MEMBIDIK SEKTOR KELAUTAN SEBAGAI UPAYA MEMBANGUNKAN KEMBALI RAKSASA YANG TERTIDUR (KEJAYAAN MARITIM NUSANTARA)

 

RUMAH ILMU, BRAWIJAYA, MALANG – Melalui sebuah opini ini, kita akan mencoba membangun persepsi baru, pola fikir dan pola sikap yang baru mengenai perespektif kita terhadap lautan serta potensi yang ada di dalamnya. Sejauh ini apa yang banyak orang fikirkan mengenai laut, saya rasa laut hanya sekedar sebagai bentang alam yang bisa dimanfaatkan untuk berwisata dan berenang, bahkan yang lebih parah, laut hanya sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah-sampah yang ada di darat. Tanpa fikir panjang saya bisa menyimpulkan bahwa sejauh ini lautan Indonesia hanya sebagai pelengkap saja dalam membangun sebuah peradaban bangsa. Percayalah sejauh ini, sadar tidak sadar, suka tidak suka, kita telah di doktrin secara tidak langsung, mengubur secara tidak langsung  potensi yang negara kita miliki yakni potensi kelautan dan kemaritimannya. Sejak zaman orde lama, orde lama ke orde baru, hingga reformasipun, sektor kelautan dirasa kurang memikat dan menarik, kita terlalu terfokus ke sektor agraris sebgai orientasi pembangunan. Padahal jika berbicara mengenai fakta dan karunia yang dimiliki bangsa kita, sudah jelas wilayah kita sebagian besar adalah laut.

Secara sadar, seharusnya kita  berani berkata bahwa sebenarnya Indonesia telah dikoderatkan sebagai bangsa bahari. Mengapa demikian, dahulu pada zaman kerajaan, Indonesia yang dikenal sebagai ‘Nusantara’, sangat berjaya di sektor maritimnya. Para raja zaman dahulu berstatement bahwa siapa yang berhasil mengarungi samudera yang luas, maka dia yang akan menguasai dunia. Kita lihat bagaimana kerajaan Majapahit, kerajaan Samudera pasai, dan beberapa kerajaan  Islam lainnya. Bagaimana kerajaan-kerajaan tersebut sangat berjaya dari sektor kemaritiman, bahkan mereka dapat mengarungai lautan hingga ke madagaskar baik untuk berdagang ataupun membangun hubungan baru. Hal itu memang benar, dan memang telah tertanam menjadi sejarah bagsa Indonesia, sejarah nusantara, yang saya rasa hingga saat ini Indonesia masih belum dan terus berusaha menggali dan mewujudkan kembali kejayaan tersebut. Jika hal ini bisa diwujudkan, tentu akan gampang mencapai visi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, karena kita layaknya akan membangunkan raksasa yang sedang tertidur dengan potensinya untuk mengguncangkan dunia. Jika  ditinjau dari perspektif akademis, keseluruhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, 2/3 bagian wilayahnya adalah perairan laut. Bahkan fakta dari hasil research telah membuktikan bahwa Indonesia memiliki garis pantai terpanjang no 2 didunia setelah kanada, panjang garis pantai indonesia mencapa 95.000 Km2 , luasan laut kita mencapai 6 juta km2, dengan jumlah pulau yang ada mencapai 17.504 pulau. Dari hal  inilah Indonesia dikenal sebagai bangsa bahari dan negara kepulauan terbesar didunia. Disinilah deklarasi Djoeanda mendapatkan peran geopolitik yang sangat mendasar bagi kesatuan, persatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Tidak hanya itu saja, dengan hamparan laut yang begitu luasnya, jika ditelaah lebih dalam sektor kelautan kita memiliki peran geoekonomi yang sangat strategis bagi kemajuan bangsa ini jika dapat dikelola dengan baik.

