi, kalian masih bisa memanfaatkan kertas untuk memenuhi kebutuhanmu itu. Teruslah berjalan wahai kertas di bumi yang penuh dengan manusia kejam ini yang seolah-olah tidak menganggap keberadaanmu.

Mereka juga akan terus berjalan sambil menundukkan kepalanya melihat gadget dan pada akhirnya juga mereka akan membutuhkanmu. Tetaplah berda di belakang manusia dan tunjukkan bahwa kertas takkan tergantikan.

Lantas ?
Apakah Martin Cooper menciptakan gadget, Kevin Systrom menciptakan instagram, Mark Zuckerberg menciptakan facebook , Jan Koum menciptakan aplikasi whatsapp, Lee Hae Jin menciptakan applikasi line sengaja menentang seorang Cai Lun yaitu tokoh berkebangsaan Tionghoa yang menciptakan kertas untuk pertama kali ?

Apakah mereka tokoh-tokoh pencipta applikasi media sosial sengaja ingin melenyapkan nama Conrad Gessner pencipta pensil dan Laszlo Biro penemu bollpoint karena pensil sudah tidak akan berguna lagi karena tidak adanya kertas ? atau juga mereka sengaja melupakan Johannes Gutenberg penemu mesin cetak pertama kali agar tidak perlu mencetak kertas karena hanya membuat pemanasan global ?

Tentu saja jawabannya tidak.!

Apakah Martin Cooper, Kevin Systrom, Mark Zuckerberg, Jan Koum dan Lee hae Jin adalah tokoh-tokoh yang lebih baik dari Cai Lun, Conrad Gessner, Laszlo Biro dan Johannes Gutenberg atau mereka tokoh-tokoh muda pencipta media sosial adalah penyelamat dunia karena dapat mempermudah manusia mengakses informasi dan yang lain tanpa adanya kertas yang katanya semakin banyak kertas yang di gunakkan maka bumi ini akan terjadi pemanasan global ?

Mungkin saja mereka (pencipta sosial media) lebih cerdas dari pada penemu-penemu terdahulu, mereka mencipatakn semua itu hanya karena mereka mengeksplore kemampuan mereka dalam bidangnya. Saya yakin juga mereka tidak melupakan sejatinya fungsi kertas bagi kehidupan mereka, karena kertas sangat di butuhkan untuk kehidupan yang berkelanjutan ini.

Rethink guys.. how important the paper from the past until now …

Penulis : Siti Rahmawati / PSP’15 / FPIK-UB

Editor : HFR / PSP’14 / FPIK-UB

[INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – [INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

Libur panjang semester ganjil sudah di depan mata nih. Ada yang bingung mau ngapain waktu liburan ? Yuk manfaatin waktu liburan buat magang . . . .
Buat teman-teman yang berkeinginan mengikuti magang lkp2, pendaftaran magang LKP2 akan dibuka pada:

Hari, tanggal : Senin, 27 November 2017 – Kamis, 30 November 2017
Waktu : 09.00 – 15.00WIB
Tempat : Sekretariat LKP2

Magang LKP2 memiliki tujuan:
1. Menambah pengetahuan, informasi, wawasan dan pengalaman secara aplikatif dibidang perikanan dan kelautan
2. Sarana penerapan ilmu dilapang
3. Lahan pembinaan mahasiswa dalam usaha peningkatan keilmuan perikanan dan kelautan

Untuk informasi lebih lanjut terkait magang LKP2, silahkan langsung datang ke stand pendaftaran magang yaa . . . .

#LKP2
#TOTAL, LOYAL, PROFESIONAL

LAPORAN MANAJEMEN AGRIBISNIS PERIKANAN

LAPORAN PENGELOLAAN USAHA
KERUPUK IKAN JAKET
(Aluterus Monoceros)

KELAS A04
KELOMPOK 32
1. SARI TIRTA P 145080201111010
2. HARITS FAISAL RAHMAN 145080201111025
3. SRI MURTI 145080201111062
4. ADVENTUS SINAGA 145080400111036
5. KRESNA ARGA DINATA 145080400111043


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017


DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..ii
BAB 1. PENDAHULUAN …………………………………………………………………..5
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………………………….5
1.2 Tempat dan Waktu …………………………………………………………………….6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………..7
2.1 Aspek Teknis……………………………………………………………………………….7
a. Sarana dan Prasarana ……………………………………………………………….7
b. Proses Produksi ………………………………………………………………………….8
2.2 Aspek manajemen dalam Usaha ………………………………………..9
a. Planing ………………………………………………………………………………………11
b. Organizing………………………………………………………………………………….12
c. Actuating ……………………………………………………………………………………12
d. Controling…………………………………………………………………………………..13
2.3 Aspek Pemasaran …………………………………………………………………….14
a. Bauran Pemasaran ……………………………………………………………………..15
b. Teknik Pemasaran ………………………………………………………………………16
2.4 Aspek finansiil……………………………………………………………………………17
a. Modal ………………………………………………………………………………………..17
b. Biaya total ……………………………………………………………………………….18

