Hati yang Selamat (Qalbin Saliim)

Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.’ (QS asy Syu’ara[26]: 88-89)

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Maha Suci Allah Azza wa Jalla, yang telah menganugerahkan berbagai kelebihan pada diri manusia, yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk Allah lainnya di jagat raya alam semesta ini. Allah Subhaanahu wata’ala tahu persis bahwa sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, manusia akan mampu menjadi khalifah di bumi ini. Karenanya, Dia mengkaruniakan segumpal daging bernama hati (qalb), yang dengan itu manusia bisa menjadi terangkat derajat kemuliaannya di sisi Allah lebih tinggi daripada malaikat, tetapi bisa juga menjadi jatuh sejatuh-jatuhnya.

 .

Orang-orang yang akan diangkat derajat kemuliannya (bahkan) melebihi malaikat, subhanallah, mereka adalah yang berhasil memelihara, merawat, dan memperindah hatinya sehingga menjadi sehat. Sungguh teramat beruntung siapa saja yang memiliki qalbunsahih iniSedangkan orang-orang yang akan tergelincir jatuh derajat kemuliannya ke dalam jurang kehinaan sedalam-dalamnya, merekalah orang yang membiarkan hatinya kotor membusuk tak terawat. Merekalah adalah orang-orang yang memiliki qalbun maridh, bahkan qalbun mayyit. Sungguh celaka siapa pun yang memiliki hati semacam ini. Na’udzubillaahi min dzaalik!

Barang siapa memiliki hati yang sehat, pada dasarnya ia memiliki hati yang selamat. Barangsiapa memiliki hati yang selamat, tidak bisa tidak ia akan diselamatkan oleh Allah Subhaanahu wata’ala baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Suvhaanahu wata’ala akan menolongnya dari dahsyatnya hari kiamat justru pada saat tak ada satu pun yang mampu memberikan pertolongan.

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ۬ وَلَا بَنُونَ (٨٨) إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٍ۬ سَلِيمٍ۬ (٨٩)

Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.’ (QS asy-Syu’ara [26]:88-89)

Qalbin saliim (hati yang selamat) adalah hati yang terbebas dari jeratan memperturutkan hawa nafsu untuk menyalahi perintah Allah.  Akan terselamatkan dari segala bentuk keragu-raguan yang dapat meggelincirkannya dari kebenaran, sehingga akan selamat pula dari menghamba kepada selain-Nya (syirik) bagi pemiliknya. Dan Akan terbebas dari perbuatan menjadikan hakim selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam, sehingga, tidak bisa tidak, ia kan menjadi hamba Allah yang diridhainya-Nya.

Siapa pun yang Allah takdirkan memiliki hati yang selamat akan merasakan sekaan -akan telah meninggalkan dunia ini menuju alam akhirat. Di sana ia tinggal menetap..

Editor : HFR (FPIK-UB / PSP / 2014)

Referensi : https://kajian.afahrurroji.net/hati-yang-selamat-qalbin-saliim/

Standart Ganda Netizen

Sa, beruntung sekali jika redaktur ruil.or.id mau menerima naskahku lagi, tulisan yang semrawut tak jelas pembahasanya, suka sindir kanan kiri tapi ogah kalau di kritik. Begitulah saya, hehe. Saya haturkan terimakasih jika naskah-naskah saya jarang sekali di edit kembali, terkhusus jika redaktur merevisi banyak hal yang mau di sesusaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena menurut saya. Khawatir sekali jika makna yang saya sampaikan kurang mengena di hati para pembaca, emange enek seng moco a?

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Warganet mungkin sudah tahu jika situs nikahsiri[dot]com minggu ini sedang hangat menjadi pemberitaan media-media mainstream sampai menjadi obrolan rahasia para jomblowan dan jomblowati di bilik kamar mandi. Mereka pada sibuk berdialektika tentang keabsahan nikah siri online sak piturute.