Tanpa kita sadari, faktanya ada beberapa kesalahan dan dosa besar para pemimpin bangsa jika kita melakukan kajian dari pengelolaan potensi kelautan yang ada, namun saya belum berani menyimpulkan apakah hal tersebut sebuah keselahan, apa memang SDM kita yang masih kurang dan tidak faham terkait teknis pengelolaan sumberdaya kelautan yang ada. Bayangkan saja, 2 tahun yang lalu ketika Indonesia mendeklarasikan diri menjadi salah satu bagian negara yang ikut serta dalam kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) diakhir tahun 2015, Indonesia menonjolkan sektor Industri Otomotif menjadi salah satu potensi dalam bersaing di program MEA tersebut, apakah pemerintah sudah skeptis dan alergi dengan potensi kelautan yang ada ? padahal, jika sumberdaya kelautan serta isinya dikonversikan ke nilai rupiah dapat berjumlah nyaris Rp 12 ribu teriliun, angka  fastatis tersebut sangat akan mensejahterakan rakyat, mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia termasuk, memenuhi anggaran APBN negara kita yang hanya 1.750 teriluin dan bahkan rencana anggaran tersebut cenderung defisit setiap tahunnya. Memang tidak bisa diragukan lagi kondisi geoekonomi sektor kelautan perikanan yang kita miliki. Jika ditinjau dari sudut pandang keilmuan kelautan dan perikanan lautan kita mengandung kekayaan sumberdaya alam yang sangat melimpah dan beragam, baik berupa SDA terbarukan (seperti perikanan, ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, ekosistem terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, rumput laut, serta beberapa produk bioteknologi yang bisa dihasilkan); SDA tak terbarukan (seperti minyak dan gas bumi, timah, biji besi, bauksit, dan mineral lainnya); energi kelautan (seperti pasang surut, gelombang, angin, dan OTEC atau Ocean Thermal Energy Conversion); maupun jasa-jasa kelautan seperti untuk pariwisata bahari, transportasi laut, dan sumber keragaman hayati serta plasma nutfah. Tidak hanya itu, belum lagi jika ditinjau dari geostrategis lautan Indonesia, secara letak dan wilayah, batas laut Indonesia sendiri bisa dikatakan sangat begitu setrategis, alur pelayaran internasional rata-rata melalui perairan laut Indonesia seperti selat malaka dan beberapa selat lainnya. Jika semua potensi-potensi tersebut bisa dimaksimalkan, insyaallah rakyat Indonesia akan makmur dan sejahtera

Sejauh ini jika memandang lingkup sektor kelautan dan perikanan, menurut saya masih ada problematika dalam proses pengelolaanya, belum lagi ditambah isu-isu yang berdatangan cenderung mengkhawatirkan dan membuat masyarakat resah, dan itu fakta serta benar-benar terjadi di sekitaran kita, entah hal-hal tersebut tercipta secara natural, atau efek dari kebijakan pemerintah, atau bahkan karena culture mental orang-orang kita sendiri. Ada banyak hal yang menjadi polemik di dunia perikanan dan kelutan, diantaranya masalah mengenai IUU Fishing ( Ilegal Unreported Unregulated Fishing), dimana dengan sumberdaya kelautan yang kita miliki,  khususnya ikan-ikan yang  ada dilaut yang begitu surplus, hal ini memicu negara-negara tetangga untuk menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia dengan alasan kekurangan stok ikan dinegaranya sendiri, dari kejadian ini tentu bisa disimpulkan bahwa keamanan dan pengamanan wilayah perairan kita masih dipertanyakan. Namun akhir-akhir ini, menteri kelautan perikanan sudah mulai tegas menindak hal tersebut dengan menenggelamkan kapal yang tidak memiliki izin untuk menagkap ikan diperairan Indonesia. Belum lagi problematika mengenai moratorium izin kapal eks-asing yang dimiliki pengusaha perikanan tangkap asal Indonesia, bahkan ada beberapa pengusaha perikanan tangkap indonesia yang mengeluh hingga kapalnya di scrub karena tak kunjung diberi izin berlayar sampai bertahun-tahun. Tentunya hal tersebut akan memberikan efek domino terhadap lapangan kerja nelayan yang pasti akan berkurang, dan usaha industri pengolahan ikan akan kekurangan stok ikan untuk diolah. Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar, apah ini hanya sebuah permainan politik atau kebijakan yang sebijak-bijaknya harus dilakukan oleh pemerintah. Ditambah lagi kasus impor garam ke negara kita, bayangkan saja dengan kondisi lautan yang begitu luas, dan kita tak kekurangan lahan untuk membuat tambak garam, namun masih tetap dengan kondisi kita yang saat ini, kita masih kekuranga untuk stok garam dan terpaksa mengimpor garam dari negara lain, entahlah apakah memang benar-benar kekurangan stok karena kekurangan SDM dan lahan produksi atau efek dari senyuman para kartel dan mafia yang ada.