fhfsss iii
c. Penerimaan………………………………………………………………………………..19
d. Keuntungan………………………………………………………………………………..20
e. Analisa BEP ……………………………………………………………………………….21
2.5
Basic Resources……………………………………………………………………24
a. Man…………………………………………………………………………………………..24
b. Money ……………………………………………………………………………………….25
c. Material ……………………………………………………………………………………..26
d. Machine …………………………………………………………………………………….27
e. Methode …………………………………………………………………………………….28
f.Market……………………………………………………………………………………………28
BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………30
3.1 Aspek Teknis…………………………………………………………………………..30
a. Sarana dan Prasarana produksi …………………………………………..30
b. Proses produksi………………………………………………………………………..33
3.2 Aspek Manajemen…………………………………………………………………34
a. Planning …………………………………………………………………………………….34
b. Organizing………………………………………………………………………………….35
c. Actuating ……………………………………………………………………………………37
d. Controlling………………………………………………………………………………….37
3.3 Aspek Pemasaran ……………………………………………………………….38
a. Bauran Pemasaran ………………………………………………………………..38
b. Cara atau teknik Pemasaran ……………………………………………….39


3.4 Aspek Finansiil …………………………………………………………………..40
a. Modal ………………………………………………………………………………………..40
b. Biaya total ……………………………………………………………………………….40
c. Penerimaan……………………………………………………………………………..41
d. Keuntungan……………………………………………………………………………..42
e. Analisa BEP ( kurang Analisa BEP (S) )……………………………42
3.5 Basic Reources …………………………………………………………………….42
a. Man…………………………………………………………………………………………..43
b. Money ……………………………………………………………………………………….43
c. Material ……………………………………………………………………………………..44
d. Method ………………………………………………………………………………………44
e. Market ……………………………………………………………………………………….45
BAB IV. PENUTUP ……………………………………………………………………..47
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………….47
4.2 Saran……………………………………………………………………………………….48
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………49
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………….53


Selanjutnya, anda dapat download softfile disini!

https://drive.google.com/open?id=1olUWhZIvPVCjvQtaM42PYXDq8GxUqfBo

Juara 1 Fotografi Olimpiade Ilmu Kelautan

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Sabtu, 18 November 2017

Assalamualaikum wr. wb.

Selamat Pagi.. salam prestasi..

Alhamdulillah.. Kembali menyabet juara, bagian dari Tim Rumah Ilmu Brawijaya mendapatkan Juara 1 dalam acara “Olimpiade Ilmu Kelautan” yang di selenggarakan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Siapakah dia?

He is . . .

Yuda Rahmat program studi IK-FPIK UB 2015

Harapannya semua Tim Rumah Ilmu Brawijaya dapat meneruskan estafet prestasi menurut bidangnya dari Tim Rumah Ilmu Brawijaya, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Yuk.. gali ilmu sampai ke negeri cina, gabung di RUIL BRAWIJAYA dan dapatkan sensasinya ^^

Penulis : Harits Faisal Rahman (PSP-FPIK UB 2014)

#fpikub17
#FPIKsantunberprestasi
#BahagiaTimRumahIlmuBrawijaya

LAPORAN EKONOMI PERIKANAN

LAPORAN PRAKTIKUM

EKONOMI PERIKANAN

Semester Ganjil 2017/2018

Asisten :Nindi Safitriani

KELAS P3

KELOMPOK 26

  1. TUTUT WIDIYAWATI 145080201111005
  2. FAJAR RANI 145080201111011
  3. RAHMAN R. YARFARYH 145080201111019
  4. SURYA PRASTYA P 145080201111024
  5. HARITS FAISAL RAHMAN 145080201111025
  6. AHMAD ZUHRIL HISAN 145080207111003
  7. FEBRINA FITRIA N 145080301111006
  8. INTAN AYU QOMARIA A 155080201111017
  9. NINDI NUR WULANDARI 155080201111025
  10. NITA HELLIS SETYOWATI 155080201111027
  11. NUNUNG ROSITA DEWI 155080201111030
  12. YULIS FITRIANI 155080201111031

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017

 

Selanjutnya, anda dapat download softfile disini!

https://drive.google.com/open?id=19zfM-IDnJEHfHESojSqb_w-OEwZ7zDue

Tim Rumah Ilmu Kembali Manuver Menjadi Juara

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Minggu, 12 November 2017

Assallamualaikum.
Selamat pagi , salam semangat prestasi

Alhamdullillah
kabar prestasi dari beberapa Tim Rumah Ilmu Brawijaya, siapakah mereka:

They is . . .
1. Arifatuzuhro program studi AP-FPIK UB (2015)
2. Agung Dwi handoko MSP- FPIK UB (2016)
3. Muhammad Azran Fadillah MSP-FPIK UB (2016)

Telah diraihnya juara 1 dan Best Presenter dalam “National Paper Competition Indonesian Scientific Days 2017” yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Islam Science and Research Club Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada tanggal 10-12 November 2017.