Menikah bagi penulis bukanlah sebuah ritual yang sak pena’e udele dewe, tentu proses akad (Bukan lagunya Payung Teduh, Lho) adalah titik awal si mempelai laki siap untuk menerima segala dosa yang ada pada mempelai perempuan, menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan dan tentu itu semua di lalui dengan proses yang tak mudah, di niatkan ibadah, bukan hanya ajang penyaluran libido semata.

Kelucuan itu dimulai saat dunia jagat maya di hebohkan dengan pemberitaan terciduknya pemilik akun nikah siri. Uniknya adalah, pemiliki situs mengadakan proses lelang bagi client yang mencari para perjaka dan perawan yang siap untuk mereka nikahi secara offline.

Tentu kita sudah faham jika nikah siri secara syar’i hukumya sah, dengan syarat ada penghulu, saksi dari kedua mempelai. Bedanya sama nikah sungguhan hanya tidak di akui sama Negara, termasuk pasangan tersebut tidak akan memperoleh hak-hak keperdataan. Namun belum saya temui apakah para pasangan yang dinikahi benar adanya menghadirkan saksi dari keluarga? Itu yang saya kurang tau. Dari gelagatnya seh gak mungkin persyaratan secara syra’i terpenuhi, lha wong adanya situs nikah siri mempermudah dalam menyediakan jasa penghulu, mempelai beserta saksi kok.

Lantas mengapa hal ini menjadi besar di jagat maya? Karena banyak media mainstream mengulas hal tersebut dan di perkuat sama lembaga empunya ulama bahwa situs nikah siri berkedok prostitusi online. Mungkin si pemilik situs, Aris Wahyudi, pria tambun berwajah bersih yang ditangkap Polda Metro Jaya saat masih enak ngorok   –jahat sekali kau pulisi, enak-enak tidur sampeyan tangkep; untung waktu Aris Wahyudi lagi gak anu anuan sama istrinya,-   hanya berfikir jika situs yang ia nahkodai sebagai penyalur jasa semata. Karena dia mengakui jika para mempelai sebelum masuk proses lelang di wajibkan mendaftar terlebih dahulu, termasuk melengkapi KTP, KK dan sak piturute.

Tentu saya takan membahas lebih detail bagaimana proses lelang di situs nikah siri, khawatirnya kalian mengira kalau saya pernah mengikuti proses lelang juga. Lha terus gunane nulis polemik nikah siri gae opo? Ngene iki lak kentang, Sam, tentu tidak. Saya akan menyinggung bagaimana dunia maya, utamanya dekade ini menjadi dunia kedua yang nyaman, seperti dunia bayangan yang Madara Uchiha ciptakan. Dunia baru yang kini menjadi arena perang era milineal, bebas tanpa hambatan mencerca termasuk mengirim nuklir-nuklir perdebatan di kolom komentar.

Tentu pendapat ini cenderung subjektif, bahkan cenderung menghasut. Tapi perlu pembaca ketahui, ancene niatku ngono kok. Agar pembaca nanti membuat pendapat tandingan, agar kalian tahu juga betapa aktifitas menulis esai semacam ini tak semudah nuklir-nuklir yang sering kita kirimkan di kolom komentar jagad dunia maya.

Sejak zaman Joko Widodo (mungkin) presiden kebanggan sungai kali metro. Pertelevisian kita mulai memproduksi hoax yang se hoax hoaxnya. Sebagai pemirsa yang tak pintar pintar amat seperti kita terkadang merasa jenuh dengan produksi-produksi berita yang setiap hari kita baca dan dengar. Bayangkan saja, tindakan-tindakan merasa paling benar dan paling suci, kafir mengkafirkan menjadi konsumsi kita setiap hari.