Belum berhenti sampai disitu, para nelayan yang ada dikawasan pantura (pantai utara), mulai memberontak ketika dikeluarkan isu terkait pelarangan alat tangkap cantrang karena akan mendegradasi habitat dan merusak ekosistem dasar perairan. Kasus reklamasi wilayah pesisir yang dipertanyakan menganai dokumen amdal dan kelayakannya, degradasi habitat biota laut, serta ekosistem pesisir dan masalah-masalah lain yang terus berdatangan. Jika dilihat disudut pandang eksternal, ada informasi yang mengatakan bahwa negeri gajah putih (Thailand) bekerjasama dengan china, sudah mulai menjalankan proyek pembuatan terusan kanal, hal ini berfungsi untuk efisiensi dan efektifitas perdagangan international dari perairan cina ke madagaskar tanpa melalui selat malaka. Tentu hal ini akan berdampak ke Indonesia, karena perairan indoesia bagian utara akan jarang dan bahkan tidak lagi dilintasi kapal barang international, belum lagi isu mengenai sampah di laut, Ocean Acidification and Climate Change  yang sangat mengancam ekosistem yang ada di laut. Namun terlepas dari problematika tersebut, Indonesia saat ini sudah mulai bertahap membangun potensi kelautan yang dimiliki. Alhamdulillah, dibawah kepemimpinan Presiden yang baru, Indonesia telah memiliki visi sebagai poros maritime dunia, hal itu merupakan momentum bagi kita untuk mendukung dan mensuport  dalam mendayagunakan potensi kelautan secara produktif, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mulai membangun sektor kelautan, khususnya untuk potensi pada negara kita sendiri. Dalam tataran praksis, kita bisa menerapkan paradigma ekonomi biru dalam konteks pembangunan kelautan Indonesia melalui beberapa program dan kebijakan. Perlu difahami, hal pertama yang mukin perlu kita lakukan mulai menata lingkungan tataruang wilayah laut (RTRW), mulai wilayah peisir, hingga 12 mil dari bibir pantai, bahkan hingga batas landas continen jika sanggup. Artinya penataan dan pengelolaan ruang di laut, harus jelas baik dari segi subjek dan objek, serta membuat tata kelola administrasi yang baik dengan tujuan tidak adanya konflik dalam pemanfatan ruang laut itu sendiri. Kemudian kita harus merevitalisasi potensi kelautan perikanan yang ada. Artinya pemanfaatan ruang laut yang telah berlangsung saat ini (eksisting), baik yang dipergunakan untuk perikanan tangkap, lokasi budidaya laut (mutiara, ikan, rumput laut, dll), ekowisata bahari, pelabuhan dan infrastruktur lainnya, harus dikelola dengan konsep keterpaduan dan berkelanjutan, dimana pengelolaannya harus dikonsep secara terpadu, baik dari skala ekonomi, dan terpadu secara pengelolaannya. Dalam hal pengelolaan pemanfaatan ruang yang ada, harus dilakukan secara inklusif atau melibatkan masyarakat lokal yang ada sehingga efek peningkatan perekonomian wilayah setempat akan terasa secara bersama.

Selain itu, kita harus memaksimalkan dan mengembangkan berbagai sektor usaha ekonomi kelautan yang baru, seperti industri bioteknologi kelautan, industri nanoteknologi kelautan, energi terbarukan lainnya dari lautan seperti deep sea water industry, deep sea water maining,  dan  coastal ocean engineering. Saya rasa Indonesia tidak kekurangan professor dan para ahli untuk mengembangkan nano dan bioteknologi dari sumberdaya hayati laut yang ada. Selain itu, kita harus mengembangakan usaha-usaha ekonomi kelautan dikawasan pesisir, pulau-pulau kecil, dan laut yang belum dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Berbicara mengenai infrastruktur dan keinginan untuk meningkatkan taraf ekonomi dari sektor kelautan, artinya kita harus mempertimbangkan dari segi transportasi laut yang ada. Tindakan kongkritnya seperti pembangunan pelabuhan harus terpenuhi, kemudian pembuatan kapal (tol laut) untuk mempermudah pendistribusian barang hal ini bertujuan untuk menyamaratakan proses distribusi agar tercapai kesetaraan harga atau disparitas harga biaya logistik bisa lebih murah disemua wilayah Indonesia. Saya rasa inovasi mengenai tol laut ini, sudah mulai dijalankan oleh Bapak Jokowi selaku presiden kita,