Harapannya semua Tim Rumah Ilmu Brawijaya dapat meneruskan estafet prestasi dari Tim Rumah Ilmu Brawijaya, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Yuk.. gali ilmu sampai ke negeri cina, gabung di RUIL BRAWIJAYA dan dapatkan sensasinya ^^

Penulis : Harits Faisal Rahman (PSP-FPIK UB 2014)

#fpikub17
#FPIKsantunberprestasi
#BahagiaTimRumahIlmuBrawijaya

Urban Aquaculture: Solusi Budidaya Vaname Berkeadlian Sosial dan Ekonomi

RUMAH ILMU BRAWIJAYA – MALANG, Industri perikanan di sektor budidaya udang memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat diperkirakan harga jual udang akan tetap stabil hingga beberapa tahun ke depan. Perkembangan teknologi di bidang ini pun cukup menarik untuk diikuti. Kita mungkin sudah familiar dengan yang namanya sistem budidaya intensif. Peralihan dari sistem budidaya yang menggunakan kolam tradisional dengan kepadatan rendah menuju sistem budidaya dengan kolam intensif yang kepadatannya jauh lebih tinggi.

Sistem bioflok pun sudah mulai diterapkan di kalangan pembudidaya dengan tujuan efektivitas pakan dan padat tebar. Dalam sistem bioflok pergantian air pun akan lebih diminimalkan karena bakteri yang ada di dalamnya dapat bekerja sedemikian rupa hingga terjadi “self purification” pada air.

Yang terbaru adalah sistem budidaya udang super intensif. Sistem budidaya hasil karya Dr. Ir. Hasanuddin Atjo ini bisa mendongkrak padat tebar hingga 1000 ekor/m2. Seperti yang dikutip dari laman semoga-berguna-untuk-kita.blogspot.co.id, melalui Inovasi dalam pembudidayaan udang Sistem Super intensif berhasil meningkatkan kepadatan tebar dari yang hanya 100-200 ekor/m2 pada budidaya sistem semi-intensif dan 400-500 ekor/m2 pada budidaya sistem intensif, menjadi 1.000 ekor/m2 dengan hasil produksi mencapai 15,3 ton/1.000 m2. Ini adalah hasil budidaya udang Vannamei tertinggi di dunia, yang mana rekor sebelumnya dipegang oleh Meksiko dengan hasil 11,1 ton/ 1.000 m2, sedangkan China hanya menghasilkan 9 ton/ 1.000 m2.

Namun dari semua teknologi budidaya yang ada, dana yang besar menjadi syarat utama. Selain itu, lokasi budidaya haruslah di daerah pesisir laut. Hal ini jelas tidak akan menjawab permasalahan yang ada di masyarakat, yakni ketimpangan sosial dan ketidakmerataan kemampuan ekonomi. Solusi yang bisa ditawarkan adalah teknologi budidaya yang bisa dilakukan dimana saja dan tentunya tidak butuh modal besar. Terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Israel dengan teknologi budidaya Grow Fish Anywhere, perlu kiranya konsep budidaya udang vaname bisa dilakukan di tengah kota seluruh Indonesia, selanjutnya kita namai teknologi budidaya ini dengan Urban Aquaculture.

Temuan Riani et al 2012 yang menyatakan bahwa udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan bersuhu rendah, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Ini berarti vaname yang umumnya hidup pada salinitas 25-35 ppt bisa dipaksa hidup pada salinitas mendekati nol. Fakta ini menjadi dasar teori untuk budidaya vaname di tengah kota, karena tidak terlalu bergantung pada pasokan air laut. Mengenai biaya, budidaya vaname dengan konsep Urban Aquaculture tidak akan lebih dari 10 juta perkolamnya. Kolam yang digunakan adalah kolam terpal dengan konstruksi besi berbentuk bundar. Diameter kolam bisa dimodifikasi tergantung lahan yang ada, yang pasti minimal berdiameter 3 meter, dengan pertimbangan efektivitas biaya operasional.

Konsep budidaya vaname system Urban Aquaculture memang belum diterapkan di Indonesia. Semoga beberapa tahun kedepan Standart Operasional Procedure (SOP) segera dirumuskan supaya sector budididaya vaname benar-benar menjadi penggerak  perekonomian masyarakat menegah kebawah. Perekonomian yang berkeadilan adalah cita-cita mulia bangsa Indonesia.

Penulis : Akbar Hariyadi / BP-FPIK_UB / 2013