Saya sangat setuju saat Kominfo memblokir situs-situs yang katanya radikal, menghasut, berbau pornografi dan suka mengkafir-kafirkan . Namun kesukaanku tadi menjadi hal ganjil saat pemerintah tak pernah dengan rinci menjelaskan apa yang dimaksut sebagai radikal. Tentu hal ini saya sependapat dengan Sam Wisnu, kalau sebagai warga Negara yang baik kudu tahu dulu apa arti radikal. Hanya dengan modal kamus KBBI gratisan di playstore kita dapat faham apa arti radikal. KBBI menerjemahkan radikal sebagai 1. Secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); 2. Amat keras menuntut perubahan; 3. Maju dalam berfikir atau bertindak.  Kapok Kon. Tiga definisi di atas ada yang mewakili kebijakan Kominfo dalam memblokir situs-situs yang katanya radikal? Koyoe gak seh.

Padahal kalau itu di anggap radikal, pengenku malah pemerintah blokir saja TV One, Metro, Kompas, Tempo, Instagram, Facebook bahkan Google sekalian. Kita ganti saja itu semua dengan media baru kita, ruil.co.id si kecil dengan pemilik jargon #MimpimuDimulaiDariSekarang guduk mene opo minggu ngarep, Rek. Pemerintah hanya bermodal Permen 19 Tahun 2014 tentang penanganan situs bermuatan negatif yang di buat di era Pak Sembiring. Konon, ada ratusan situs yang diblokir, tapi mboh situs apa aja.

Enek seng lucu, masih tentang pemblokiran. Sekarang ramai dengan Perpu Ormas. Khusus pembubaran ormas, akan saya ulas di tulisan saya selanjutnya yang tak tahu kapan akan selesai, karena belum mendalami dan riset lebih lanjut, atau sekedar respodensi dengan Kak Anisa El Kamelia yang sepengetahuanku simpatisan HTI. Saya sebagai masyarakat dunia nyata dan dan dunia maya kadang berfikir apakah kebijakan pemblokiran situs-situs yang saya bahas di atas di tambah lagi dengan Perpu Ormas adalah interpretasi dari program Pak Joko? Revolusi mental yang kepontal-kepontal karena bingung menghadang serangan masyarakat dunia maya dan nawa citanya yang kita tahu sendiri tinggal cita-cita saja, apa ini yang bapak maksut.

Yah, itu kan keputusan politik. Jadi ya kita sebagai warga Negara kudu nerimo ing pandum, Beh. Kalau situs dan ormas itu meresahkan pemerintah ya sah-sah saja kalau di blokir, dibekukan bahkan dibubarken. Saya kok ngira kalau Pak Joko saat mahasiswa suka baca buku karangan Machiaveli.

Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau sikap politik menjadi sebagian sikap nurani. Sederhanya begini, banyak situs atau ormas yang secara terang benderang mencerca Pak Joko, tentu pak Kominfo gak rela dong kalau Pak Bosnya di perlakukan sehina itu. Singkat cerita, tak blokir situsmu. Aku bubarke Ormasmu, hayo kapok gak.

Bahkan temanku sendiri mantan Sekjen saja berani tweetwar sama Bu Susi Pudji Astuti, bagiku alasanya ya karena dia di lembaga berbeda sama Tante Susi. Ada juga kawanku yang bercerita bahwa senior tersebut sangat baik dan seterusya, bagiku alesanya ya warung makan yang sekarang ia punya ada beberapa ratus juta aliran dana dari senior tersebut. Atau yang sekarang saya sedang amati, juniorku membela tak sampai mati-matian HTI, alesanya apa tunggu saja tulisan saya berikutnya.

Ya, semua itu pilihan politis. Karena bagiku keputusan politis adalah bagian dari secercah keputusan nurani. Bagiku, Rek.

Sebagai penutup tulisan. Anggap saja inti dari tulisan ini adalah standart ganda. Karena perlu kita sadari betul bahwa standart ganda ada di sekitar kita, berdekatan dengan kita, bahkan tidak jauh dari batang leher kita. Standart ganda itu memusingkan dan memuakan, aku est pernah ngalami: selama masalah itu menyangkut teman, kelompok, ormas, senior dan sak piturute, sumpah bakalan saya bela sampai mati matian. Kalau menyangkut orang lain, ngapain kudu saya bela? Ya itu definisi standart ganda.