Berbicara mengenai pembangunan sektor kelautan, kita juga harus menyelaraskan dengan kondisi lingkugan yang ada. Baik dari kondisi ekosistem yang menentukan keberlangsungan biota pesisir dan biota laut yang ada di dalamnya. Sejak dini, kita harus mulai merehabilitasi ekosistem pesisir dan laut yang telah rusak, pengendalian pencemaran laut, konservasi keanekaragaman hayati baik secara in situ (seperti kawasan konservasi laut atau Marine Protected Area ) maupun ex-situ (sea world, akuarium, dan pemuliaan genetika), dan pengkayaan stok ikan yang ada dilaut dengan memperhatikan kondisi MSY (Kemampuan ikan untuk pulih kembali), dan menjaga biota laut lainnya untuk mendukung kelestarian dan keberlanjutan pada ekosistem yang ada di pesisir dan laut. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan mengenai mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global, tsunami. Dan bencana alam lainnya. Upaya mitigasi tentunya berupa mencangkup pendekatan dan teknik untuk mengurangi penyebab yang mengakibatkan perubahan iklim dan bencana alam lain, yang disebabkan oleh aktivitas dan ulah manusia itu sendiri (anthropogenic sources), contohnya semaksimal mungkin kita bisa mengurangi emisi karbondoksida, dan gas-gas rumah kaca lainnya, menerapkan konsep zero emission teknologi, dan menerapkan konsep 3R (Reduced, Recycle, dan Reuse) dalam sektor industri dan transportasi khususnya yang ada pada wilayah pesisir dan laut.

Hal yang tak kalah penting dan paling mendasar adalah peningkatan kualitas dan jumlah SDM pada sektor kelautan dan perikanan yang ada, artinya kitra harus meningkatan kualitas dan kuantitas SDM khususnya dengan bidang keilmuan keluatan dan perikanan. Karena bagi saya kemajuan sebuah bangsa adalah berasal dari kemampuan dan kemauan rakyat dari bangsa itu sendiri. Saat ini kita semua harus percaya bahwa kita mampu dan kita bisa mambangun sektor kelautan yang kita miliki untuk kemajuan sektor perikanan kelautan Indonesia. Kita harus merubah pola fikir bahwa pendidikan itu memang sangat penting dan sangat bermakna untuk kemajuan sebuah bangsa, pendidikan dan keilmuan bukan hanya sekedar eksistensi, melainkan harus diterapkan dan disumbangkan untuk kemaslahatan.

Demikian yang dapat saya tulis dalam artikel ini, semoga kedepan bangsa Indonesia bisa berdikari dan bangkit dari sektor kelautannya, mencapai visi Indonesia menjadi poros maritime dunia, membangunkan kembali raksasa yang tertidur, mengembalikan kejayaan Indonesia (Nusantara) sebagai bangsa bahari… Amin..

Penulis :  Muhamad Ridho Firdaus

Email  : [email protected]

[INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – [INFO MAGANG LKP2] Hallo Mahasiswa/i FPIK UB

Libur panjang semester ganjil sudah di depan mata nih. Ada yang bingung mau ngapain waktu liburan ? Yuk manfaatin waktu liburan buat magang . . . .
Buat teman-teman yang berkeinginan mengikuti magang lkp2, pendaftaran magang LKP2 akan dibuka pada:

Hari, tanggal : Senin, 27 November 2017 – Kamis, 30 November 2017
Waktu : 09.00 – 15.00WIB
Tempat : Sekretariat LKP2

Magang LKP2 memiliki tujuan:
1. Menambah pengetahuan, informasi, wawasan dan pengalaman secara aplikatif dibidang perikanan dan kelautan
2. Sarana penerapan ilmu dilapang
3. Lahan pembinaan mahasiswa dalam usaha peningkatan keilmuan perikanan dan kelautan

Untuk informasi lebih lanjut terkait magang LKP2, silahkan langsung datang ke stand pendaftaran magang yaa . . . .