Lha terus sampeyan bela siapa, Sam? Tentu saya bela Bos Gw, Khofifah Indar Parawansa. Kan sekarang kerjoanku dari beliau. Piye, est faham standart ganda a, Bro?

 

Penulis : Ali Ahsan/Sosek/2011

*penulis bisa di hubungi via WhatsApp : 081-333-667-167

 

 Kisah Tauladan Sahabat Nabi

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Banyak sekali kisah tauladan pada zaman Rasullah dan sahabat nabi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk menambah keimanan kita semua salah satunya Kisah tauladan sahabat nabi yang bernama zahid ra. Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.
“Wahai saudaraku Zahid, selama ini engkau sendiri saja,” Rasulullah SAW menyapa.

“Allah bersamaku ya Rasulullah,” kata Zahid.
“Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah,” kata Rasulullah SAW.
Zahid menjawab, “Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?”
” Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!” kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawah ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

“Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku.”
Said menjawab, “Adalah suatu kehormatan buatku.”
Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, “Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?”
Zahid menjawab, “Apakah engkau pernah melihat aku berbohong.”
Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, “Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini. bukankah lebih disuruh masuk?”

“Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya,” kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, “Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah..!” dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, “Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak.”

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?”

Akhirnya Said berkata, “Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah.”
Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini.

Karena ingat firman Allah dalam Al-Quran surat 24 : 51. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)”

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

“Bagaimana Zahid?”
“Alhamdulillah diterima ya rasul,” jawab Zahid.
“Sudah ada persiapan?”
Zahid menundukkan kepala sambil berkata, “Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, “Ada apa ini?”
Sahabat menjawab, “Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?”.

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, “Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus.”
Para sahabat menasehatinya, “Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?”
Zahid menjawab dengan tegas, “Itu tidak mungkin!”

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah. Rasulullah berkata, “Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah.”

Lalu Rasulullah membacakan Al-Quran surat 3 : 169-170 dan 2:154). Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS 3: 169-170).

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfah pun berkata, “Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat.”

 

LET JUSTICE BE DONE THOUGH THE HEAVENS FALL

Sungguh kata-kata yang indah…
RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Berasal dari ucapan Lucius Calpurnius Piso Caesoninus pada pidatonya di tahun 43 SM , yaitu “Fiat justitia ruat caelum”. Dalam sejarah Ilmu Hukum “Fiat justitia ruat caelum” berarti “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh”. Kalimat tersebut sebenarnya punya sejarah kelam. Kalau ingin tahu ceritanya, bisa baca naskah drama Seneca yang berjudul “Piso’s Justice”, pada bagian sub judul “De Ira” (kemarahan). Inti ceritanya Piso dengan kalimat “Tegakkan Keadilan Meski Langit Runtuh” telah secara kejam menghukum mati tiga orang serdadu Romawi yang tidak seharusnya dihukum.
Dalam ilmu hukum, jargon ini pada akhirnya menunjukkan ironi pada hukum, karena akhirnya Hukum tak selalu identik dengan Keadilan. Dalam perkembangannya, ungkapan Piso tersebut dijadikan falsafah bagi para tiran guna melakukan kesewenang-wenangan asalkan ‘hukumnya telah ditetapkan’. Jadi makna ungkapan “Fiat justitia ruat caelum” menurut Piso adalah apapun yang terjadi, suatu keputusan hukum tetap harus dilaksanakan. Tak peduli apakah hukum tersebut benar atau salah, karena yang dinamakan keadilan adalah apa yang telah diputuskan oleh Penguasa melalui persidangan.
 .
Persidangan-persidangan korup dengan pertimbangan materil di atas nurani, membela mereka yang bayar. Persidangan dengan dasar hukum cacat kreasi makhluk sok sempurna. Hingga akhirnya langit runtuh dan Tuhan sendiri lah yang menegakkan hukum dan mendefinisikan keadilan. Justice can’t be done unless the heavens fall.
 .
Keadilan Tuhan identik dengan Surga dan Neraka. Kepercayaan yang tersebar luas mengatakan bahwa yang berlaku baik selama hidupnya akan merasakan kenikmatan di Surga yang ‘tidak pernah terlihat dan terdengarkan oleh siapa pun, bahkan tak pernah terbetik dalam benak siapa pun’. Sementara yang berlaku keji selama hidupnya akan disiksa dengan azab yang pedih. Namun, keadilan macam itu pun dikritisi. Dilihat dari sisi lain, Surga bisa menjadi siksaan apabila sekadar dianggap sebagai pemuasan hasrat dan Neraka menjadi nikmat ketika dimengerti fungsinya sebagai proses pemurnian. Itulah sejatinya makna azab dalam akar kata bahasa Arab. Azab bukanlah siksaan, tapi proses pemurnian kembali. Seperti halnya emas dalam proses pemurnian.
 .
Memang manusia munafik dan tidak pernah puas.
 .
Penulis : Naufal Arif
Referensi: Tejo, Sujiwo dan M.N. Kamba. 2016. Tuhan Maha Asyik.