#LKP2
#TOTAL, LOYAL, PROFESIONAL

LAPORAN MANAJEMEN AGRIBISNIS PERIKANAN

LAPORAN PENGELOLAAN USAHA
KERUPUK IKAN JAKET
(Aluterus Monoceros)

KELAS A04
KELOMPOK 32
1. SARI TIRTA P 145080201111010
2. HARITS FAISAL RAHMAN 145080201111025
3. SRI MURTI 145080201111062
4. ADVENTUS SINAGA 145080400111036
5. KRESNA ARGA DINATA 145080400111043


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017


DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………..ii
BAB 1. PENDAHULUAN …………………………………………………………………..5
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………………………….5
1.2 Tempat dan Waktu …………………………………………………………………….6
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………..7
2.1 Aspek Teknis……………………………………………………………………………….7
a. Sarana dan Prasarana ……………………………………………………………….7
b. Proses Produksi ………………………………………………………………………….8
2.2 Aspek manajemen dalam Usaha ………………………………………..9
a. Planing ………………………………………………………………………………………11
b. Organizing………………………………………………………………………………….12
c. Actuating ……………………………………………………………………………………12
d. Controling…………………………………………………………………………………..13
2.3 Aspek Pemasaran …………………………………………………………………….14
a. Bauran Pemasaran ……………………………………………………………………..15
b. Teknik Pemasaran ………………………………………………………………………16
2.4 Aspek finansiil……………………………………………………………………………17
a. Modal ………………………………………………………………………………………..17
b. Biaya total ……………………………………………………………………………….18

fhfsss iii
c. Penerimaan………………………………………………………………………………..19
d. Keuntungan………………………………………………………………………………..20
e. Analisa BEP ……………………………………………………………………………….21
2.5
Basic Resources……………………………………………………………………24
a. Man…………………………………………………………………………………………..24
b. Money ……………………………………………………………………………………….25
c. Material ……………………………………………………………………………………..26
d. Machine …………………………………………………………………………………….27
e. Methode …………………………………………………………………………………….28
f.Market……………………………………………………………………………………………28
BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………30
3.1 Aspek Teknis…………………………………………………………………………..30
a. Sarana dan Prasarana produksi …………………………………………..30
b. Proses produksi………………………………………………………………………..33
3.2 Aspek Manajemen…………………………………………………………………34
a. Planning …………………………………………………………………………………….34
b. Organizing………………………………………………………………………………….35
c. Actuating ……………………………………………………………………………………37
d. Controlling………………………………………………………………………………….37
3.3 Aspek Pemasaran ……………………………………………………………….38
a. Bauran Pemasaran ………………………………………………………………..38
b. Cara atau teknik Pemasaran ……………………………………………….39


3.4 Aspek Finansiil …………………………………………………………………..40
a. Modal ………………………………………………………………………………………..40
b. Biaya total ……………………………………………………………………………….40
c. Penerimaan……………………………………………………………………………..41
d. Keuntungan……………………………………………………………………………..42
e. Analisa BEP ( kurang Analisa BEP (S) )……………………………42
3.5 Basic Reources …………………………………………………………………….42
a. Man…………………………………………………………………………………………..43
b. Money ……………………………………………………………………………………….43
c. Material ……………………………………………………………………………………..44
d. Method ………………………………………………………………………………………44
e. Market ……………………………………………………………………………………….45
BAB IV. PENUTUP ……………………………………………………………………..47
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………….47
4.2 Saran……………………………………………………………………………………….48
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………49
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………….53


Selanjutnya, anda dapat download softfile disini!

https://drive.google.com/open?id=1olUWhZIvPVCjvQtaM42PYXDq8GxUqfBo

LAPORAN EKONOMI PERIKANAN

LAPORAN PRAKTIKUM

EKONOMI PERIKANAN

Semester Ganjil 2017/2018

Asisten :Nindi Safitriani

KELAS P3

KELOMPOK 26

  1. TUTUT WIDIYAWATI 145080201111005
  2. FAJAR RANI 145080201111011
  3. RAHMAN R. YARFARYH 145080201111019
  4. SURYA PRASTYA P 145080201111024
  5. HARITS FAISAL RAHMAN 145080201111025
  6. AHMAD ZUHRIL HISAN 145080207111003
  7. FEBRINA FITRIA N 145080301111006
  8. INTAN AYU QOMARIA A 155080201111017
  9. NINDI NUR WULANDARI 155080201111025
  10. NITA HELLIS SETYOWATI 155080201111027
  11. NUNUNG ROSITA DEWI 155080201111030
  12. YULIS FITRIANI 155080201111031