MISTERI MASJID JIN DI MALANG, JAWA TIMUR

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Masjid jin atau yang biasa di sebut masjid tiban yang ada di Malang sempat mengundang kaget warga Negara Indonesia bahkan warga Negara asing (WNA) turut penasaran dengan masjid tersebut. Dengan bangunan yang sangat megah muncul di tahun 1978 diperkirakan menghabiskan 800 Miliar tanpa meminta sumbangan sepersenpun dari siapa saja.

Lokasi Masjid itu tepatnya berada di RT 27/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen. Dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi mobil ataupun motor, tapi jangan lupa untuk selalu Tanya kepada penduduk sekitar agar tidak tersesat dijalan.

Loh kok bisa sih di sebut masjid jin? Padahal kan masjid itu tempat suci umat muslim.. Apa yang buat Jin? Tidak.

Masjid ini didirikan langsung oleh pemilik yang sekaligus pengasuh pondok pesantren yaitu KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam, sering disebut dengan Romo Kyai Ahmad. Rintisan pembangunan masjid dimulai tahun 1963 dan pembangunan fisik dimulai tahun 1978 dengan material seadanya. Seiring pembangunan tersebut mulai ada santri yang menetap. Para santri pun turut serta dalam pembangunan. Pembangunan dilakukan tahap demi tahap. Tahun 1992, pembangunan masjid sempat terhenti. Pada akhir 1998 kembali diteruskan dan hingga saat ini.

Ada sejumlah fakta yang menarik hingga ke luar negeri, berikut adalah Misteri Masjid Jin :

1. Masjid Jin dibangun tahun 1978

Namun hingga saat ini masjid yang memiliki arsitektur unik itu belum juga selesai. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah rampung.

2. Dibangun tanpa Gambar

Uniknya, masjid yang memiliki 10 lantai dan berdiri di lahan seluas 6,5 hektare itu dibuat tanpa ada gambar rancangan atau desain.

3. Desainnya berdasar mata batin Kiai

Desain bangunan tempat ibadah itu dibangun hanya semata-mata dengan mengandalkan mata batin melalui shalat Istikharah.

4. Memiliki ruang bawah tanah untuk beribadah

Ruangan bawah tanah dulunya masih ada stalaktit stalakmit yang sudah direnovasi untuk berwudhu sebelum menjalankan ibadah sholat bagi umat muslim.

5. Memiliki Ratusan Menara

Dari penampakannya ”Masjid Jin” memiliki  ratusan menara. Tinggi menara itu kabarnya tidak sama.

6. Berada di Komplek Pesantren Salafiah

Jika melihat dari papan nama yang terpampang di pintu masuk ”Masjid Jin”, jelas tertulis: Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah.

7. Tidak semua Ruangan Dibuka

Jadi, setiap pengunjung bisa menyaksikan setiap ruangan yang ada. Namun, tak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung.

8. Ratusan Ruangan dalam 10 Lantai

Untuk menghitung jumlah ruangan di setiap lantai, tim juga sempat kesulitan. Selama tiga jam lebih, beberapa anggota tim disebar untuk secara khusus menghitung jumlah ruangan mulai dari lantai 1 hingga 10. Ada yang mencatat 173 ruangan ada juga 184.