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017

 

Selanjutnya, anda dapat download softfile disini!

https://drive.google.com/open?id=19zfM-IDnJEHfHESojSqb_w-OEwZ7zDue

Vanname Air Tawar, Alternatif Cerdas Budidaya Vanname

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Udang merupakan salah satu komoditas ekspor yang diunggulkan untuk menambah devisa Negara. Permintaan udang di pasar dunia diprediksi akan terus meningkat, terutama di beberapa Negara maju yang masyarakatnya sudah menerapkan pola hidup sehat. Gizi udang yang tinggi protein dan rendah kolesterol menjadi pertimbangan utama selain rasanya yang gurih. Inilah yang harus dijadikan peluang bagi Indonesia sebagai Negara eksportir udang terbesar di dunia. Hal ini tentu berdasarkan fakta yang ada bahwa Indonesia  mempunyai  luas wilayah serta adanya  sumber  daya  alam  yang mendukung  untuk  dapat  mengembangkan  usaha budidaya  udang.

Petambak udang kita sempat berjaya di masa lalu dengan udang asli Indonesia yakni udang windu (Penaeus monodon). Akan tetapi udang jenis ini rentan terhadap penyakit udang misalnya white spot. Hal ini diperparah dengan masuknya udang vaname yang didatangkan dari Amerika Latin. Alhasil sinar dari udang windu kian meredup.

Udang vaname memang memiliki keunggulan bisnis dibanding udang windu. Udang vanname bisa dibudidayakan dengan padat tebar yang lebih tinggi. Selain itu, udang jenis ini terbilang tidak manja. Udang ini akan tetap tumbuh dengan baik meskipun prosentase protein dalam pakan yang kita berikan lebih sedikit. Melihat dari semua keunggulan itu, petambak kita berbondong-bondong beralih ke budidaya vaname.

Bagaikan dua kutub baterai, ada sisi positif, ada juga sisi negatif yang selalu mengikutinya. Yang lebih menjadi sorotan adalah kondisi sumber daya alam di Indonesia ini. Sebagian besar perairan Indonesia bisa dikategorikan kurang baik jika dijadikan budidaya, terutama budidaya tambak. Seperti yang dilansir dari laman beritabogor.com, Indonesia tercatat sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbanyak kedua di dunia setelah Tiongkok. Data Jambeck et al 2015 menyebutkan sampah plastik Indonesia ke laut mencapai 187,2 juta ton. Hal ini diperkuat dengan temuan Lingkunganhidup.com bahwa kondisi pencemaran laut di Indonesia, dapat dikatakan 75 persen tergolong Sangat Tercemar, 20 persen Tercemar sedang dan sisanya sebesar 5 persen dikategorikan Tercemar ringan. Pencemaran bersumber dari berbagai polutan: plastik, pestisida, minyak dan lain-lain.

Berangkat dari semua permasalahan yang ada, perlu sebuah terobosan terbaru supaya produksi udang di Indonesia tetap stabil meskipun perairannya tercemar. Salah satu alternatif cerdas adalah membudidayakan vaname di perairan tawar. Temuan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Riani et al 2012 yang menyatakan bahwa udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan bersuhu rendah, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Ini berarti vaname yang umumnya hidup pada salinitas 25-35 ppt bisa dipaksa hidup pada salinitas mendekati nol.

Di beberapa daerah di Indonesia memang sudah menerapkan sistem budidaya vaname air tawar ini, akan tetapi Standart Operasional Prosedur (SOP) yang mutahir belum ditemukan. Selama ini petambak hanya membudidayakan vaname air tawar ini di kolam tradisional yang dipolikultur dengan spesies lain seperti ikan bandeng.

Penulis : Akbar Hariyadi (eng) / BP / 2013

Sudah Saatnya Nelayan Beralih ke Perikanan Budidaya

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Permintaan pasar terhadap ikan akan cenderung menunjukkan tren positif seiring kesadaran masyarakat tentang nilai gizi yang terkandung dalam daging ikan . Ikan adalah alternatif cerdas sebagai pengganti daging sapi yang semakin mahal.

Selain ekonomis, kandungan gizi dalam daging ikan tidak bisa dikatakan remeh. Dikutip dari situs pertanian.magelangkota.go.id, ikan mengandung 18% protein terdiri dari asam-asam amino esensial yang tidak rusak pada waktu pemasakan. Kandungan lemaknya 1-20% lemak yang mudah dicerna serta langsung dapat digunakan oleh jaringan tubuh. Kandungan lemaknya sebagian besar adalah asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan dapat menurunkan kolesterol darah.

Akan tetapi permasalahan baru muncul bagaikan dua sisi koin uang. Menurut teori ekonomi “Kebutuhan manusia tidak terbatas sedangkan alat pemuas kebutuhan tersebut terbatas”. Hal ini berakibat eksploitasi berlebihan ikan di laut yang mengakibatkan stok ikan di laut akan habis. Dari data hasil kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2013 menunjukkan bahwa stok ikan Indonesia saat ini mencapai 7,305 juta ton yang tersebar di 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP).

Solusi sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. Terutama pemerintah sebagai pengambil kebijakan harus turun tangan. Salah satu langkah konkret dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti adalah pengamanan wilayah territorial terhadap kapal asing penangkap ikan. Juga pelarangan beberapa alat tangkap ikan.

Solusi lain adalah penggalakan perikanan budidaya. Peralihan perikanan tangkap ke budidaya  setidaknya akan mengurangi beban dari nelayan tangkap. Memang sampai saat ini kita lebih melihat menteri Susi cenderung memperhatikan perikanan tangkap saja. Padahal analisa logisnya, perikanan budidaya lebih bisa diharapkan karena kita bisa mengontrol ketersediaan stok. Pada akhirnya, sudah saatnya para stakeholder dan pelaku  perikanan mulai memperhitungkan perikanan budidaya.

Penulis : Akbar Hariyadi / BP 2013 / FPIK UB

Masyarakat Hukum Adat MANE’E

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Sudah tahu kah anda hukum adat pesisir? Mane’e adalah upacara adat masyarakat pesisir yang ada di sulawesi utara loh.. Sebuah upacara adat yang di sebut mane’e bermakna “mengambil ikan di laut secara bersama setelah ada musyawarah mufakat”.

Mane’e merupakan tradisi lisan yang spesifik yang telah berlangsung berabad abad dan diperkirakan berlangsung sebelum abad XV dan terekam melalui sejarah kelisanan mulai abad XIV, saat dokumen dan  catatan sejarah mulai ada. Tradisi mane’e di kalangan masyarakat talaud merupakan bagian dari keunikan lokal dan sebuah  peristiwa sosial. Upacara tradisi mane’e mengandung kearifan kearifan lokal masyarakat yang hidup sangat bersahaja.

Pelaksanaannya ketika air pasang tertinggi dan pasang surut terendah pada bulan purnama atau awal bulan mati yang didasarkan pada perhitungan pergerakan bintang. Dalam upacara tradisi mane’e diiringi doa atau puji-pujian dalam bentuk mantra. Ikan ikan akan berdatangan dalam kolam kolam buatan yang telah di siapkan.

Penasaran ga sih.. lihat vidionya ya.. kuy cek it out :

MANE’E IN INDONESIA PARADISE

Negeri Gajah Putih ‘Ancam‘ mimpi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Siapa yang tak kenal dengan negeri Gajah Putih, Thailand? Negeri yang mempunyai Ibukota bernama Bangkok tersebut merupakan bagian dari ASEAN yang bertetangga dengan Indonesia. Negeri ini memiliki rencana baru untuk  memusatkan perekonomian di ASEAN ke halamannya. Sebenarnya bukan hanya Indonesia yang pontang panting setelah mengetahui ‘proyek’ ini.

Negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura pun turut kebakaran jenggot karena ‘proyek’ ini.  Siapa yang tak kenal dengan negeri Gajah Putih, Thailand? Negeri yang mempunyai Ibukota bernama Bangkok tersebut merupakan bagian dari ASEAN yang bertetangga dengan Indonesia. Negeri ini memiliki rencana baru untuk  memusatkan perekonomian di ASEAN ke halamannya. Sebenarnya bukan hanya Indonesia yang pontang panting setelah mengetahui ‘proyek’ ini. Negara ASEAN lainnya seperti Malaysia dan Singapura pun turut kebakaran jenggot karena ‘proyek’ ini.