9. Konstruksinya Serampangan

ada kesan kuat yang langsung tebersit. Yakni, konstruksi bangunannya terkesan tidak tertata dan sekilas agak serampangan.

10. Dominasi ornamen berwarna Biru dan Putih

Meski tak beraturan, anehnya, tetap menyenangkan jika dipandang. Salah satu sebabnya, di setiap ruangan kaya akan hiasan ornamen biru dan putih. Corak hiasannya pun seperti tidak lazim. Namun, lagi-lagi tetap menyenangkan jika dilihat.

11. Jadi tempat tinggal Kiai Sepuh

Ruangan di lantai I kebanyakan masih berupa bangunan kuno. Di lantai ini, terdapat kamar yang dulu ditinggali oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam. Dia adalah pendiri Ponpes Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah (selanjutnya disebut Bihaaru) yang wafat pada 2010.

12. Telan biaya Rp 800 Miliar

Angka itu dihasilkan dari penghitungan harga lahan dan bangunan. Berdasarkan data di kepala Desa Sananrejo dan camat Turen, harga tanah di area ”Masjid Jin” berkisar Rp 400 ribu per meter persegi.

Karena lahan tersebut seluas 6,5 hektare, berarti uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp 26 miliar (400.000 x 65.000 meter persegi).

Sementara itu, untuk biaya pembangunannya, diasumsikan Rp 2 juta per meter persegi. Dari lahan 6,5 hektare tersebut, sekitar 4 hektare sudah terisi bangunan.

Dengan demikian, bangunan satu lantai menghabiskan dana Rp 80 miliar (2.000.000 x 40.000). Karena ada 10 lantai, berarti total dana yang dikeluarkan sekitar Rp 800 miliar (80 miliar x 10 ).

13. Tidak pernah minta Sumbangan

Pengasuh Ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah KH Ahmad Hasan menyatakan, pihaknya tidak pernah menghitung jumlah dana yang dikeluarkan.

Jadi, dari mana dananya? Abah Hasan, panggilan akrab KH Ahmad Hasan, menjelaskan, ada beberapa sumber dana pembangunan. Selain uang pribadi Kiai Ahmad, juga ada sumbangan santri dan donatur.

”Kami tidak pernah meminta sumbangan. Tapi, kalau ada yang menyumbang, ya tidak apa-apa,” kata Abah Hasan.

 

Selain itu.. sekarang anda bisa berbelanja disana karena ada pasar di dalam masjid, tapi jangan diwaktu dzuhur ya karena ketika adzan terdengan semua toko di pasar tutup sementara dan dibuka kembali setelah sholat dzuhur.

Saya sarankan membawa sandal untuk akses kesana karena itu adalah tempat suci maka ada bagian dimana kita harus melepas alas kaki kita.

 

Penulis : Harits Faisal Rahman

Sumber :  http://www.ponpesbibaafadlrah.or.id/?s=masjid+jin

KEMANUNGGALAN KUNCI PEMBANGUNAN BANGSA

RUMAH ILMU BRAWIJAYA, MALANG – Menurut hasil data pelacakan pulau yang telah di verifikasi oleh PBB, Indonesia terdiri dari 14.366 pulai besar dan kecil yang menjadi gugusan kepulauan Nusantara. Dengan status yang disandang yakni negara dengan kepemilikan pulau terbanyak se-Dunia, tentunya negari ini bukanlah negara yang kecil. Selain mempunyai pulau yang banyak, Indonesia juga ditempatkan di urutan ke 3 sebagai negara dengan kepadatan penduduk terbanyak. Tak berhenti hanya dengan status itu saja, Indonesia juga terkenal sebagai negara dengan sejuta kebudayaan berasal dari banyaknya suku yang ada di Indonesia.