Proyek apakah yang di rencanakan Negeri Gajah Putih yang dapat mengancam mimpi Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia? Tak dapat dipungkiri lagi bahwa saat ini teknologi selalu bergerak maju dan tak dapat dibendung, begitu pun dengan terobosan inovasi dan teknologi dalam dunia pelayaran internasional yang terus didesak dengan kebutuhan kecepatan mobilisasi logistik internasional. Mungkin belum banyak orang yang tau, penandatanganan MoU antara China-Thailand yang menggagas pembangunan Terusan Kra dengan kerangka joint venture.

Banyak Negara-negara di dunia berkepentingan dengan terwujudnya program ini. Kelompok kerja telah dibentuk oleh beberapa perusahaan konstruksi dari China dan Negara-negara lain. Sebagaimana kita tau bahwa Selat Malaka merupakan pintu gerbang menuju ke Samudera Hindia dari kawasan Asia-Pasifik. Hal itu memungkinkan transportasi yang strategis dengan pelayaran pengangkut logistik, minyak mentah dan sumber daya lainnya untuk beberapa pelabuhan di Asia Timur. Jika Terusan Kra terwujud, maka akan menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perekonomian di Asia khususnya pelayaran Internasional. Mungkin belum banyak orang tau apa itu Terusan Kra? Terusan Kra adalah rencana pembuatan saluran air buatan yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2025. Terusan Kra menghubungkan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, tepatnya antara Laut Andaman dan Laut China Selatan. Terusan Kra mempunyai panjang 102 Km yang melintasi Tanah Genting Kra.

Kelak jika megaproyek ini selesai pembangunannya, kapal- kapal tak perlu lagi melewati Singapura dan Malaysia di Selat Malaka sehingga dapat memotong jarak sekitar 102 Km dan memangkas waktu tempuh 2 hingga 3 hari serta dapat menghemat bahan bakar sekitar 350 ribu dollar AS.
Bukan tanpa alasan China rela menginvestasikan modalnya untuk Terusan Kra, tak lain untuk China berupaya membangun pengaruhnya di Asia Tenggara dengan mengembangkan jalur sutera maritim yang dikenal dengan istilah one road one belt. .

Banyak orang yang mengasumsikan bagaimana dampak terusan Kra terhadap Indonesia dengan visi Poros Maritim Dunia saat ini. Tentunya kita berharap visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia lebih cepat menjadi kenyataan. Lantas apa saja pengaruhnya terusan Kra terhadap pelayaran di Selat malaka dan dampak bagi Indonesia? Mari kita analisis bersama secara komperhensif. Berikut beberapa asumsi kekhawatiran dari berbagai pihak yang concern dalam bidang kemaritiman dan geopolitik :

  1. Terusan Kra akan mengubah secara drastis perekonomian di kawasan Asia-Pasifik
  2. Perekonomian Singapura dan Malaysia diperkirakan mengalami penurunan devisa yang signifikan karena jalur pelayan internasional tidak akan lagi melewati Selat Malaka
  3. Pembangunan transshipment di tengah kanal, otomatis kegiatan ekspor-impor diperbolehkan, Khsusus untuk Thailand Selatan terdapat zona ekonomi.
  4. Berkurangnya kapal kargo yang singgah di Indonesia sehingga berdampak pada matinya industri kargo di Indonesia : Tj.Priok, Tj.Perak, Belawan, Makassar,dan lain-lain.

Jika kita lihat beberapa analisis tersebut, Indonesia harus mempunyai terobosan terbaru untuk dapat mengatasi hal ini. Terusan Kra merupakan inovasi transportasi, maka Indonesia pun harus mempunyai inovasi terbaru dalam  sistem transportasi seperti :

  1. Mengoptimalkan Sabang sebagai Pelabuhan Internasional AlamiDengan adanya pelabuhan Internasional di Sabang, maka kegiatan dwelling time atau bongkar muat barang akan lebih cepat dan tidak harus ke Tj. Priok untuk kegiatan yang sama.
  2. Pemanfaatan tol laut harus dimaksimalkanPemerintah wajib memperbaiki beberapa kendala kinerja pelabuhan seperti  WT ( Waiting Time ) yang relatif lama, antara 25-50 jam ( Masih terendah di ASEAN).

Dari kedua inovasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Program Tol Laut yang diterapkan Pemerintah sudah cukup baik, hanya saja tindakan atau eksekusi dari stakeholder terkait yang masih belum optimal.

Oleh : Dzaki Almas Rudiyanto

sumber : liputan6.com