Segala sesuatu yang berjumlah banyak, barang tentu akan menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana cara pengelolaan itu semua ? Inilah yang sekarang kita lihat sebagai akar masalah yang dihadapi oleh negara kita. Contoh nyata yang terjadi dan menjadi buah bibir secara bombastis ketika salah satu dari calon gubernur Jakarta secara tidak sengaja melakukan pelecehan terhadap ayat suci Al – Qur’an yakni dikenal dengan tragedi “Al – Maidah 51”. Yang juga menjadi kebetulan adalah dia berasal dari salah satu etnik yang menghuni bumi nusantara ini sujah sejak beratus tahun lalu yaitu etnik Tionghoa. Karena hal itulah Indonesia mulai dilanda suasana panas isu perpecahan etnik dan agama.

Perpecahan demi perpecahanpun terjadi. Hingga kapan negreri yang kaya ini mengalami hal seperti ini ? Apakah tanah air ini akan dibiarkan saja hingga bernasib sama dengan apa yang dialami di Rakhine State, Myanmar ? Tidak sepatutnya itu terjadi kepada negeri yang kaya ini. Dari tulisan ini mari kita tengok ke belakang seberapa berjasanya etnik yang dikambing hitamkan negri ini hari ini, yakni etnik Tionghoa.

Masih ingat dengan Muhammad Cheng Hoo ? Mungkin sebagian orang Semarang mengenalnya dengan julukan Sam Po Kong. Dialah yang menjadi ikon dari masjid bergaya seni khas China ini. Cheng Hoo lah salah seorang yang berjasa menyebarkan agama Islam di Tanah ini. Selain Cheng Hoo, mungkin masih sedikit yang mengetahui bahwasannya Raden Patah pendiri kerajaan Demak pertama kali adalah anak dari Prabu Brawijaya V yang menikah dengan salah seorang putri yang sangat cantik dan berasal dari China. Mungkin bisa dibayangkan jika tidak ada hubungan pernikahan antara Prabu Brawijaya V dengan Putri dari China tersebut tidak akan sebesar sekarang agama Islam di Indonesia.

Mari kita lihat lebih dekat, pada saat belanda menjajah Bumi Pertiwi ini. Bersatunya antara etnik Tionghoa dengan Etnik Jawa pada era kebangkitan bangsa ini dibawah pimpinan salah satu tokoh yang mendapat julukan “Raja Jawa Tanpa Mahkota” yakni H.O.S Tjokroaminoto. Jika 2 etnik ini tak bersatu, semakin senang dan leluasalah kompeni kompeni belanda untuk menjajah negeri ini.

Selain itu ada juga salah satu tokoh pahlawan Nasional berasal dari etnik Tionghoa yang berjasa dalam bidang penyelundupan senjata dari luar negeri untuk perjuangan bangsa didalam negeri. Dialah Laksamana Muda TNI Jahja Daniel Dharma atau dikenal sebagai John Lie. Karena skillnya yang luar biasa dalam penyelundupan senjata melalui jalur laut dia dijuluki “Hantu Selat Malaka”. Banyak sekali peristiwa yang ia lewati bersama kapal yang dipimpinnya yaitu “The Outlaw”. Sosok Hantu Selat Malaka ini sampai kapanpun tidak akan pernah lepas dari The Outlaw. John Lie wafat pada tanggal 27 Agustus 1988 dan dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana pada 9 November 2009. Nama John Lie, pada awal Januari 2017 diabadikan sebagai nama Kapal Perang Indonesia, KRI John Lie.

Diatas beberapa bukti bahwasannya etnik tidak ada pengaruhnya terhadap perkembangan bangsa ini. Yang menjadi pengaruh adalah ketika etnik etnik ini tidak bersatu membangun bangsa dengan asas kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Pancasila. Jadi sangatlah jelas bahwa pulau, masyarakat, etnik, dan agama adalah satu kesatuan entitas yang tak terpisahkan. Kemanunggalan entitas inilah landasan kemakmuran bangsa.

 

Penjelasan mengenai John Lie dikutip dari Line Today

Penulis : Kresna Arga Dinata